Sakit adalah salah satu hal yg akan kita temui selama kita hidup di dunia. Saya yakin sebagian besar dari anda akan setuju jika sakit dikatakan sebagai hal yg menyebalkan. Namun, bagi kaum muslim, sakit bisa menjadi nikmat jika kita tahu apa makna yg terkandung di dalamnya serta ikhlas mengalaminya. :-)

Dampak dari sakit yg diderita, kita tentu akan berhubungan dengan dokter. Hmmm...sebenarnya tidak hanya sakit, para perempuan yg sedang hamil pun akan sedikit banyak akan berinteraksi dg dokter. Entah itu memeriksakan kandungan, menyampaikan keluhan-keluhan yg dialami selama hamil, atau bahkan bertanya mengenai kehidupan seks yg cocok selama proses hamil. ;-)

Nah, jika ada pertanyaan seperti yg tertera pada judul, mana yg akan anda pilih? Dokter muda atau dokter tua?

Jika kaum adam yg ditanya, tentu jawabnya dokter muda yg cantik seperti pada foto di samping2 ini! Hahaha... Well, saya tidak akan menyalahkan jawaban mereka. Wajar dan normal kok bagi pria yg punya orientasi seksual thd lawan jenis.

Kembali ke topik.

Saya sendiri seringkali tidak bisa menjawab dan menentukan pilihan yg tepat untuk pertanyaan di atas. Tiap pilihan dokter mempunyai kelebihan dan kekurangan masing2.

Dokter muda:

1. Teliti. Karena masih muda, apalagi baru lulus, saya yakin mayoritas dokter muda akan sangat teliti dalam memeriksa. Tiap faktor dia cek. Bahkan dilakukan beberapa kali, jika dirasa perlu dan dia merasa tidak puas dg hasil pemeriksaan sebelumnya. Dampak samping: waktu pemeriksaan kian lama dan biaya pemeriksaan akan meningkat.

2. Semangat tinggi. Mirip dg poin 1. Dampak samping: anda akan merasa menjadi kelinci percobaan dan obyek eksperimen si dokter. ;-)

3. Terlalu patuh pada prosedur. Para dokter muda seringkali 'terbelenggu' dg SOP dan urutan proses/prosedur. Di satu sisi, prosedur memang mesti dipenuhi karena seorang dokter bukanlah Deddy Cobuzier yg cukup mengatakan "Tatap mata saya" dan dia lalu tahu penyakit anda serta menyebutkan obat penyembuhnya. Tapi jika prosedur yg mesti dijalani terlalu panjang, alih2 dapat perawatan, si pasien bisa lebih dulu meninggal. :-(

4. Terlalu text book/kurang pengalaman. Mirip juga dg poin 3. "Kata buku sih, gejala yg dialami si pasien ini menandakan ybs sakit usus buntu. Mari kita operasi!" Usai operasi si pasien masih nyeri di bagian perut bawah. Ternyata bukan usus buntu yg diderita, tapi perutnya lapar, ahahha. Tentu saja contoh ini terlalu ekstrim dan mengada-ada. Tapi saya yakin ada dokter yg terlalu text book yg mengalami salah diagnosa.

5. Kurang sabar. Ada dokter2 muda yg (menurut saya) kurang sabar (atau terlalu bersemangat?) terutama pada saat diajak diskusi. Maunya main periksa mulu! Lah kalo sampai salah diagnosa, gimana dong dok? :p

6. Senang menghadapi tantangan. Dikarenakan belum banyak pengalaman, dokter muda akan senang sekali jika dia menemukan tantangan yg belum pernah dia temui sebelumnya. Seiring dengan suksesnya menaklukkan tantangan, maka otomatis ilmu dan jam terbang dia juga akan semakin bertambah. Plus faktor dan tingkat ketenangan juga akan meningkat.

Dokter tua pada dasarnya kebalikan dari hal2 yg dimiliki dokter muda di atas.

Tentu saja, tidak semua dokter muda dan dokter tua sama persis seperti apa yg saya gambarkan pada poin2 di atas.

Saat Wify mengandung mbak Mika, kami pernah bertemu dengan dokter2 tua (senior) yg justru membuat kami khawatir dan tidak nyaman, sehingga membuat proses pemeriksaan tidak nyaman. Bahkan batin dan mental Wify sempat tertekan karena pernyataan2nya.

Bisa dikatakan, bagi seorang perempuan yg hamil, tua atau muda seorang dokter bukan hal yg krusial. Tapi pembawaan dan ketenangan si dokter yg lebih diperlukan.

Bahkan tempat praktik (rumah sakit/klinik) serta tarif yg tinggi juga bukan jaminan bahwa si dokter layak dipilih. Saya melihat 2 faktor itu lebih kepada faktor utk memperkaya si dokter. ;-) Memang, tempat praktik yg lengkap fasilitasnya akan dibutuhkan seorang dokter utk menuaikan tugasnya yg baik. Dan tempat praktik yg lengkap fasilitasnya ya jelas tarifnya juga mahal. Jadi, seperti lingkaran setan lah! *setan lagi yg disalahkan, hahha*

Lain waktu, saya akan cerita tentang interaksi keluarga saya dengan dokter2, insya ALLOH. :-)

Gambar diambil (tanpa ijin) dari sini, sini, dan sini.

Moral story:
- menjadi dokter tidak mudah, terutama dokter yg bisa dipercaya dan disukai pasien.

- tua/muda, cantik (ganteng)/jelek bukan faktor penting bagi seorang dokter. KETENANGAN adalah hal yg dibutuhkan pasien.

- tanggung jawab dokter terhadap kondisi pasiennya sangat tinggi. herannya, ada dokter yg seringkali ngawur dan seenaknya memberikan jawaban/solusi terhadap permasalahan yg dihadapi/dialami pasien.

- sayang sekali, dokter yg satu ini tidak ada fotonya yg menggunakan baju dokter, padahal ingin saya muat fotonya di sini, xixixix... :-)