Akhirnya kesampaian juga saya menulis artikel ini setelah dipendam sekian lama di dalam otak saya. Seperti biasa, kesibukan pekerjaan adalah hal yg paling enak untuk dijadikan kambing hitam untuk semua pendingan artikel2 yg telah bercokol sekian lama dalam benak dan menari2 di sel2 kelabu saya. ;-)

Menabung. Siapa sih yg tidak mengenal kata ini?

Rasa2nya, sejak kecil kata ini sudah dicekokkan dan didoktrinkan oleh orang tua kita. Kita disuruh untuk menyisihkan dan menyimpan sebagian uang kita, entah ke dalam celengan ayam jago, celengan terbuat dari kaleng, ke rekening di bank. Orang tua jaman dulu malah menyimpan uang mereka di dalam bambu yg menjadi tiang rumah mereka. (kebayang ga sih kalo ada maling nyolong duit2 di dalam bambu itu dg merusak bambunya, maka tidak cuma duit yg hilang, bahkan rumah juga bisa ikut rubuh?heheh)

Proses menabung yg dilakukan tentu saja sesuai dengan kemampuan masing2. Namun, agar anak2 tetap semangat, maka digunakan istilah "Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit" sebagai pemicu semangat mereka untuk tetap menabung,menabung,dan terus menabung. Mengekang segala keinginan mereka untuk mencapai satu tujuan yg hendak diraih.

Biasanya orang tua mengiming-imingi bahwa kalo kita suka menabung maka kita akan menjadi kaya, sejahtera di masa dewasa kita, bisa membeli apa saja, bla bla yada yada yada. :-)

Paling fenomenal, pernah dibuat lagu khusus menabung yg dalam waktu singkat menjadi doktrin yg begitu dipaksakan (jika saya pikir sekarang). Saya selipkan video clip yg dibuat 15 tahun lalu ini sebagai pengingat betapa 'mengerikannya' doktrin menabung ini!

Well, saya sendiri menyarankan untuk STOP MENABUNG!

Sedikitnya ada 2 faktor yg membuat saya mengeluarkan pernyataan tersebut.

Pertama, di sebagian besar masyarakat kita, menabung malah menumbuhkan mental peminta-minta dan menyuburkan praktek 'mendzalimi' diri sendiri (dan bahkan keluarga mereka).

Saya pernah bertemu dg seseorang, yg saking begitu senengnya menabung dia sampai mencari-cari hal2 yg sifatnya gratisan untuk menutupi kebutuhannya. Pokoknya ogi (ogah rugi) banget lah. Semua uang yg keluar bener2 diperketat, bahkan tidak boleh ada uang yg mengalir keluar namun dia bisa menikmati apa2 yg dia inginkan tanpa sepeserpun uang keluar.

Perhitungan terhadap uang yg keluar tidak salah, namun jika TERLALU PERHITUNGAN, malah bisa mencelakakan diri kita sendiri. Alih2 mengatur pengeluaran, bisa2 kita terjebak ke dalam sifat PELIT.

Setidaknya ada 2 cerita yg terkait dg hal ini.

Ini cerita tentang seseorang yg MEMASUKKAN AMPLOP KOSONG ke dalam kotak uang yg disediakan setiap kali dia diundang ke pernikahan. Pada satu ketika, ybs mengadakan hajatan dalam rangka pernikahan anaknya. Gede2an lah, bisa dibilang begitu. Namun yaaa...tetap saja ada faktor pelit yg diselipkan dalam acaranya itu. Dan tebak, apa yg terjadi? Di akhir acara pernikahan, saat prosesi pembukaan amplop, ternyata MAYORITAS AMPLOPNYA KOSONG!

Hmmm...nampaknya cerita di atas cocok untuk dibuatkan skenarionya dan dijadikan sinetron reliji,heheh. :-) *cek memetwit yg saya buat di sini*

Cerita kedua, ini datangnya dari adik saya, dan ini BENAR2 KISAH NYATA! *sengaja ditekankan*

Alkisah, ada orang Indonesia yg pergi ke Amerika Serikat untuk bekerja. Dia punya keinginan untuk mempunyai mobil Ferari. Karena harganya tidak murah (tentu saja), maka dia benar2 mengerahkan segala upaya dalam bekerja untuk bisa mengumpulkan uang agar si mobil itu terbeli olehnya.

Yang menjadi masalah, ybs tidak mempedulikan pola makannya. Demi PENGIRITAN, ybs lebih memilih makan MIE INSTAN daripada makan makanan yg bergizi! Dan itu dilakukannya sepanjang waktu, hingga akhirnya FERARI ITU BISA DIBELI! Sayangnya, dia tidak bisa lama2 menikmati hasil jerih payahnya, karena selang beberapa waktu kemudian, ybs meninggal karena faktor buruk gizi dan penyakit akibat mengonsumsi mie instan berlebihan. :-(

See...demi mencapai tujuan, ada orang2 yg sedemikian fanatiknya menabung (baca: pelit, menurut saya) hingga mengorbankan diri dan keluarganya. :-(

Faktor kedua, ini yg paling berbahaya, INFLASI!

Menabung jelas membuat JUMLAH UANG anda BERTAMBAH BANYAK setiap saat seiring berjalannya waktu. Namun, pada saat yg bersamaan, NILAI UANG anda BERKURANG sesuai dengan tingkat inflasi yg sedang terjadi.

Baik, bagi anda yang tidak mengerti inflasi, saya berikan ilustrasi berikut.

Saya mempunyai hobi minum susu coklat dalam kemasan. Di tahun 2009, 1 liter susu kemasan ini harganya tidak lebih dari Rp 7500an. Namun di tahun sekarang, untuk kemasan dan produk yg sama, saya mesti merogoh uang hingga Rp 12 ribu lebih!

Ilustrasi lain. Di tahun 2010 lalu, uang Rp 10 ribu bisa digunakan untuk membeli 1 porsi makanan di warung Tegal di Jakarta dengan menu 1 piring nasi, 1 ayam goreng, 2 jenis sayuran, 1 potong tahu, dan 1 gelas teh tawar. Kini, dengan uang Rp 10 ribu, anda mesti rela jika si mbak 'menghilangkan' item tahu dan 1 jenis sayuran. Dengan kata lain, anda hanya bisa menikmati 1 piring nasi, 1 ayam goreng (dg ukuran yg lebih kecil), 1 jenis sayuran, dan 1 gelas teh tawar.

Yak, inflasi sangat berkaitan dengan kenaikan harga. Dengan kata lain, bisa dikatakan uang menjadi kian tidak berarti.

Lantas, apa hubungannya menabung dengan inflasi?

Begini, katakanlah anda menyisihkan uang Rp 1 juta tiap bulan sejak awal tahun 2011 ini. Di bulan Desember ini, anda berharap akan terkumpul uang sebanyak Rp 12 juta yg akan anda belanjakan membeli barang yg (di awal tahun 2011) harganya memang Rp 12 juta.

Namun, apa lacur. Di bulan Desember, harga barang tersebut naik menjadi Rp 13,2 juta. Dengan kata lain, anda mesti menambah 10% untuk bisa memperoleh barang serupa.

Katakanlah ada bunga tabungan sebesar 6-8%/tahun (yg nilainya tidak terlalu besar). Ilustrasi di atas memperlihatkan adanya inflasi sebesar 10%. Berarti anda tetep mesti nombok sebesar 2-4%.

Jadi, menurut saya, SIA-SIA anda menabung karena ternyata anda tidak memperoleh barang yg anda inginkan disebabkan anda mesti menambah sejumlah uang untuk mendapatkannya.

Lantas, apa solusinya?

Nope...bukan lantas anda bergabung dan berjualan produk MLM! :-) BERINVESTASI adalah solusi yg paling tepat!

Tentu saja, investasi yg saya maksud di sini adalah investasi yg menguntungkan, dalam artian nilai investasi anda MESTI lebih besar daripada inflasi. Jadi, katakanlah 'default' inflasi di Indonesia berkisar di angka 9%/tahun, maka anda mesti cari investasi yg return (keuntungannya) minimal 10%/tahun.

Sebagaimana saya pernah tulis artikel ttg ajakan untuk berinvestasi, anda bisa pilih tipe investasi yg sesuai. Bagi kaum muslim, tentu saja ada faktor selain menguntungkan, yakni HALAL.

So, STOP MENABUNG SEKARANG JUGA DAN BERALIHLAH KE INVESTASI!

Foto diambil dari sini, tanpa ijin. :-)

Moral story:
- menabung itu so last decade! :-)

- artikel ini mungkin ada (sedikit) perulangan dari artikel sebelumnya, tapi artikel ini adalah lanjutan dari artikel2 saya mengenai investasi

- inflasi memang s*x dan layak menjadi musuh bersama!

- tanpa disadari, inflasi adalah hal yg membuat anda miskin perlahan-lahan