Salah satu yg kami pertimbangkan menjelang kelahiran mbak Mika adalah mengenai pemberian susu. Saya dan Wify sepakat untuk (berupaya) memberikan ASI eksklusif kepada mbak Mika. Selain karena ini anak pertama, kami tidak ingin menyia-nyiakan amanah yg telah kami tunggu selama lebih dari 3 tahun.

Sayangnya, keinginan kami tidak bisa terlaksana dengan baik. Kurangnya volume ASI yg dihasilkan oleh Wify membuat kami dg berat hati menambahkan susu formula untuk dikonsumsi oleh mbak Mika.

Kami bukannya tidak berusaha menambah volume ASI. Berbagai cara sudah kami lakukan, mulai dari mengonsumsi makanan yg (lebih) bergizi, kemudian usaha Wify untuk lebih rileks, menyantap buah & sayuran, cukup tidur, minum lebih banyak, bahkan menyantap daun kathuk, yg dipercaya bisa meningkatkan produksi ASI.

Toh, itu semua tidak menunjukkan hasil yg signifikan. Wify sendiri sudah mengatur jadwal penyediaan ASI yg akan dikonsumsi oleh mbak Mika. Sedikitnya 4 botol ukuran kecil dengan ukuran sekitar 120 ml disempatkan untuk diisi dengan ASI.

Bahkan, kami sempat membeli alat pemerah ASI, baik yg manual ataupun yg elektrik, toh hasilnya tidak signifikan.

Walhasil di usia 3 bulan (menjelang 4 bulan jika tidak salah), kami pasok susu formula untuk mbak Mika. Saya masih ingat bagaimana Wify menangis karena merasa tidak bisa memberikan yg terbaik untuk anak kami. Saya sendiri berusaha menghiburnya, dg mengatakan bahwa kita sudah ikhtiar semaksimal mungkin, tapi ya memang ASI yg dihasilkan tidak mencukupi.

Mbak Mika sendiri alhamdulillah sehat wal afiat meski mengonsumsi susu campuran (ASI dan formula). Memang sempat sakit cukup parah, tapi kami tetap bersyukur bahwa kondisi mbak Mika tidak separah yg sering digembar-gemborkan orang.

Terus terang, saya kesal dan marah pada orang2 yg menganggap ortu yg memberi susu formula sebagai ortu yg tidak bertanggung jawab. Saya yakin mereka tidak merasakan betapa sulitnya menghasilkan ASI untuk konsumsi si bayi. Bahkan dengan sombong mereka mengatakan anak mereka yg full ASI lebih sehat daripada bayi yg sudah minum susu formula.

Saya justru bisa sanggah pernyataan mereka!

Kebetulan ada kenalan Wify yg bayinya lahir lebih dulu beberapa hari daripada mbak Mika. Si bayi, katakan X, mengonsumsi ASI FULL karena ibunya tidak bekerja.

Kenyataannya, kondisi si X lebih memprihatinkan daripada mbak Mika. Sering sakit2an, beratnya kurang, lalu perkembangannya jauh di bawah mbak Mika.

Hal ini sering kami diskusikan berdua, bahwa para pro ASI Eksklusif tidak perlu terlalu sombong dg keberhasilan mereka bisa memberikan ASI Eksklusif, karena pada kenyataannya ada yg telah memberikan ASI Eksklusif tapi outputnya'gagal', tidak yg seperti mereka gembar gemborkan.

So, bagi para ibu yg baru melahirkan, terutama anak pertama, tidak perlu galau dan uring2an jika tidak bisa memberikan ASI Eksklusif. Selama anda telah ikhtiar maksimal dan outputnya memang belum sesuai, ya berikan susu formula sebagai alternatif.

Jangan terlalu mengedepankan ego untuk HARUS ASI Eksklusif, tapi akhirnya si bayi yg malah menderita karena pasokan susu yg dia terima tidak memadai utk perkembangannya. :-(

Gambar diambil dari sini dan sini.

Moral story:
- ASI Eksklusif BUKAN HARGA MATI!

- Bayi yg mendapat ASI Eksklusif TIDAK SELALU sehat seperti yg digembar gemborkan. Jika pada UMUMNYA sehat, saya setuju, tapi jika terlalu mendewa-dewakan ASI Eksklusif, saya tidak setuju. HEY, kondisi tiap perempuan berbeda!

- Doktrin ASI Eksklusif yg begitu gencar justru akan membuat stres si ibu. Walhasil, ASI-nya bisa2 malah tidak keluar sama sekali. Jika begini, apa para pendoktrin berani dan mau bertanggung jawab?

- Jika memang produksi ASI tidak cukup menggembirakan, jangan sungkan untuk menambahkan susu formula demi kepentingan anak anda juga!

- Maaf jika gambar yg dipasang dirasa vulgar. Tapi jgn berpikiran jorok ya?! :-)