Gegara membaca postingan bang Aip di sini, saya menjadi tersentak dan diingatkan kembali mengenai cita-cita.

Ya, saya yakin setiap anak kecil mempunyai cita-cita. Dan anehnya (atau memang sudah sewajarnya?) setiap anak selalu mempunyai dan menyebutkan profesi yg 'wah' sebagai cita-cita mereka. Pilot, Dokter, Profesor, Presiden, anda sebut lah ribuan profesi 'wah' lainnya yg disebut dan dijadikan cita-cita oleh para bocah ingusan itu.

Saya belum pernah menemukan anak kecil yg bercita-cita menjadi tukang kebun, tukang becak, tukang sayur, dan profesi2 lain yg dianggap 'memalukan'. Padahal sebenarnya tidaklah ada profesi yg memalukan selama uang yg didapat adalah uang yg halal. Seorang dokter tidak lagi menjadi profesi yg mulia bila dia mengedepankan uang/tarif daripada menolong pasien (miskin) yg kesulitan dan kepayahan untuk membayar biaya pengobatan.

Ah, sudahlah, (kali ini) saya tidak berniat menghakimi profesi. Mari kita lanjutkan mengenai cita-cita.

Saya sejak kecil sudah dikenal tukang ngatur. Apalagi punya adik yg lumayan banyak, membuat saya seringkali berhak menempatkan diri saya sebagai pengganti orang tua saya. Dalam hal mengatur-atur adik2 saya utk berbuat ini dan itu. Dan adik2 saya, mau tidak mau, menuruti apa2 yg saya suruh, hahaha.

Namun, saat kecil saya (seperti saya sebut di atas) punya cita-cita menjadi dokter. Saya lupa alasan saya menjadikan dokter sebagai cita-cita saat kecil. Barangkali karena saya kesal dengan dokter yg selalu membuat saya menangis, terutama saat saya sakit dan mesti disuntik. Saya lupa nama dokter yg doyan nyuntik saya, yg jelas saya seringkali membuat adik2 saya merasa ngeri dg cerita suntik saya, hahah.

Toh akhirnya saya perlahan mencoret profesi dokter dari cita-cita saya. Terutama saat mulai mengenal komputer saat SD. Saat itu, saya berpikir bisa membuat program yg membantu orang banyak adalah profesi yg keren. Well, menjadi programmer adalah cita-cita saya berikutnya. Dan ini saya umumkan setiap kali keluarga kami pulang kampung ke Malang.

Masuk SMP, saya masih tergila-gila dg komputer. Banyak tugas sekolah saya kerjakan dg bantuan komputer. Di saat SMP juga saya mulai kecanduan merakit perangkat elektronika. Radio, amplifier, bla 3x berhasil saya rakit dan saya nikmati hasilnya. Meski akhirnya terdampar di tong sampah gegara terinjak atau ketimpa barang, hehehe.

Mendadak, saat SMA, saya kok CLBK dg dokter. Saya terkagum-kagum lagi dengan profesi dokter, apalagi saat tahu seorang dokter berhak 'mengobrak-abrik' bagian dalam pasien dalam sebuah operasi. Tidak heran saya menyukai acara bedah membedah, entah itu bedah kodok, kadal, burung merpati.

Dan akhirnya saya berkata tidak pada dokter, usai saya menyadari saya mempunyai kelemahan menghapal istilah2 dalam bahasa Latin. Lirik sana lirik sini, saya punya pikiran mesti masuk ITB. Dan saya begitu yakinnya bahwa saya layak masuk ITB.

Sayangnya keyakinan saya masuk ITB tidaklah semulus paha para bintang film yg suka buka2an paha. Saya mesti berjuang sebanyak 3 kali utk bisa masuk ITB. Di saat banyak teman saya yg langsung menyerah begitu 1x UMPTN dan gagal masuk ITB, saya tidak pernah menyerah. Entah kenapa saya begitu yakin bahwa saya PASTI bisa masuk ITB.

Alhamdulillah, pada usaha yg ketiga kali saya berhasil juga masuk ITB.

Lulus dari ITB mestinya saya menjadi seorang ahli fisika, tapi apa daya mesti kompromi dengan kebutuhan perut. Jadilah saya seorang programmer, profesi yg pernah saya inginkan, sebelum akhirnya 'loncat' level menjadi project manager, profesi 'tukang ngatur' yg memang sudah saya lakukan sejak kecil, hahaha.

Jadi, akhirnya saya menjalani profesi ini, profesi yg telah 'terbentuk' sejak kecil. :-)

Jika melihat ke belakang, terkadang saya berandai-andai saya menjadi seorang dokter. Barangkali saya bisa menjadi orang yg bisa lebih bermanfaat bagi lebih banyak orang. Tapi bayangan itu saya tepis, karena bisa jadi saya menjadi seorang dokter yg 'amburadul' karena selalu salah menyebutkan istilah Latin. Alih-alih bermanfaat bagi orang banyak, saya malah akan menjadi malaikat maut bagi pasien2 saya, gegara saya selalu salah melakukan diagnosa. :-D

So, alhamdulillah selalu saya panjatkan untuk profesi (cita2?) yg saya lakoni sekarang. Anda sendiri bagaimana?

Gambar diambil dari sini.

Cerita tambahan:
Dalam salah satu sesi latihan kepemimpinan yg diselenggarakan di kampus, seorang teman menceritakan pengalamannya. Semua mahasiswa dari semua jurusan di ITB berkumpul. Mereka diminta memperkenalkan diri dan menyebutkan cita-cita mereka. Mayoritas mahasiswa (seperti saya sebut di atas) mengatakan cita-cita mereka menjadi engineer di Halliburton, Schlumberger, menjadi Doktor, bla 3x. Mirip lah dg pernyataan saya di atas.

Saat mahasiswa dari FSRD memperkenalkan diri, sebenarnya tidak ada yg aneh, hingga dia menyebutkan cita-citanya. Coba anda tebak, dia bercita-cita menjadi apa? BATMAN adalah jawabannya! *cocok sekali dg gambar yg saya comot di atas* Dan ngakaklah semua orang yg hadir di situ! :-))

Hey...tidak ada yg salah kan dg punya cita-cita menjadi Batman? ;-) Setidaknya anda tidak mesti bermutasi gen dahulu atau digigit laba-laba atau malah datang dari planet Kripton untuk menjadi pahlawan super, hiihihih.

Moral story:
- cita-cita (anak kecil) janganlah dibatasi

- cita-cita selalu berkonotasi profesi yg wah

- pada akhirnya, seiring perjalanan hidup, si anak akan bisa membedakan mana cita2 yg angan dan yg realistis bagi dia

- toh saya masih salut dg anak2 yg bisa menggapai cita2 seperti artikel di bang Aip