Di awal kemunculan OVJ, saya termasuk salah satu pemirsa yg menyukai acara ini. Di samping karena materi lawakan yg dibawakan cukup menarik, berani tampil beda, cara penyampaian lawakannya pun (saat itu) menurut saya masih cukup baik dan layak tonton.

Seiring dengan kesibukan yg melanda saya, terutama sejak saya pindah kantor dan mbak Mika lahir, saya menjadi jarang menonton OVJ.

Hingga akhirnya satu waktu saya 'khilaf' menonton OVJ, sekedar membunuh kebosanan akan tayangan2 hiburan (dagelan/lawak) yg disiarkan. Namun, apa daya, saya malah menjadi terkejut dan terheran-heran melihat format OVJ ini.

Di samping lawakannya menjadi 'kasar', ada hal yg menurut saya membuat saya menjadi JIJIK dan menggolongkan OVJ SEBAGAI TAYANGAN SAMPAH. Yakni adanya ADEGAN KEKERASAN dalam penyampaian lawakan mereka. Well, memang disebutkan dan diberitahukan bahwa adegan memukul dg kursi atau benda2 apapun lainnya adalah 'bagian' dari adegan lawak dan barang2 itu dibuat dari bahan yg aman.

Tapi, APA PERLU MENGHIBUR ORANG DG MELAKUKAN TINDAKAN KEKERASAN (TERLEBIH LAGI FISIK)?

Malam ini, 'kebetulan' pak Komar Hidayat 'memicu' saya untuk berkomentar (lagi) ttg OVJ dengan kicauannya sebagai berikut:

Saat saya mengomentari pendapat pak Komar Hidayat di atas:

Usai di-RT oleh beliau, ada 2 tanggapan yg salah satunya dari seseorang yg bernama Fahmi juga ;-) Satu lagi Vandanc.

Lalu saya komentari tanggapan fahmi1223ts seperti ini dan saya mendapat 'balasan' seperti ini. Dan, maaf, saya tertawa mendapat jawaban seperti itu. So 'indonesia' banget. ;-)

Pemikiran saya simple saja. (Jaman sekarang) Siapa yg bisa melarang anak2 menonton di luar jam tayang? Lebih ekstrim lagi, siapa yg bisa melarang anak2 di bawah umur menonton film2 hantu berbau seks? Orang tua? Jangan selalu membebankan semuanya pada orang tua, meski orang tua punya kewajiban untuk mengurus, membesarkan, dan mendidik anak, mereka tidak selalu bisa mengetahui isi acara tv/film yg sedang diputar.

Saya tetap menunjuk MEDIA dan TUKANG RATING sebagai biang kerok dan pihak yg bertanggung jawab!

Dan bagi saya, komentar Vandanc lebih terasa sebagai upaya utk melegalisasi kekerasan dalam bentuk fisik dikarenakan bahannya tiruan dan (konon) spontan. Saya sampaikan hal itu.

Meminta orang tua utk mengawasi acara, seperti saya tulis di atas, adalah hal yg sangat sulit. Tidak heran, saya akhirnya memutuskan lebih memilih berlangganan tivi berbayar (apapun penyedianya, kebetulan saya memilih itu, bukan yg lain, karena faktor kecepatan proses saja) demi menyelamatkan anak saya, mbak Mika, dari tayangan2 bodoh dan barbar seperti itu.

Melucu itu boleh, bahkan menghibur dan membuat suasana menjadi lebih riang itu berpahala (menurut agama). Tapi jika dilakukan dg cara2 yg tidak mendidik, ya apa gunanya?

Setuju kan?

Moral story:
- tayangan televisi (lokal) masih banyak yg tidak mendidik

- berlangganan tivi berbayar bukan berarti isi tivi berbayar lebih baik, tapi setidaknya saya bisa memilih dan memilah tayangan yg cocok ditonton untuk anak saya

- sifat barbar bangsa Indonesia ternyata diajarkan sejak dini, dengan dalih acara yg lucu, bla bla bla..