Hari Kamis pagi, saya dan rombongan berangkat menuju Jamshedpur, untuk berkunjung ke Tata Steel. Untuk informasi, Tata Steel adalah perusahaan besi milik pemerintah India, semodel PT Krakatau Steel jika di Indonesia. Maksud dan tujuan kami berkunjung adalah untuk studi banding (tsaahh...lagaknya sudah seperti anggota DPR saja) dan melakukan tanya jawab terkait sebuah sistem.

Perjalanan dilakukan dengan menggunakan mobil. Dengan demikian, saya 'membuang' 6 tiket kereta api kelas ekonomi yg telah saya pesan. Saya bersyukur bahwa mereka lebih memilih mobil, setidaknya mereka tidak perlu mengalami kejadian buruk yg kemarin saya alami.

Dengan 2 mobil, berangkatlah kami jam 6 pagi.

Perjalanan ke Jamshedpur (sekitar 300km) ternyata menempuh waktu selama 7 (TUJUH) jam! Penyebabnya adalah si sopir yg punya prinsip ala orang Jawa, yakni alon-alon asal kelakon. Bayangkan, kami berjalan dengan kecepatan 'hanya' 60-70 km/jam saja (MAKSIMAL). Padahal kondisi jalanan cukup bagus, serta suasana jalan tidak sepadat di dalam kota. Saya sempat mengajukan diri utk menggantikan pak sopir.

"Sir, can I replace you to drive? You are very slowly, you know!" yg langsung ditolak mentah2 oleh si sopir dengan mengibaskan tangan dan menggelengkan kepala seraya berkata "No...no...!" *huh,menyebalkan sekali!*

Total pergi pulang, kami habiskan waktu 14 jam di jalanan! Dampaknya? Pantat terasa puanaasss, haha. Mestinya kami bisa tempuh 300 km itu dalam waktu maksimal 3 jam saja! Apalagi kalo saya yg bawa mobilnya, dijamin ga akan kurang dari 100km/jam, hihihi.

Saat tiba di Jamshedpur, kami menuju kantor tempat saya bekerja dahulu. Tujuannya utk menjemput staf kantor yg punya wewenang dan ijin masuk. Kunjungan wisata kerja dan studi banding sendiri bisa dibilang lancar. Kami dijelaskan cukup banyak hal, terutama yg terkait dg sistem yg dimaksud, oleh beberapa petinggi Tata Steel. Sayangnya, saya tidak sempat foto2 kondisi Tata Steel, karena memang dilarang foto2 di dalam pabrik. Mereka mencegah terjadinya pencurian data atau apapun itu namanya.

Oya, dalam perjalanan ini saya berhasil menemuka tempat makan yg yahud dan SUPER DIREKOMENDASIKAN saking uenaknya. Menu motton curry dan roti cane merupakan menu yg langsung disantap hingga tandas oleh rombongan kami.

Hari Jum'at kami berkesempatan jalan2 di kota Kolkata. Tujuan wisata yg kami kunjungi antara lain Victoria Memorial, lalu ada istana Raja Kolkata (saya lupa namanya). Kemudian saya dan rombongan sempat berbelanja beberapa pernak pernik, sebelum akhirnya saya mengantar rombongan ke bandara udara. *narsis dulu ah, jarang2 kan saya narsis,hihihi*

Pulang dari bandara, saya sempatkan diri untuk berjalan2 lebih lama di sekitaran hotel.

Pasar malam di India ini benar2 mengasyikkan lho! Kita bisa temui dan beli banyak barang murah, asal berani nawar dan MESTI TEGA utk nawar, heheeh. Saya sendiri tidak banyak membeli, terutama karena ukuran koper yg saya bawa cukup kecil. Lha wong memang tujuannya kerja, jadi saya tidak terpikir bawa koper ukuran besar.

Iseng2 saya melihat sebuah tempat cukur rambut. Hmmm...tidak ada salahnya mencoba cukur rambut di negara orang. Saya melihat tarifnya 20 rupee saja (sekitar 4 rebu). So, masuklah saya ke dalam.

Cukur rambutnya berlangsung tidak lama.

Nah, kejadian buruk saya alami lagi di tukang cukur ini. Selesai bercukur, saya ditawari (tepatnya dipaksa) utk di-facial wajah saya. Alasannya, wajah saya banyak komedonya! *haha,sialan!* Well, beberapa hari tinggal di India membuat kewaspadaan saya meningkat tajam. Saya tanya, apakah layanan facial ini gratis atau bayar? Ternyata BAYAR dan harganya cukup mahal, 400 rupee!

Langsung saya tolak! Eh, si tukang cukur tetep maksa. Dia nawarin gel lain dengan harga lebih murah, 200 rupee. Dan kembali saya tolak mentah2. Usaha saya untuk segera keluar dari tempat cukur nampaknya dihalangi si tukang cukur yg nampaknya berniat menguras kantong saya secara paksa (dan halus). Saya sendiri jelas tidak mau menjadi korban kejahatan si tukang cukur. Terlebih si tukang cukur seringkali pura2 bego dan tidak mengerti bahasa Inggris.

Upaya facial tidak berhasil, si tukang cukur menggunakan taktik lain. Dia menawarkan jasa perawatan rambut. Dengan harga tidak masuk akal yg dia tawarkan, kembali saya tolak semua tawarannya! Yg membuat saya jengkel setengah mati, adalah upaya pemaksaan yg dia lakukan. Benar2 membuat saya kesal dan nyaris membuat saya marah, meski saya tahu resiko yg akan terjadi. Tapi sebodo amat, saya pikir daripada diem2 dan manut2 saja diperas, mendingan melawan. Toh, ternyata jika mereka digertak balik (so far yg saya alami) mereka tidak berani macem2 kok.

Tahu bahwa usahanya utk memaksakan facial dan perawatan rambut tidak berhasil, si tukang cukur akhirnya menawarkan pijat kepala dan leher. Sejenak saya ragu, sempat berpikir jelek. Jangan2 pas lagi mijit leher dan kepala, tau2 dia cekik leher saya dan lalu memaksa saya menyerahkan semua duit. Pikiran seram yg liar bukan? Hahaha. Saya sendiri sampai heran kok ya bisa kepikir hal kaya gitu.

Tapi akhirnya saya berpikir baik saja. Ya sudah, saya terima saja tawarannya, sing penting bisa keluar dari situ deh. Maka saya dipijat selama 10 menitan. Lumayan juga, kepala dan leher terasa lebih nyaman, meski pikiran2 jelek masih berkelabat di benak dan pikiran saya. Terlebih si tukang cukur ngobrol dalam bahasa Hindi dg beberapa temannya dan mereka tertawa2 ga jelas begitu, seperti mengejek saya. Saya cuma bisa misuh2 dalam hati.

Selesai perawatan, saya kasih 100 rupe. Eh, ga ada kembalian! Sial! Benar2 perampokan nich! Dan si tukang cukur langsung pergi saja, seakan-akan ndak ada masalah.

Ya sudah, saya ikhlaskan saja duit segitu, daripada kasus makin panjang dan bikin saya berabe.

Keluar dari tempat cukur itu, saya merasa lega banget dan cukup menyesal 'tertipu' dg tarif 20 rupee itu. Lha kalo sampe 100 rupee, mendingan cukur di langganan saya di Bandung. Dengan 8 rebu (40 rupee) hasil cukurnya ok plus pijat yg membuat badan terasa segar. Belum lagi pelayanannya yg ramah.

Ah, sudahlah...tidak apa2. Pengalaman, hihihi.

Hari Sabtu malam, saya pulang ke Indonesia. Usai transit di Singapura selama 1 jam, akhirnya saya menginjakkan kaki saya kembali di negara saya yg tercinta ini sekitar jam 8 pagi.

Sempat dongkol karena saya tidak menemukan koper saya, usai melapor dan laporan kehilangan saya diterima mas Deka akhirnya saya putuskan pulang. Alhamdulillah, jam 3 sore koper saya ditemukan dan diantar ke rumah oleh mas Agus. Salut untuk Singapore Airlines (SQ)! Tidak salah jika Singapore Airlines (SQ) meraih penghargaan sebagai maskapai terbaik sedunia.

Moral story:
- sopir travel India (kami) super lemot saat nyetir! perjalanan 14 jam di jalan benar2 membuat kami teler berat!

- saya sempat mencicipi nasi biryani. wuiihhh...muantaaabbb!! saingan berat nasi kebuli! dari sisi rasa sebenarnya nasi kebuli dan nasi biryani itu sama, tapi nampaknya beda istilah saja. nasi kebuli adalah istilah yg digunakan orang Timur Tengah dan Pakistan, sementara nasi biryani digunakan orang India

- pemerasan terselubung nampaknya memang sudah mendarah daging di India. mulai dari sopir taksi, sopir bajay, hingga tukang cukur.

- agar tidak diperas, paling aman memang jalan2 didampingi oleh orang India asli. berhubung saya tidak punya teman orang India yg mau menemani saya jalan2, walhasil saya alami banyak kejadian yg rada2 apes, hehehe. gapapa, pengalaman yg menarik, meski saat saya alami saya lumayan deg2an sich, haha

- saya sering disangka berasal dari Cina, huahahaha. faktor wajah nich!

- kapok ah ke India, terutama ke Kolkata dan Jamshedpur. kalo ke Mombai, New Delhi, atau Bangalore, hmmm...mungkin boleh lah, karena menurut cerita beberapa teman, kondisi di (terutama) Bangalore jauh lebih baik dari yg saya alami.