Gara2 postingannya Fenty di sini, saya jadi tertarik untuk menulis artikel yg serupa tapi tak sama.

Well, sebelumnya saya pernah juga menulis artikel ttg jodoh di sini. Tapi mungkin artikel itu terlalu mengawang-awang, jadi saya pikir saya akan tulis saja pengalaman saya, jadi lebih membumi. *tsah*

Ok, berbicara tentang jodoh, saya yakin mayoritas kita sebagai orang (normal) tentu ingin tahu jodoh kita. Tentang seseorang yg akan menemani sisa hidup kita, berbagi suka dan duka, dan yg paling penting: MELENGKAPI HIDUP KITA.

Ah, masih terlalu mengawang-awang juga tulisan saya ini, hehe. Ok, saya fokuskan pada bagian melengkapi hidup kita.

Saya yakin di jaman ABG dulu (atau malah hingga sekarang? ihihihi) banyak yg mempunyai bayangan (imajinasi) tentang jodoh yg kita harapkan. Jika cowo, biasanya dia pengen jodohnya seperti bintang film, lalu kaya, bla bla bla. Pokoknya bisa dibilang ga masuk akal lah! Kalo peribahasa bilang, seperti punduk merindukan bulan.

Lalu kalo yg cewe biasanya semodel juga. Jodohnya itu mesti macho, berotot, cool, matanya tajam, bla bla bla yada yada yada. Saya yakin cewe2 ini kesengsem habis dg Hugh Jackman, jadinya sampe ngiler2 pengen punya jodoh seperti itu.

Atau malah seperti teman saya (yg suka baca blog ini juga, sorry, kamu ta' jadiin sample di artikel ini). Dia pengen istrinya nanti itu lebih tua, lalu sederet daftar keinginan yg akan dia harapkan dari si istri.

Kenyataannya, tidak sedikit (atau buanyak sekali, tentu saja buanyak ini sangat tidak ilmiah) yg merasa kaget ketika akhirnya orang yg dia nikahi (menjadi jodoh) tidak sesuai dengan harapannya. Bagaimana tidak kaget, karena ternyata perempuan yg dia nikahi ternyata tidak bisa memasak, lalu bukan dari suku/daerah yg dia harapkan, belum lagi tidak sebahenol Jessica Alba misalnya, atau rambutnya dan matanya tidak seindah Aishwarya Rai.

Sementara pihak perempuan juga kaget, kok dia bisa2nya nerima pinangan dan lamaran serta ijab kabul dari laki2 yg ternyata doyan tidur, jorok, lebih suka main gadget? Apalagi badannya ceking belum lagi masa depannya (nampaknya) tidak cerah.

Lalu, jika anda mengalami hal di atas, apa yg anda lakukan? Protes ke ALLOH SWT? "Ya ALLOH, jodohku kok ya seancur ini toh? Masa doaku ga dikabul? Aku kan pengen si Jude Law yg melamar dan ngajak nikah? Lah ini kok kaya gini? Ga rela aku ya ALLOOOHHH..."

Ah, tentu saja ilustrasi di atas itu super lebay :p Sama lebaynya dg doa (tapi ngawur) minta jodoh ini. ;-)

Mestinya si cowo dan cewe itu berpikir secara realistis dan pragmatis ttg jodoh. Dan bagi saya, melengkapi hidup adalah hal yg paling cocok dan jitu utk hal ini.

Lho, kok bisa jodoh sejelek itu bisa melengkapi hidupku? Demikian pertanyaan anda.

Saya percaya jodoh itu melengkapi hidup anda jika anda merasa NYAMAN saat dekat dengannya. Ga peduli seganteng atau secantik apa seseorang, jika dia malah membuat anda tidak nyaman (apalagi buat cewe, dia tidak merasa dilindungi), maka dia tidak bisa disebut jodoh anda.

Jangan pernah berpikir bahwa ribut selama pacaran itu berarti tanda anda berdua bukan jodoh. Marah/ribut selama pacaran justru bisa menjadi ajang utk melengkapi diri pasangan anda, selama ujung/akhir dari marah dan ribut itu justru anda berdua temukan solusinya.

Tentu saja saya tidak bilang orang yg adem ayem saat pacaran itu tidak saling melengkapi.

Saya punya kenalan, dia dan suaminya pacaran selama 11 tahun! Dan selama itu yg namanya berantem dan putus nyambung sudah tidak terhitung jumlahnya. Toh, pada akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia hingga akhirnya sang suami meninggal karena sakit.

Standar ataupun syarat itu mesti ada, tapi jangan terpaku/mematok secara kaku. Wajah ngganteng (apalagi kaya saya) atau cantik itu perlu. Tentu saja mesti yg 'masuk akal'. :p Kenapa ngganteng dan cantik itu perlu? Ya selain (insya ALLOH) akan membuat keturunan kita lebih baik (secara fisik), kita pun NYAMAN jika berjalan bersama dengannya. Bahkan dalam Islam pun disebutkan bahwa saat hendak menikah, hendaknya tahu wajah calon pasangannya. Lha wong wajah yg ngganteng/cantik juga termasuk dalam 4 syarat yg disampaikan Rasululloh SAW.

Kalo masalah kaya/ngga, ya relatif. Menurut saya, mempunyai pasangan (suami/istri) yg tidak sekaya yg diharapkan itu tidak apa2. Justru, carilah pasangan yg bisa diajak bersama-sama menjadi kaya! Bukan berarti mesti cari pasangan yg muiskiiiin buanget! Carilah pasangan yg mau diajak hidup sederhana dan seiring berjalannya waktu, bersama-sama menjadi orang yg kaya.

Jika sudah masalah keyakinan, nah saya setuju bahwa keyakinan yg sama itu memang sebaiknya jadi perhatian khusus. Keyakinan yg saya maksud bukan keyakinan bahwa "Anda yakin bahwa anda ngganteng/cantik, tapi pasangan anda ndak yakin" atau "Anda yakin pasangan anda (si Icha) cewe, tapi ternyataaaaa...." Nope bukan itu. Tapi keyakinan utk menjalankan syariat agama.

Beberapa orang boleh saja berpendapat bahwa suka2 dia dong nikah dg beda keyakinan/agama. It's ok, saya juga tidak akan memaksakan hal itu. Toh, orang2 yg hendak menikah itu sudah dewasa, bisa berpikir yg baik dan salah seperti apa, serta tahu resiko yg akan dihadapi.

Ah, jadi kepanjangan dan ngelantur ini artikel.

Sebenarnya saya cuma mau bilang set/tentukan standar jodoh anda, tapi jangan terlalu kaku. Jika anda punya standar jodoh anda bernilai 8 lalu yg datang nilainya 7, ya jangan langsung ditolak. Coba saja dulu jalani. Siapa tahu dalam perjalanan, pasangan anda berhasil anda upgrade nilainya jadi 8 atau malah jadi 9?

Foto diambil dari sini dan sini.

Moral story:
- jodoh jangan terlalu muluk2, tapi yaaa jgn yg downgrade lah :p

- teman saya punya quote yg 'mengerikan'. "Lahir dari keluarga miskin itu nasib, tapi kalo ga bisa milih suami yg kaya itu berarti bego"

- (konon) jodoh juga tergantung posisi ;-)

- anda beda agama dan ingin nikah? coba baca dulu artikel ini.

- oya, temen saya yg ingin istrinya lebih tua itu lantas bagaimana nasibnya? ah, itu rahasia...yg jelas saya suka dg kehidupan (bahagia) yg dia jalani sekarang