Sudah sekitar 2 bulan terakhir ini, saya dan Wify banyak diskusi mengenai rencana membesarkan mbak Mika, terutama utk hiburannya. Sejak usia 3 bulan, mbak Mika sudah mulai diperkenalkan dengan hiburan. Mulai dari musik, lalu video2 rekaman saya tentang masa kecil dia. Nah, sejak 2011 ini, interaksi mbak Mika dengan hiburan kian luas, terutama karena dia sudah mulai bisa mengenali dan mencontoh apa2 yg dia lihat dan dia dengar.

Terkait dg hal itu, saya dan Wify merasa sangat khawatir dengan tayangan yg ada di saluran televisi lokal. Selain Sponge Bob, Ipin dan Upin, saya merasa acara anak2 lain tidak cocok utk mbak Mika.

Akhirnya, setelah diskusi dan menimbang2, saya memutuskan untuk berlangganan televisi berbayar.

Ada sekian banyak televisi berbayar di Indonesia, namun usai berburu informasi di beberapa teman, termasuk di kaskus, saya memutuskan berlangganan Indovision, Bukan yg lain *halah, kemakan iklan banget,hihihi*

Sebenarnya saya tertarik utk berlangganan First Media. Namun ternyata persyaratannya ribet. Selain itu, saat saya tanya kapan saya bisa mendapat konfirmasi balik, si CS tidak bisa memberikan kepastian.

Keputusan berlangganan Indovision saya lakukan usai mendapat informasi di kaskus. Segera saya kontak seorang PIC, katakan seseorang berinisial K, dan bereskan segala persyaratan yg dibutuhkan.

Namun ternyata, saya mengalami kendala dan masalah dalam mendaftar Indovision. Saat saya konfirmasi ke CS Indovision, saya diterima oleh perempuan S. Sebenarnya saya hendak konfirmasi, apakah permohonan saya sudah diproses. Namun ternyata si S ini malah berusaha mendaftarkan saya atas rekomendasi dia.

Wah, saya melihat ada ketidakberesan di sini. Lha wong saya hanya bermaksud konfirmasi, kenapa tiba2 saya disuruh memutuskan pengajuan saya ke si K dan mesti mengajukan (ulang) dg rekomendasi si S?

Akhirnya saya katakan tidak ke S, meski Wify menjadi korban, ditelp berulangkali oleh (kemungkinan) si S yg tidak ingin kehilangan 'downline'.

Untungnya, K akhirnya mengontak saya lagi dan dalam waktu 2 hari alhamdulillah, terpasang sudah Indovision di rumah kami :-)

Mbak Mika nampaknya senang sekali dengan acara2 yg ada. Saya sendiri melihat acara2 anak produksi luar negeri memang digarap cukup serius, sehingga si anak punya ingatan yg kuat ttg tokoh2nya.

Perubahan menonton Sponge Bob dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris nampaknya cukup berpengaruh, meski saya harap ini untuk sementara. Setidaknya mbak Mika bisa menyesuaikan diri utk mendengar bahasa Inggris dalam percakapan/dialog.

Saya dan Wify sendiri jadi makin malas utk keluar rumah, terutama utk ke bioskop. Selain karena tidak ada film2 baru yg diputar di bioskop, karena kasus pajak sehingga terjadi boikot impor film (baru), saluran2 Indovision sudah menyediakan cukup banyak acara hiburan walau kami sudah tonton beberapa di antaranya. Well, setidaknya cukup lumayan lah, daripada ga ada sama sekali.

Sebenarnya saya ingin membandingkan acara2 di Indovision dg tv berbayar lain, tapi sudahlah, saya pikir acara2 di Indovision sudah cukup memadai, setidaknya utk saat ini. Jika mbak Mika sudah lebih besar lagi (dan kemampuannya sudah meningkat lagi) barulah saya mesti tinjau ulang.

Moral story:
- tayangan2 lokal relatif banyak yg tidak mendidik, sementara tidak ada tindak lanjut (campur tangan) dari pemerintah

- sebelum memutuskan untuk berlanggan televisi berbayar, coba lakukan perbandingan dahulu. yg patut diperhatikan adalah tanggapan customer servicenya. cari CS yg bersahabat dan mau membantu!

- Indovision nampaknya menerapkan member get member (atau sejenisnya) utk staf-nya. barangkali stafnya akan dapat insentif, serta metode yg cukup efektif. namun, ada sisi buruknya juga *silakan baca lagi cerita saya di atas*

- mengingat cukup banyak film2 menarik yg ditayangkan, saya rasa iuran Rp 150 ribu - Rp 250 ribu/bulan bisa dibilang cukup murah

- untunglah, usai saya memasang Indovision di rumah, Wify dan mbak Mika ga sampe nangis2 kaya di iklan (lebay) Indovision, hihihihi...