Sejak usia mbak Mika 5 bulan, saya dan Wify kian intensif mengajarkan kata-kata kepadanya. Tentu saja kata-kata yg diajarkan adalah kata-kata yg sederhana, seperti Pibi, Bubi, ALLOH, Nenek, Kakek, Uti, Atuk, dan terutama kata-kata yg akrab dengannya seperti minum susu, mandi, buang air, pup, dan sebagainya.

Saya dan Wify sudah sepakat untuk mengajarkan mbak Mika cara bertutur kata sebaik mungkin.

Pada umumnya, pasangan ortu (dan lingkungannya) terbawa dg paradigma/stigma bahwa anak bayi mesti diajarkan bahasa/kata yg 'enak' di lidah si bayi. Seperti cucu, mimik, dan kata2 lain, yg menurut saya justru akan mengebiri kemampuan si anak (nantinya).

Saya dan Wify tidak ingin mbak Mika mengikuti trendsetter seperti itu. Maka, kata2 yg benar selalu kami ajarkan. Masalah mbak Mika belum bisa mengikuti sehingga suara/ucapan yg keluar belum sama persis, tidak apa2. Tapi JANGAN MENGAJARKAN HAL YG 'SALAH' kepada anak, terlebih mereka sedang golden age, mudah sekali mengingat dan merekam apa2 yg mereka terima.

Hal lain yg paling saya tentang adalah penggunaan kata ganti utk buang air. Saya masih ingat ada istilah 'nyanyi' untuk pengganti buang air kecil. Pipis, menurut saya, masih cukup toleran. Sementara jika boker, ah, itu terlalu vulgar, heheeh.

Bagi yg sudah punya anak, bagaimana anda mengajari anak anda berbicara?

Gambar dari sini.

Moral story:
- anak kecil, terutama di bawah 5 tahun, termasuk ke dalam golden age, mudah sekali merekam dan mengingat apa2 yg mereka terima (lihat/dengar)

- hati2 mengajarkan sesuatu kepada anak!

- jangan mengajarkan hal2 yg salah! lha wong mengajarkan hal2 yg baik saja seringkali menjadi salah, apalagi jika salah yg diajarkan, bakal makin salah!