Kali ini saya hendak bercerita mengenai perjalanan saya menuju Kalkota, usai urusan saya di Jamshedpur selesai.

Kereta api di India bisa dibilang memprihatinkan sekali kondisinya. Jika dibandingkan dg kondisi di Indonesia, maka kereta api yg saya naiki ini sekelas dg kereta api kelas ekonomi jurusan Bandung-Kediri. Atau yaa mirip dg kelas ekonomi dalam kota Jakarta yg seringkali kita lihat para penumpangnya sampai rela duduk di atas atap.

'Menyedihkan'nya, kereta ini akan saya naiki dan nikmati selama 3-4 jam ke depan.

Sebenarnya kondisi keretanya sama dengan kereta dari Kolkata-Jamshedpur yg lalu. Tapi kondisi yg sekarang, menurut pengamatan saya, jauh lebih buruk.

Usai saya dapatkan tempat duduk (yg juga memprihatinkan karena kondisinya sudah SUPER KOTOR), saya dapati 3-4 kursi di depan saya ada orang ribut. Ada sekitar 5 orang 'mengeroyok' 1 orang (katakanlah si A). Si A dimarah2i dan meski sudah bersusah payah melawan dg tidak kalah membentak, toh si A tetap tidak berkutik.

Saya perhatikan sekilas, nampaknya mereka ribut mengenai tempat duduk.

Ok, jadi ada 1 hal unik di India mengenai tempat duduk di kereta api. Pada saat kereta api baru datang dan hendak berhenti, orang2 berlomba mendekati jendela kereta api. Saya perhatikan mereka membawa koran, sapu tangan, dan benda2 lain yg tidak begitu saya ingat. Ada apa gerangan? Ternyata begitu mereka berhasil mendekati jendela, mereka segera menyimpan barang2 mereka di kursi yg mereka incar. Ooo...jadi begitu cara 'pemesanan' alias booking tempat versi India.

Hal ini wajar, karena tiket kereta (ekonomi) yg dipesan tidak mencantumkan tempat duduk, sehingga mereka bebas duduk di mana saja.

Nah, kembali ke si A. Jika melihat perilaku booking dan gelagat mereka marah2 ke si A, rupanya orang2 itu (yg nampaknya 1 kelompok) tidak menerima kehadiran si A. Dan mereka ingin mengusir dari deretan kursi yg telah mereka booking.

Saat terheran-heran dg keributan yg ada, saya lihat ada seorang bapak yg sudah beruban melambai-lambaikan tangannya ke arah saya. Semula saya tidak mengerti, hingga akhirnya saya sadar bahwa bapak itu yg tadi saya temui dan ajak bicara (walau sebentar) saat di stasiun kereta api.

Nampaknya si bapak mengerti bahwa saya orang asing dan agak2 bingung dg kondisi kereta api, jadi dia memanggil saya.

Terus terang, saya tidak menaruh pikiran buruk, karena penampilan si bapak ini semodel dosen kalo di Indonesia. Well, minimal kaya dosen di ITB lah, hehe. So, saya mendekati dia.

Hiks...ternyata dia hendak memberitahu ada kursi yg lebih layak utk saya tempati daripada kursi saya sebelumnya. Saya ucapkan terima kasih kepada si bapak dan lalu duduk (dg lebih nyaman) di kursi baru.

Saya perhatikan, ternyata gerbong sebelumnya lebih kumuh daripada gerbong sekarang.

Dan mirip dengan perjalanan sebelumnya, banyak penjual makanan dan minuman yg lalu lalang. Terus terang, saya masih tidak terbiasa melihat cara penjualnya menyajikan makanan. Aduh, rasanya mual sekali. Untung saya sempat membawa minuman ringan dan cemilan.

Perjalanan kali ini terasa lebih ribet karena jumlah pengemis yg bersliweran cukup banyak. Mulai dari orang tua, anak kecil yg memamerkan keahliannya bermusik tanpa alat musik (dan mendadak saya ingat film "Slumdog Millionaire"), pendeta Hindu(?) hingga pasangan pengemis perempuan yg melakukan tindak kekerasan kepada saya.

SERIUS!! Ada pengemis perempuan yg melakukan tindakan kekerasan kepada saya!

Jadi begini ceritanya. Awal2 saya masih berusaha memberi kepada para pengemis. Namun melihat jumlah mereka yg cukup banyak, saya jadi 'malas' juga. Belum lagi saya merasa sulit istirahat karena sebentar2 ada yg lewat, entah itu penjual makanan atau minuman yg berteriak cukup kencang.

Akhirnya saya melakukan trik lama, mata terpejam dan kepala sedikit menunduk. Seolah-olah tertidur begitu deh.

Ternyata taktik ini tidak sepenuhnya berhasil. Ada seorang pengemis, pendeta Hindu(?) yg saat menghampiri saya, dia tidak kenal menyerah. Awalnya menepuk pundak. Melihat saya tetap diam, lalu dia memegang kepala saya seraya berkata-kata, entah mantera entah apa, saya sendiri tidak peduli, heheh. Syukurlah, dia pergi juga.

Nah, tidak berselang lama, saya mendengar ada suara tepukan tangan dari gerbong sebelah, diikuti dengan suara perempuan berkata-kata. Saya tidak mau ambil pusing, kebetulan saya sudah mulai mengantuk, jadi saya tetap berada dalam posisi 'seolah-olah' tidur (kali ini sih ngantuknya beneran).

Entah berapa lama saya 'melayang' (menuju kondisi tidur), mendadak saya mendengar suara tepukan tangan yg keras di samping saya. Hmmm...nampaknya ini suara yg saya dengar tadi. Saya tetap tidak peduli, berusaha tetap tidur.

Eh, tak dinyana, si perempuan ini menggoyang-goyangkan badan saya. Tentu saja, hal ini membuat saya terbangun. Saat saya lihat, ternyata ada 2 orang perempuan. Yg membangunkan saya mukanya agak2 galak gitu. Lalu dia menyodorkan tangan, minta duit maksudnya. Meski terganggu dg caranya, saya berusaha tetap ramah. Saya menolak permintaan dia, dengan senyum seraya menggerakkan tangan.

Alamak, rupanya dia ga terima. Dia ngotot dan kembali mendorong badan saya. Saya tetap senyum dan menolak memberi uang. Mendadak dia menempelkan tangannya ke bibir saya dan melakukan gerakan mendorong hingga ada 1-2 jarinya masuk ke mulut saya!

Ups, saya sempat naik pitam dg tindakannya ini. Tapi saya berusaha menahan diri dengan banyak pertimbangan. Pertama, dia perempuan. Kedua, saya berada di negeri asing. Ketiga, saya lihat perempuan ini sudah nekad. Jika saya melawan, bisa jadi kian akan nekad!

Akhirnya saya diam saja dan tetap berusaha senyum, meski saya tetap merasa marah bukan kepalang. Si perempuan X itu lalu pergi 'mengganggu' penumpang lainnya. Anehnya, dia tidak berani mengganggu laki2 yg ada istrinya. Hmmm... Selesai si X pergi, ada si Y, perempuan juga. Nampaknya mereka 1 grup, sama2 mengemis. Dan saya TETAP TIDAK MAU MEMBERI, tetap dg senyum. Syukurlah, si Y ini pengertian. Dia juga senyum dan lalu pergi. *buru2 saya foto si pelaku tindak kekerasan. sayangnya sudah cukup jauh, sehingga agak kabur dan tidak tajam hasil foto saya*

Usai mengalami peristiwa tidak mengenakkan ini, akhirnya saya melek dan waspada selama sisa perjalanan.

Kereta tiba di Kolkata terlambat lebih dari 2 jam! Yg semestinya tiba jam 5, ini baru sampai jam 7 malam! Ketar ketir terlambat menjemput tim di bandara, saya segera keluar stasiun. Tujuan saya ke loket taksi, memesan taksi untuk mengantar saya ke arah hotel. Eh, begitu saya tunjukkan lokasi hotel, si petugas menolak melayani saya dan menyuruh saya langsung nego ke sopir taksi.

Nego sempat alot, tapi akhirnya dicapai kesepakatan. Pergilah saya dibawa sopir taksi menuju hotel. Kondisi stasiun di malam hari ternyata tidak lebih baik, super macet. Belum lagi pepet2an antar taksi, yg akhirnya terjadi adu mulut dan membuat jalanan kian macet. *sigh*

Hal yg paling menyebalkan adalah, di saat kondisi jalanan macet lalu si sopir taksi bilang,"Wait a moment, sir..." Lalu dia tiba2 keluar dari mobil, berjalan sekitar 20 langkah menuju sebuah tembok dan KENCING DI PINGGIR JALAN! Langsung deh saya tepok jidat! Huhahah...ancooor!

Butuh waktu lebih dari 1 jam utk keluar dari stasiun kereta yg super macet. Sopir taksi bilang, kemacetan ini terjadi karena ada pertandingan final cricket (olahraga yg populer di India) klub dari Kolkata (yakni tim Kolkata Knight Rider) yg ternyata dimiliki oleh Shahrukh Khan! *foto di atas adalah momen saat saya sedang terjebak di kemacetan yg tidak pernah saya bayangkan sebelumnya*

Tiba di hotel, saya segera bersih2 dan menuju bandara utk menjemput tim yg akan datang.

Kisruh juga terjadi di bandara usai menjemput tim. Saya memesan taksi dari taksi ordering, tapi ternyata ada kongkalingkong di antara sopir taksi utk orang2 asing. Mereka akan memeras anda habis2an.

Modus yg mereka gunakan:
1. Barang bawaan anda dianggap melebihi ketentuan. Ada aturan tertulis, bahwa barang yg lebih dari 25 kg akan dikenai biaya tambahan 1 rupee/kg. Yg bikin kesal adalah mereka semena-mena menentukan biaya tambahan yg mesti kita bayar. Semula mereka minta hingga lebih dari 300 rupee per mobil! Padahal saya lihat bawaan tim tidak akan mencapai 300 kg! Saya langsung ngotot balik ga terima dan hanya mau membayar maksimal 100 rupee. Nampaknya mereka kaget juga melihat saya berani nawar. Terjadi nego dan akhirnya saya diminta bayar 150 rupee TOTAL.

2. Akan ada banyak orang yg tiba2 memegang dan membawa barang anda! Hati2! Tetap waspada dan perhatikan barang2 anda! Yg menyebalkannya, anda mesti membayar tips kepada TIAP ORANG yg memegang barang bawaan anda! Gila!

Ada kejadian lucu. Si Calo tiba2 minta bagian juga, padahal saya sudah kasih 150 rupee (hasil nego masalah berat barang). Tidak tanggung2 dia minta 100 USD! Saat saya menolak memberi, dia akhirnya minta uang dari negara saya! Kebetulan, ada duit 20 rebu di dompet.

Eh, saat saya beri, ternyata dia menolak! "I think you came from China. Money from Indonesia is not worth!"

Wanjrot...saya pengen ngakak meski agak2 kesal dengan ucapannya. Duh, kasian banget Indonesia, duitnya aja ga ada harganya di mata orang India, hihihi. Akhirnya saya kasih 100 rupee biar dia cepat pergi.

Moral story:
- jika anda sering mengeluh mengenai kondisi transportasi, mungkin saatnya anda kurangi dan banyak bersyukur setelah membaca cerita saya mengenai kondisi transportasi di India. Tentu saja, kita tetap berharap pemerintah bisa memberi layanan yg lebih baik lagi! *hare gene ngarep ke pemerintah?* :-)

- tetap waspada selama perjalanan di India!

- pokoknya jangan kalah gertak! kecuali jika memang kondisinya sudah tidak memungkinkan dan keselamatan lebih penting, ya mengalah saja lah ;-)