Secara pribadi, saya termasuk yg membolehkan mencontek. Lho, kenapa mesti dilarang? Mencontek tidaklah seburuk yg disangka. Banyak orang mencontek dan ternyata hasil contekannya lebih baik dari produk aslinya.

Tidak perlu jauh-jauh dan repot-repot untuk mencari pihak2 yg berhasil usai melakukan pencontekan. Cina, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang merupakan bukti nyata bahwa mencontek tidak selalu buruk. Mereka, secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, melakukan pencontekan terhadap ilmu2 yg dimiliki oleh orang2 Barat dan MELAKUKAN MODIFIKASI sehingga tampil lebih menarik dan hasilnya lebih baik.

Bahkan, Bill Gates pun ditengarai melakukan pencontekan terhadap ide mouse dari Xerox. Efeknya? Kini kita melihat Microsoft berhasil menjadi sebuah perusahaan raksasa di bidang perangkat lunak.

Sementara agar mahasiswa2 tidak mencontek saat ujian, itu mudah. Berikan ujian yg sifatnya open book. Mahasiswa boleh membawa SEMUA buku referensi yg berkaitan dengan mata kuliah tersebut.

Ujian tutup buku, hemat saya, tidak lagi jamannya. Menghapal rumus bukanlah yg harus dilakukan pelajar/mahasiswa. Mengapa? Karena jika kita sudah masuk ranah pekerjaan, nyaris tidak ada yg melarang kita membuka buku2 atau daftar referensi untuk mencari rumusan atau bahkan spesifikasi data dari permasalahan yg kita hadapi.

Ada yg salah dg sistem pendidikan kita, terutama budaya menghapal. Apa2 kita hapal. Mulai dari plat nomor, tabel periodik, lalu rumus ABC, rumus Newton, bla bla bla. Bukan PEMAHAMAN, tapi budaya MENGHAPAL yg lebih ditekankan kepada pelajar, terutama anak2 sejak dini.

Al Qur'an, hadits, dan terjemahannya bolehlah kita hapal. Tapi utk urusan2 yg (menurut saya) ga (terlalu) penting, lebih baik manfaatkan CATATAN atau BUKU REFERENSI.

Coba lihat orang2 yg berhasil di bidang pendidikan, terutama yg eksakta. Jarang sekali mereka yg menghapal rumus. Mereka PAHAM KONSEP dan alurnya. Kecuali utk urusan Biologi dan Kedokteran, memang tidak ada jalan lain selain menghapal.

Jadi, buat apa melarang mencontek? Justru budayakan mencontek yg lebih kreatif. Hasilnya jelas, ada nilai lebih yg bisa didapat.

Jika kita melihat produk teknologi dan telco yg dihasilkan dari negara2 itu, terutama dari Cina, kita bisa melihat bahwa produk mereka tidak lain dan tidak bukan mencontek dari produk yg telah beredar. Kita lihat saja, produk2 KW dari iPhone, iPad begitu deras mengalir dari Cina. Dan mereka jual dengan harga yg relatif jauh lebih murah (meski dg kompensasi kualitas yg lebih rendah, hehe).

Toh, mereka kejar volume. Dengan harga yg cukup murah, bisa 50% lebih murah, KW dari iPhone atau Blackberry langsung disambar oleh masyarakat Indonesia. Ujung2nya? Duit deras mengalir ke negara mereka.

So, masih ngotot melarang budaya mencontek? ;-)

Gambar dari sini.

Moral story:
- tidak semua mencontek itu jelek, karena mencontek sudah kadung dianggap hal yg tabu
- hasil mencontek mesti lebih kreatif agar punya nilai tambah