Terus terang, saya menulis artikel ini dengan berat hati. Bukan apa2, karena bisa dibilang ini merupakan puncak kekesalan saya terhadap PKS, partai yg selama ini saya harapkan bisa mengubah kondisi politik di Indonesia lebih baik.

Sejak tahun 2004, saya memilih PKS sebagai partai yang saya rasa bisa mengaspirasikan suara saya di pemerintahan (dan kancah politik), entah itu di pemerintah daerah ataupun di pusat. Simple saja (atau naif?) pemikiran saya memilih PKS. Mereka punya visi dan misi yg cukup banyak irisannya dengan yg saya harapkan, lalu kader2nya cukup berpendidikan, santun, tidak neko2, serta memiliki sistem kaderisasi yg memadai (barangkali kalah duluan saja dengan Golkar).

Bahkan, saya pun pendukung Adang Daradjatun dan Ahmad Heriawan, yg notabene diusung oleh PKS menjadi calon gubernur DKI dan Jawa Barat. Bahkan saya pun (berusaha) memilih Taufikurahman sebagai Walikota Bandung (meski akhirnya gagal utk memilih karena satu dan lain hal).

Intinya, saya fans berat PKS (you can say that!). Terlebih jika melihat sepak terjang Hidayat Nur Wahid dan Nurmahmudi Ismail, yg menunjukkan bahwa para politisi PKS berhasil menuaikan amanah dari rakyat. TOP BGT deh!

Percaya atau tidak, saya bahkan sempat menaruh harapan yg cukup tinggi saat Tifatul Sembiring dipilih menjadi Menkominfo pada kabinet SBY. Bayangan saya, TS bisa mengikuti jejak HNW dan NI, dan membuat masyarakat kian percaya dengan kader2 PKS.

Tapi, apa lacur.

Satu demi satu sikap dan aksi para kader PKS di pemerintahan mulai membuat saya kecewa. Mulai dari kebijakan2 Menkominfo yg, maaf, tidak bermutu dan tidak 'IT' sama sekali, bahkan cenderung mengurusi tetek bengek yg tidak esensi (at least menurut saya, yg pernah berkecimpung di dunia informasi) ataupun tidak terkait dg komunikasi. Nampaknya harapan saya TERLALU TINGGI utk kader PKS yg satu ini. ;-)

Lalu sedikit demi sedikit, para kader PKS di gedung DPR pun mulai tersangkut dengan kasus2. Belum lagi ketidak berpihakan mereka terhadap keputusan2 DPR, termasuk berusaha utk berada di jalur koalisi.

Terakhir, kasus yg paling memalukan, adalah tertangkap basahnya Arifinto sedang menyaksikan tayangan porno dari gadgetnya.

Merujuk pada logo PKS yg saya tampilkan di artikel ini, PKS boleh saja menyatakan diri Pantang Korupsi Sogokan, tapi tidak untuk NONTON PORNO! Anda tersinggung? Tidak apa2! Saya pun geram bukan main dengan kenyataan ini. Terlebih jika mengingat bahwa TS, yg notabene kader PKS, justru yg menyatakan perang terhadap pornografi, tapi kini kader PKS sendiri yg menistakan (dan menihilkan) usaha sesama kader.

Pernyataan Arifinto bahwa dia membuka file porno itu dari email, saya bilang omong kosong! Ada bukti bahwa file porno tersebut berasal dari FOLDER, alias sudah disimpan di gadgetnya. Jikapun dia berkelit lalu memperlihatkan bahwa gadgetnya bersih, itu usaha luar biasa busuk!

Kedua pernyataan itu bisa dibantah atau dibuktikan terbalik! *klik di sini jika ingin melihat sumber gambar*

Jika emailnya dihapus, bisa dicek di akun emailnya. Mestinya jika memang benar ada email yg mengandung konten porno, maka masih ada di trash-nya. Kecuali dia meng-set jika email dihapus di gadget maka akan dihapus juga dari akun emailnya.

Kedua, jika gadgetnya dicek dan diperiksa dg aplikasi yg bisa merestore file2 yg dihapus, maka akan bisa dibuktikan apakah memang file porno itu berasal dari email atau sudah tersimpan di gadgetnya.

Melihat sikap PKS yg (hingga saya tulis artikel ini) masih tidak memberikan pernyataan ataupun sanksi terhadap Arifinto, membuat saya memutuskan tidak akan memilih lagi PKS di Pemilu mendatang. Apalagi melihat tarik ulur PKS agar tetap berada di koalisi, membuat saya benar2 MUAK!

Politik membuat orang menjadi korup. Dalam hal ini, PKS sedikit banyak membuktikan, bahwa sebagus apapun kadernya, jika sudah nyemplung ke politik di Indonesia, hasrat korup dan cari jalan selamat serta usaha menguntungkan partai akan dijadikan panglima. Dan saya ternyata 'terlambat' mengetahui artikel ini. :p

Terlepas dari visi&misi PKS yg sebenarnya mumpuni, apalagi dg 'pembelaan diri' seperti ini, saya sudah memutuskan tidak perlu mempercayai lagi mereka. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Ini merupakan dampak dari sikap anda2 sendiri yg membuat kian banyak orang tidak lagi mempercayai partai di Indonesia.

Oya, saya sempat terpikir utk GOLPUT pada Pemilu 2014, dan ini bukan tidak mungkin lho! Bismillah. ;-)

Akhirul kata, saya ucapkan selamat tinggal kepada PKS. Bagi anda2, kader PKS yg masih bersih, semoga bisa memperbaiki kondisi partai anda. Jika tidak, maka saya rasa tinggal menunggu waktu saja PKS nyungsep. ;-)

Gambar dari sini dan beberapa lokasi lain yg tidak sempat saya catat.

Moral story:
- jika ada orang bekerja namun tidak kompeten di bidangnya, maka tunggu kehancurannya! (ini hadits Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

- pak menteri (siapapun menterinya dan di bidang apapun) jika hendak membuat peraturan, mbok ya dipikir dulu!

- jika Kapolri akan menyalurkan 'bakat' Briptu Norman (yg ber-lipsync ria dalam menyanyi lagu India) ke jalur yg sesuai (menyanyi atau hiburan), kira2 pimpinan PKS akan menyalurkan 'bakat' Arifinto ke mana yak? ;-)

- update 11 April 2011: Arifinto mengundurkan diri. Serta ada foto tambahan bahwa ybs mengakses BUKAN dari email, tapi dari file yg (diduga ;-) sudah disimpan di komputernya.