Hari Rabu saya kembali ke kantor cabang, usai makan pagi yg tidak sukses.

Saya cerita dahulu ketidaksuksesan makan pagi saya.

Melihat menu yg ditawarkan dan disajikan saat makan pagi, terus terang perut saya langsung berontak. Bentuk yg aneh serta bau yg terlalu menyengat membuat saya agak2 sungkan untuk makan. Tapi apa boleh buat, saya mesti mengisi perut saya agar saya bisa tetap survive (terlebih jangan sampai sakit). Belum lagi jika ingat tingkah penjual makanan di pinggir jalan. Hanya saja, saya ingatkan diri saya, bahwa kali ini di restoran yg kebersihannya (mestinya) lebih terjamin.

So, saya memberanikan diri mengambil beberapa menu yg saya anggap cukup dekat dg makanan Indonesia.

Beberapa gorengan, telor, dan semodel perkedel saya ambil. Saya gigit sedikit untuk mencoba, aduh, rasanya kok begini yak?! Apalagi yg model serabi. Saya semula berharap rasanya cukup enak, tapi tambahan bumbu2 yg tidak pas dg lidah saya membuat perut saya langsung protes agar saya tidak meneruskan makan.

Ok, ok. Saya alihkan ke makanan berbentuk seperti kue cucur. Hmmm...kalo yg ini lumayan, bisa diterima oleh perut. Demikian juga dg perkedel dan gorengan telor. Semuanya diijinkan masuk oleh perut saya dan mulai diolah menjadi energi.

Well, saya mesti nambah, karena saya tidak yakin saya bisa makan siang di dekat kantor. Maka, saya mengambil makanan sesi 2. Kali ini ada semodel nasi kuning (tapi cair), ditambah dg roti dan kari.

Karinya sih enak, lidah saya bisa mengenali dan mirip2 dg yg pernah saya makan. So, perut saya tidak protes. Namun saat roti dan nasi kuning saya cicip, kembali perut saya protes. Aduh, rasanya memang ga banget deh!

Ya sudahlah, saya segera selesaikan makan pagi dan bergegas ke kantor.

Di kantor, saya bertemu dg staf yg dimaksud. Plus diskusi dg sales dan bos di Indonesia (via email), akhirnya kami mencapai kesepakatan. Alhamdulillah, perencanaan sudah usai, kini tinggal aksinya!

Jam 2 siang, saya tiba di stasiun kereta Tatanagar, yg ternyata JAUH LEBIH KUMUH DAN SEMRAWUT daripada stasiun Howrah. Hwaduh, kepala saya langsung cenat cenut melihat kondisi stasiun yg ramai, sumpek, bau dan kumuh itu. Saya segera mencari loket dan mulai antri.

Eh, ternyata saya antri di loket yg salah, yakni loket utk orang tua dan perempuan! Terpaksa dah pindah dan itu berarti saya di antrian di belakang lagi (fiuuhhh).

Terus terang, berada di lingkungan yg kumuh membuat saya menjadi paranoid. Takut something bad happen, terutama pencopetan! Jadi, saya simpan dompet di saku dalam jaket, kancingkan jaket, simpan tas gendong di depan saya. Utk koper, saya tidak terlalu khawatir, karena saya tidak menyimpan barang2 dan dokumen berharga di dalamnya.

Toh, saya saat ngantri dan berdesakan saya masih harus waspada. Apalagi orang2 India ini kalo antri, bener2 mepet deh! Sempat curiga saya sudah dijadikan target pencopetan, tapi kecurigaan saya kian berkurang seusai saya berhasil membeli tiket. Alhamdulillah.

Oya, di stasiun Tatanagar (di kota Jamshedpur ini) ternyata orang2nya punya disiplin yg lebih baik daripada orang2 di stasiun Howrah (kota Kalkuta). Setidaknya mereka mau antri dg tertib. Bahkan, jika ada yg memotong antrian atau salah antrian, langsung diteriaki, hhahaha.

Masuklah saya ke peron, menunggu kereta datang.

Selama di peron, saya dapati bahwa orang India menyukai cemilan yg unik. Cemilan tersebut adalah mentimun yg dikupas lalu dibelah memanjang kemudian ditaburi garam dan serbuk cabe. Mirip2 dg rujak di Indonesia, tapi di sini hanya mentimun. Kepingin juga sih, membayangkan segarnya makan mentimun dan rasa pedas asin di lidah. Tapi, lagi2 melihat para penjualnya tidak menjaga kebersihan membuat saya mengurungkan niat, malah perut saya menjadi agak mual. :-(

Pemerintah India (pusat dan lokal) ternyata sangat memperhatikan masalah air minum. Banyak didapati keran2 air yg bisa diminum. Namun di stasiun Tatanagar, kondisinya kurang ok. Saya dapati beberapa orang ngomel2 karena keran yg mereka datangi tidak mengeluarkan air.

Saya sendiri akhirnya beli minuman dan makanan ringan utk mengisi perut.

Utk meyakinkan diri agar jangan sampai nyasar, saya bertanya kepada seseorang yg nampak terpelajar mengenai lokasi dan jadwal kereta. Dan dijawab dg hangat dan ramah. Syukurlah, ada yg membuat kekhawatiran saya berkurang. :-)

Kereta datang terlambat 10 menit, dan naiklah saya ke kereta, kembali ke Kalkuta!

Cerita akan berlanjut ke perjalanan menuju Kalkuta.

Moral story:
- masalah kebersihan merupakan masalah utama buat saya selama ke India

- sebagai penikmat wisata kuliner, ternyata lidah saya belum cukup bersahabat dg makanan India

- waspadalah di setiap kondisi! Namun tidak perlu terlalu khawatir dg dempetan orang2 India yg antri. Mereka memang doyan desak2an, bukan hendak mencopet lho!