Turun dari kereta, saya menuju jalan keluar stasiun kereta api. Masih sulit membeli sim card no lokal India, karena sepengetahuan saya, di dalam stasiun tidak ada yg berjualan, melainkan makanan ringan.

Begitu tiba di luar stasiun, hawa panas dan panas terik langsung menyapa saya dg 'ramah'. Seakan salam perkenalan dari kota Jamshedpur, kota yg akan saya singgahi selama beberapa hari ke depan ini. Masih dg taktik kuno, saya tidak langsung menerima tawaran dari sopir2 'liar', terlebih dg peristiwa di bandara kemarin.

Saya lihat kondisi stasiun kereta api tidak seribet bandara udara, jadi saya segera menuju jalan besar di depan stasiun. Dari sana, saya tidak langsung mencari kendaraan, melainkan melihat dulu sekeliling. Biasa, observasi dahulu. Melihat kebiasaan orang2 setempat serta menenangkan pikiran dulu sebelum mengambil keputusan (terutama saat hendak mencegat dan menggunakan kendaraan umum).

Sekilas pengamatan saya, orang2 di Jamshedpur masih asyik nongkrong. Belakangan saya ketahui, jam kerja di Jamshedpur dimulai jam 10 pagi.

Di beberapa tempat, saya perhatikan banyak orang duduk2 di pinggir jalan, menikmati sarapan. Entah, saya tidak tahu persis menu sarapan mereka. Yg jelas, mereka sempat minum sesuatu dg menggunakan semacam cawan kecil.

Yg membuat saya agak shock adalah (lagi2) masalah sanitasi/kebersihan. Banyak sekali saya temui genangan air kotor dan orang2 dg santainya meludah ke genangan2 tersebut. (catatan: genangan di sini benar2 genangan, bukan genangan seperti yg dibilang Foke lho, hahaha)

Usai pengamatan sekitar 15 menit, ditambah lagi dg sinar matahari kian terik, saya memutuskan untuk mencari kendaraan umum. Ada beberapa pilihan, yakni 'mbahnya' bajay, lalu ada semodel metro mini, serta ada semodel rickshaw/becak ala India.

Dengan memperhitungkan resiko paling kecil utk nyasar, saya akhirnya menggunakan mbah bajay. Kebetulan si pengemudi cukup baik dan terlihat tidak macam2. So, akhirnya saya naik (tentunya usai nego masalah tarif).

Tidak terlalu lama, usai menempuh jalan sekitar 30 menit dan kepala nyut2an melihat kondisi jalan di Jamshedpur yg LEBIH amburadul daripada Jakarta, alhamdulillah, tibalah saya di hotel Ginger. Ternyata si sopir tidak ada kembalian, walhasil saya kembali diingatkan akan perlunya uang2 kecil utk keperluan transportasi.

Cek in, lalu saya simpan2 barang dan bersih2 (mandi maksudnya, maklum hawanya super panas), saya segera mencari kantor cabang di Jamshedpur. Staf hotel memberitahukan bahwa lokasi kantor cabang ada di dekat hotel.

Kembali saya menggunakan mbahnya bajay. Sudah diwanti2 oleh staf hotel, bahwa saya cukup bayar 70 rupee. Tapi toh, akhirnya saat tiba, saya mesti berantem lagi karena si sopir ngotot bahwa tarif yg mesti saya bayar nyaris 2x dari kesepakatan semula.

Cih, lagi2 saya tidak bisa berbuat banyak. Apes emang jika tidak ada guide/info yg memadai. Sebenarnya, cara yg paling aman adalah dg diantar oleh penduduk lokal sehingga relatif lebih aman. Tapi, seperti saya tulis di atas, kondisinya tidak memungkinkan utk kontak, karena saya belum mendapatkan no lokal India.

Usai di lokasi kantor cabang, saya celingukan. Lah, kantornya ada di mana nich? Saya bolak balik keliling di daerah perkantoran situ sekitar hampir 1 jam, saya tidak temukan papan nama atau informasi lainnya.

Ok, jika sudah begini, maka solusinya adalah membeli no lokal.

Berbekal kenekadan yg luar bi(n)asa, saya menuju ke daerah pasar di sekitar Sakchi. Saya lihat ada beberapa toko yg menjual sim card no lokal. Sayangnya, saat saya hendak transaksi, saya tidak membawa foto sehingga saya tidak bisa membeli kartu lokal.

Rasa was-was mulai menghinggapi saya, terlebih waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, kondisi Jamshedpur yg cukup panas, ditambah perut saya belum diisi apapun membuat saya merasa prihatin dg diri saya sendiri, hihihi.

Seraya baca doa, memohon agar saya diberi kemudahan utk menemukan lokasi kantor, saya kembali ke titik pemberhentian awal. Di sana, saya celingukan, bermaksud mencari telpon umum atau wartel. Sayangnya tidak berhasil saya temukan.

Sebenarnya saya ingin bertanya ke orang2, tapi ternyata TIDAK SEMUA ORANG INDIA mengerti bahasa Inggris. Ini masalah tambahan yg tidak saya perkirakan sebelumnya. Selama ini saya berasumsi bahwa semua orang India bisa bhs Inggris, meski tidak lancar. Walhasil, saya sempat tanya ke beberapa orang (di jalan) dan mereka tidak bisa memberikan jawaban yg saya butuhkan.

Well, saya tidak boleh putus asa! Saya coba bertanya ke satpam sebuah hotel (yg diinfokan staf hotel). Alhamdulillah, si satpam mengerti maksud saya, dan dia langsung menunjuk ke 2 orang yg baru keluar dari gedung sebelah!

Wahahah...ternyata emang kantor cabangnya ada di gedung sebelah! Ketiadaan informasi yg cukup membuat saya kesulitan menemukannya!

Bertemulah saya dengan mr Modak dan mr Digar. Langsung saya disambut dengan hangat dan segera menuju ke kantor. Wehk, ternyata memang kondisi kantor cabang agak2 sulit ditemukan.

Saya segera diskusi dengan mr Modak mengenai keperluan saya di Jamshedpur. Ternyata Inggris saya tidak terlalu jelek lah, setidaknya si Modak mengerti apa yg saya mau dan saya juga paham dg apa yg dia omongkan.

Sayangnya, urusan saya tidak bisa diselesaikan di hari Selasa, karena orang yg saya butuhkan sedang tidak hadir. Jadi, saya mesti kembali hari Rabu.

Fiuuhh...alhamdulillah, syukurnya saya sudah punya progres sekitar 40-45%. Sisanya sudah saya ketahui apa yg hendak saya capai besok.

Kembalilah saya ke hotel dengan naik mbahnya bajay (lagi) dan kali ini utk menghindari berantem dg sopir, saya berikan saja nominal yg tidak akan membuat dia protes, ahhaha. :-D *tentu saja, nominalnya masih normal, tidak sampai ngasih 500 atau 1000 rupee*

Di Jamshedpur terdapat lokasi pabrik baja Tata, sebuah pabrik baja dengan kapasitas produksi berskala internasional. Jika dibandingkan dengan Krakatau Steel, kapasitasnya jauh lebih besar dan luas pabriknya juga (jika tidak salah) sekitar 2x luas Krakatau Steel.

Moral story:

- Jamshedpur memiliki temperatur yg tinggi dan panas yg terik. Jika ada keperluan ke sini, saya sarankan bawa dan pakai jaket kain (bukan jaket tebal atau jaket parasut)

- sekali lagi, jangan lupa utk mempunyai uang kecil. Ternyata kita bisa kok menukar di resepsionis. Setidaknya anda mesti punya pecahan 2 dan 5 rupee sejumlah 100-200 rupee.

- tetap waspada dg perilaku sopir mbah bajay. Menurut hemat saya, lebih baik mengalah saja. Ngotot dg orang India, apalagi kita seorang diri, menurut saya agak riskan. Lagipula selama duit yg keluar masih dalam ukuran normal (tidak sebesar saat saya dirampok), it's fine kok. Palingan anda rugi 20-100 rupee lah.