Akhir tahun 2010, saya berkesempatan mengunjungi Malaysia utk jalan-jalan menghadiri sebuah pelatihan produk dari perusahaan. Tantangan yg menarik bagi saya. Bukan jalan-jalannya, tapi kesempatan mengikuti pelatihannya. Hal ini dikarenakan saya tergolong pegawai baru, jadi tidak akan menolak jika diberi kesempatan untuk jalan-jalan ikut pelatihan.

Sialnya, pemberitahuannya datang secara mendadak. Apes bertambah pada saat paspor saya telah habis masa berlakunya. Untunglah perusahaan tanggap dan segera menguruskannya.

Saya pergi berempat. Cilakanya, tidak ada satupun yg pernah ke Malaysia. Malah mereka bertiga lebih akrab dengan Singaparna Singapura. Walhasil bisa dikatakan ada 4 lelaki culun akan berkunjung ke negeri jiran yg entah bagaimana tidak diketahui seluk beluknya.

Minggu sore, berangkatlah kami jam 4 sore WIB. Sesaat sebelum berangkat, saya sempat melihat beberapa TKI yg sedang bersiap juga menuju Malaysia.

Mendadak saya merasa sedih pada mereka, terutama saat petugas imigrasi bersuara agak keras (cenderung membentak) kepada para TKI. Duh biyung, belum berangkat saja mereka sudah diperlakukan tidak sopan dan manusiawi. :-( Sayangnya, saya tidak bisa berbuat banyak.

Karena perbedaan waktu 1 jam lebih dulu, kami tiba pukul 6 waktu setempat.

Dasar pada culun semua, kami menjadi seperti orang dusun. Celingukan kiri kanan. Well, akhirnya dengan tampang sotoy, kami melangkah dengan pasti menuju meja imigrasi. Antrian cukup panjang. Di depan kami ada sekitar 10-15 orang. Berjajar, kami berempat nengok kiri kanan.

Upss...nampaknya kami mesti mengisi formulir dahulu. Walhasil keempat orang ini segera keluar dari antrian dan menuju meja untuk mengambil dan mengisi form.

Form yg mesti diisi adalah form berupa keterangan apakah kami pernah ke Malaysia, lalu tujuannya apa, lalu mengisi nomor paspor, nomor penerbangan, bla 3x. Ah, gampang kok!

Saat mengisi form, di sebelah kami ada rombongan dari Cina berjumlah 4 orang. Nampaknya hanya 1 orang yg mengerti bahasa Inggris. Dia yg menginstruksikan ke 3 temannya utk mengisi form tersebut. Sibuk dan ramai sekali mereka, hanya untuk mengisi form ini. Untunglah, berarti ada yg lebih katro daripada kami, eheheh.

Kali ini dengan (lebih) pede kami kembali ke meja imigrasi.

Pada saat antri, di depan kami ada orang India. Gelagatnya seperti orang yg gelisah. Dan mendadak....anjroy, tercium bau busuk! Saya langsung nyeletuk ke teman saya yg berdiri di depan saya dan di belakang si India.

"Ndri, kamu kentut ya?!"
Yg jelas langsung disanggah oleh Andri,"Enak aja..."

"Kok bau kentut dari arah situ?"
"Wah, ga tau. Beneran deh!"

"Wah, berarti si India yg kentut! Najis...bau banget!"

Dan kami berempat langsung memaki-maki si India. Tentunya dalam bahasa yg tidak dimengerti dia....bahasa Sunda! Wakakak.

Usai kami berhasil melewati meja imigrasi, saya sempat melihat rombongan TKI yg nampaknya saya lihat di airport, diperiksa juga tepat di belakang kami. Perlakuan petugas imigras Malaysia nampaknya sama saja dg petugas bandara. Agak2 ketus, meski (sepenglihatan saya) tidak segalak petugas bandara.

Ok, berikutnya kami mesti mencari transportasi yg akan membawa kami ke hotel. Berempat, kami celingukan ke sana ke mari. Sempat keluar bandara, menemukan beberapa taksi yg sedang antri. Hmmm...firasat saya mengatakan ada yg aneh dg taksi2 itu. Sempat terlintas di pikiran saya, taksi2 di bandara Malaysia ini semodel dengan taksi di bandara Surabaya.

Jadi, sistemnya mesti daftar dulu lalu nanti si taksi akan membawa kita ke lokasi.

Nampaknya kami berempat kelewatan ruang pendaftaran. Jalan paling mudah ya bertanya. Sementara ketiga teman berpencar, saya menuju seorang petugas bandara.

"Excuse me. I want to go to my hotel. How do I do to get there?"
"Well, you can use that taxi. But, can you afford to pay?"

"Which one?"
"That."

Kurang ajarnya, sambil ngomong gitu, si petugas ini menunjuk taksi limo dan mercedes benz. Mungkin dia menyangka saya orang Indonesia yg miskin. Huh, kesal sekali saya! Memangnya saya ga mampu bayar taksi itu?! Huh, saya tidak akan kalah gertak!

"How much that taxi?"
"About 300-400 RM"

Ngek, langsung deh saya pengen nampol si petugas ini! Duit segitu mah mendingan buat beli oleh2 lah! Duit sih ada, tapi kalo saya akhirnya mesti nyewa taksi semahal itu, keenakan si petugas bandara donk, yg berhasil membuat saya mesti naik taksi demi gengsi!

"No, I'm looking for the cheap one."
"Well, so you must go to gate 2."

Ngek, lumayan juga ternyata gate 2. Akhirnya kami berempat pergi ke gate 2. Ketemu juga tempat pendaftaran taxi, seperti dugaan saya bahwa taxi di bandara ini mirip di Surabaya.

Akhirnya kami berempat bisa menuju hotel Boulevard.

Training berlangsung selama 4 hari. Sempat jalan2 ke pasar Seni, tempat barang2 murah untuk oleh2. Pergi ke menara kembar Petronas. Ah, biasa saja ternyata. Ga keren2 amat. Heran, kok orang2 penasaran ya pergi ke Twin Tower Petronas ini, padahal yaaa semodel mall2 gitu deh, cuma tingginya memang spektakuler.

Selama 4 hari, 3 orang dari kami menderita sakit. Cuma Andri yg relatif sehat, sehingga cuma dia yg bisa menikmati makanan saat kami wiskul.

Hari Kamis sore kami pulang, kembali ke negeri tercinta.

Moral story:
- sebenarnya Indonesia tidak kalah dengan Malaysia kok. Dengan kekayaan alam berlimpah, mestinya Indonesia bisa lebih canggih dan terawat. Something wrong dg pemimpin2 Indonesia memang.

- mayoritas penduduk Kuala Lumpur menggunakan mobil. Setelah kami tanya2, harga mobil memang murah. Yg mahal itu harga parkir.

- hati2 dg sopir taksi di Kuala Lumpur. Meski mangkal di hotel, bukan jaminan mereka akan jujur. Hanya 1 sopir taksi yg kami nilai cukup baik, taksi yg kami naiki di hari pertama menuju tempat training. Dia mencari jalan terdekat ke tujuan. Sopir2 taksi lainnya malah sengaja membawa kami berputar-putar. Bah, mirip banget kelakuannya dg sopir2 taksi Jakarta! Dasar!

- jalanan di Kuala Lumpur itu padat, tapi masih bisa bergerak di angka sekitar 40 km/jam. Macet (dg asumsi kecepatan < 40 km/jam) hanya kami alami 1 kali.

- jarang kami temui orang Malaysia yg nongkrong di jalanan. Saat kami temukan ada 2 orang laki2 nongkrong di pinggir jalan, sontak kami berseru,"Ah, itu pasti orang Indonesia!!" wakakak..

- sepeda motor boleh masuk jalan tol.

- orang Malaysia cukup tertib dg aturan, sehingga nyaris tidak perlu serobot sana sini.

- gerbong khusus perempuan sudah ada di sini. Jadi, aneh sekali jika di Indonesia masih dipikir2 perlu tidaknya gerbong khusus perempuan.

- harga barang2 dan makanan di Malaysia tidak jauh berbeda dg di Jakarta. Seporsi makanan sekitar 4-5 RM di warung pinggir jalan. Di mall, ya sekitar 10-15 RM, tergantung menunya

- makanan Malaysia monoton! Kari dan kuahnya terlalu berbumbu ala India. Ndak cocok utk lidah saya, apalagi saya sempat sakit tenggorokan dan sariawan. Menyiksa sekali.

- kalo 'mentok' soal makanan, pilihan terakhir jatuh ke Mc Donald dan KFC. Jiaaahhh...jauh2 ke Malaysia, makanannya yg gitu2 lagi, hehehe...

- jangan takut utk berbahasa Inggris. orang2 Malaysia ga terlalu jago juga kok bahasa Inggrisnya, hehehe.

- jika kita naik tangga berjalan, sebaiknya merapat ke kiri untuk memberi jalan orang2 yg hendak mendahului kita. Daripada kita di-excuse me terus2an, hehe