Tulisan saya ini bukan berarti saya membabi buta utk kagum dan bangga dengan Jepang dan lantas melupakan Indonesia. Justru melalui tulisan ini, saya ingin mengingatkan saya pribadi serta mengajak para pembaca utk mencontoh hal2 baik dari bangsa tersebut.

Jepang, seperti kita ketahui bersama, belakangan ini dilanda musibah yg beruntun. Dimulai dari gempa, tsunami, dan kebocoran reaktor nuklir (termasuk radiasinya).

Gempa.
Mungkin banyak dari kita berpikir bahwa bangsa Jepang mestinya sudah cukup akrab dg gempa. Sehingga mereka tidak perlu ambil pusing dengan gempa, karena mereka sudah punya SOP utk penyelamatan dan tindakan2 lainnya. Berbeda dengan di Indonesia, seperti yg pernah saya alami (baca di sini pengalaman saya saat terjadi gempa, juga di sini), masyarakat Jepang sudah 'dicekoki' dengan SOP mengenai gempa sejak mereka masih kecil.

Tidak heran, jika kita lihat di televisi, anak2 kecil tetap tertib saat mereka hendak dievakuasi. Bahkan, saya sempat melihat cuplikan kejadian gempa, mereka tidak lantas serta merta panik dan kehilangan akal. Mereka (orang tua dan anak2) tetap berada di posisi mereka, mencari lokasi yg aman utk menyelamatkan diri. Usai mereka menemukan lokasi yg aman, mereka segera menuju ke sana dan berkumpul dg rekan2 lainnya.

Tsunami.
Saya tidak tahu persis seberapa sering tsunami melanda Jepang. Tsunami yg saya maksud adalah tsunami yg muncul usai gempa. Namun, melihat video rekaman tsunami yg terjadi kemarin di Jepang, toh saya tetap terperangah dan bersedih. Terlihat jelas bagaimana ombak setinggi 10 meter menyapu daratan dan membuat semua benda menjadi tidak berarti. ALLOHU AKBAR!

Di saat2 seperti inilah, kita seperti disadarkan lagi dengan kebesaran Sang Pencipta. Jangan pernah merasa diri begitu besar, karena hanya dengan tsunami saja, kita tidak ada apa2nya. Ga perlu sombong lah, ga ada gunanya. Kekayaan tidak perlu membuat kita pongah. Jabatan juga demikian. Keluarga, rekan, dan lain2 juga mestinya tetap membuat kita rendah hati. Semuanya akan dengan mudah hilang saat ALLOH SWT (melalui alam) mencabut itu semua.

Dengan gempa sebesar itu saja, tsunami yg muncul sudah sedemikian dahsyat. Tak bisa dipungkiri lagi, tsunami yg terjadi di Aceh lebih dahsyat. Terlebih dengan kurangnya pengetahuan masyarakat Aceh mengenai SOP penyelamatan dari bencana gempa, serta tidak menyadari bahwa ada tsunami datang, maka korban jiwa Aceh begitu besar, jika kita bandingkan dengan yg terjadi di Jepang.

Reaktor nuklir.
Sebagai sebuah negara yg tidak mempunyai SDA cukup banyak, Jepang berusaha mengoptimalkan nuklir sebagai sumber daya energi mereka. Saya yakin, mereka sudah berusaha semaksimal mungkin membuat dan membangun reaktor nuklir seaman mungkin. Toh, siapa sih yg bisa melawan 'kemurkaan' alam?

Kebocoran reaktor dan penyebaran radio aktif tetap tidak bisa dihindari. Walau sudah diantisipasi dan ditangani semaksimal mungkin, toh tetap saja hal ini membuat masyarakat Jepang cemas. Hal yg patut diacungi jempol adalah reaksi mereka. Tetap tenang dan menunggu instruksi lebih lanjut dari pemerintah mereka.

Kondisi terakhir, reaktor nuklir Fukushima sempat meledak sebanyak 4 kali. Diperkirakan Tokyo akan terkena sebaran radio aktif ini juga.

Membaca artikel berikut ini membuat saya kian kagum dengan bangsa Jepang. Bagaimana tidak? Di tengah-tengah kekacauan dan musibah serta petaka dan bencana yg terjadi dan menimpa mereka, ternyata mereka masih punya HARGA DIRI.

Apa bentuk harga diri mereka?
1. Tidak membuat kekacauan tambahan (penjarahan).
Biasanya, saat terjadi bencana, dampak berikutnya adalah penjarahan. Semua orang berusaha utk survive dan mereka melihat menjarah (bahan kebutuhan hidup) adalah sebagai hal yg 'wajar' utk dilakukan. Di Jepang, saat ini, hal tersebut TIDAK TERJADI! Sama sekali TIDAK ADA PENJARAHAN! Bisakah anda bayangkan? Tidakkah anda merasa kagum dan angkat topi utk mereka?

Di Indonesia, sekedar menengok ke belakang, saat terjadi kerusuhan Mei 1998, semua orang merasa berhak utk menjarah, walau itu bukan utk bertahan hidup. Berapa banyak orang mengangkut televisi, kulkas, dan barang elektronik lainnya? Belum lagi mengambil baju, bla 3x dan hal lainnya.

Demikian juga dengan tulisan ini. Pemerintah Jepang dengan cepat dan sigap segera memberikan instruksi2 yg jitu utk segera menanggulangi masalah yg muncul. Hal ini jelas akan MENENANGKAN MASYARAKAT YG SEDANG TERKENA BENCANA. Tidak itu yg namanya partai2 saling berebut simpati, apalagi sampai membawa bendera2 partai dan menancapkan di lokasi bencana, walau seraya memberikan bantuan.

Di Indonesia? Ah, sudahlah...saya enggan utk membahasnya. Bukan saya bermaksud utk menutupi aib para pejabat dan partai politik, tapi dengan tidak membahasnya, saya tidak ingin menghapus hal2 yg baik yg pernah mereka lakukan. Lagipula, percuma juga membahas para pejabat dan partai politik, tidak ada perubahan yg bisa mereka lakukan dan mereka sendiri nampaknya enggan utk berubah (ke arah lebih baik).

2. Saling membantu.
Saya baca juga, saat bencana ini terjadi, maka mesin2 penjual makanan akan otomatis berubah fungsi menjadi mesin2 penyedia makanan GRATIS!

Dengan kata lain, mesin pun mereka 'tanam' sifat sosial, yg bekerja utk mencari keuntungan di kondisi normal dan berubah menjadi mesin sosial bila bencana melanda Jepang. Sebuah pemikiran yg mengharukan dan mengagumkan bukan?

Masyarakat yg terkena bencana, mereka pun tidak serta mementingkan diri sendiri (dan keluarganya). Mereka tetap melihat sekeliling mereka dan membantu orang2 yg mereka lihat membutuhkan pertolongan.

Terharu saya melihat perilaku mereka ini. Sesungguhnya perilaku seperti inilah yg diajarkan oleh Rasululloh SAW dan para sahabat. Dalam keadaan sulit sekalipun, jangan pernah berhenti utk membantu dan bermanfaat bagi orang lain.

Di Indonesia? Saya juga enggan membahasnya. ;-)

3. Tenang dan tidak kenal menyerah.
Meski bencana datang beruntun, mereka tidak lantas panik dan sedih berkepanjangan. Mereka tetap tenang dan segera mencari solusi utk mengatasi kondisi buruk yg mereka alami. Dan dalam mencapai usahanya itu, mereka tidak kenal menyerah. Bantuan dan perhatian tidak dilakukan 1-2 hari saja, tapi tetap berkesinambungan.

Jadi, apa hikmah dan nilai2 yg bisa kita petik dari bangsa Jepang? Anda bisa lihat dari poin2 di atas, yg saya tebali kata2nya.

Indonesia, sebagai negara dg sumber daya alam, jumlah penduduk yg banyak, serta tidak bodo2 amat (buktinya Indonesia bisa meraih emas di olimpiade2 sains) mestinya bisa berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi. Hanya saja, sayangnya, masyarakat kita masih gampang dibodohi oleh orang2 yg (kebetulan) memegang tampuk kekuasaan.

Belum lagi masyarakat kita kejangkitan penyakit lebay. Hal2 kecil dibesar2kan, seolah-olah sedemikian penting. Akibatnya, masyarakat Indonesia tidak pernah bisa beranjak dari hidupnya yg nelongso seperti sekarang. :-(

Oya, satu hal yg menyedihkan dari pemerintah Indonesia. Di saat tsunami melanda Aceh, pemerintah Jepang dengan sigap memberikan bantuan (sebisa yg mereka mampu). Namun, di saat Jepang terkena musibah, reaksi pemerintah kita begitu lambat.

Saya tidak tahu pasti alasan lambatnya respon pemerintah ini, karena PEMERINTAH KITA MEMANG BIASANYA LAMBAT MERESPON. ;-) Tapi jangan sampai ada pikiran bahwa Jepang tidak perlu dibantu karena mereka lebih baik kondisinya, lebih maju peradabannya dari Indonesia, atau bahkan karena bukan Islam, sehingga Indonesia tidak perlu mengirim bantuan. HINA dan KURANG AJAR sekali jika utk urusan sosial (dan kemanusaan) terlintas hal2 tersebut di pikiran pejabat Indonesia, sehingga terlambat memberikan bantuan.

Sudah ah, cape dan bosan saya mengeluh ttg pemerintah Indonesia. :-) Mari kita berupaya utk menjadikan diri kita dan lingkungan kita lebih baik. Tidak perlu menunggu2 pemerintah bertindak. Hanya cape dan percuma saja menunggu mereka bersikap dan mengambil tindakan.

AYO BANGSA JEPANG, GANBATTE! KALIAN BISA!
*maaf, saya hanya baru bisa memberikan bantuan berupa doa dan secarik tulisan ini*

Ada 'kicauan' yg menarik, anda bisa baca di bawah ini :-D

Gambar dari sini.

Moral story:
- berempatilah kepada orang2 yg mengalami bencana, niscaya kita akan ditolong orang2 pada saat kita butuh bantuan
- tidak perlu pongah dan sombong dg apa yg kita miliki. semuanya itu fana, kecuali yg sudah kita amalkan utk ibadah
- prinsip kesempatan dalam kesempitan tidak ada dalam kamus bangsa Jepang. itu sebabnya, mereka tetap survive dan bisa menjadi bangsa yg besar
- semangat bushido dan harga diri tetap mereka junjung tinggi
- jangan terlalu berharap dg bantuan orang. justru kita berusaha utk bisa membantu orang lain, seremeh atau sekecil apapun bantuan yg bisa kita berikan
- diperkirakan, bencana alam kali ini akan mengubah (lagi) budaya bangsa Jepang, seperti yg pernah mereka alami usai Perang Dunia II dulu. perubahan seperti apa, saya juga belum tahu. mari kita nantikan (insya ALLOH akan lebih baik)
- informasi (tanya jawab) terkait dg gempa bisa dibaca di sini