Saya membaca dari twitter, sebuah berita yg menurut saya cukup lucu bahkan cenderung konyol. Isi twitternya sebagai berikut:
"Me-review nasi goreng kok digugat. Lha mbok undang blogger lain utk cicipi. Bila hasilnya tetep ndak enak, ganti koki. http://ow.ly/47ES1"
Lalu saya mencoba membaca artikel yg tertera pada tautan/link pada kicauan tersebut. Dari sekian panjang tulisan, saya simpulkan bahwa ada seorang blogger bernama Didiet yg menulis review tentang nasi goreng di sebuah tempat makan di kawasan Kemang. Di sana Didiet menulis pengalamannya saat menikmati nasi goreng tersebut. Intinya: dia merasa kecewa.

Lucunya, pihak penjual nasi goreng tersebut merasa tersinggung dg review Didiet. Dan melalui seseorang yg diberi kepercayaan (katakanlah seorang pengacara), pihak NGK berencana MENUNTUT Didiet atas reviewnya tersebut.

Saya jadi teringat pengalaman saya sendiri yg sempat mengomeli Edward Forrer
karena kualitas sepatunya (yg saat itu) kurang ok. Berbeda dengan kasus yg menimpa Prita dan Didiet, pihak Edward Forrer justru datang ke saya dengan simpatik. Memberikan tawaran utk mencoba sepatu2 produk mereka dan menuliskan hasilnya (review) tentu saja sesuai dengan pengalaman saya. Dan hasilnya, produk EF kian baik dari yg semula sepatunya terasa keras dan terakhir saya pakai sudah cukup empuk, bisa bersaing dengan sepatu2 kulit lain, terutama produk luar negeri.

Pengalaman Prita dan Didiet membuat saya sadar mengenai beberapa hal:
1. Posisi konsumen yg (masih) lemah.
2. Produsen (sebagian besar masyarakat) merasa dirinya sebagai raja atau pihak yg tidak boleh diganggu gugat.
3. Jalur hukum (baca: mengancam dan mengintimidasi) dirasa sebagai jalan paling mudah, baik utk menekan si 'korban' ataupun utk mendapatkan keuntungan (materi)

Padahal menurut saya, review itu MESTI JUJUR. Tentu saja agak sulit membedakan jujur dan mengada-ada, karena toh tiap orang punya pemikiran dan versi masing2 terhadap suatu object. "Rambut boleh sama hitam, tapi isi kepala pasti berbeda" adalah sebuah ungkapan yg cocok.

Bagaimana menurut anda?

Moral story:
- review itu mesti jujur
- produsen mesti mau dikritik, terutama jika kritiknya memang bersifat membangun
- UU ITE nampaknya masih belum berpihak ke blogger