Beberapa hari lalu, saya dikejutkan dengan berita yg saya terima dari sebuah media sosial. Dituliskan di sana, bahwa (pak) Irfan Anshory telah meninggal dunia.

Sejenak saya termenung. Irfan Anshory, sebuah nama yg tidak asing bagi saya. Salah satu guru yg mencerahkan saya, dalam hal ini di bidang Kimia, salah satu momok pelajaran yg (pernah) membuat saya merasa menjadi murid paling bodoh sedunia dalam hal Kimia. Beliau tidak pernah mengajar saya secara langsung, melainkan saya belajar dari buku2 karangan beliau.

Ingatan saya melayang ke beberapa (dipentung pembaca gara2 sok muda) belasan tahun silam, saat saya baru masuk SMA.

Masuk ke SMAN 2 Bandung adalah salah satu dambaan saya. Meski bukan SMAN paling favorit, SMAN 2 Bandung mempunyai daya tarik yg begitu kental. Selain karena keberadaan pohon karet yg begitu buesar (dan menyeramkan), SMAN 2 Bandung adalah SMAN yg kelas 1-3 masuk pagi semua. Berbeda dengan SMAN lain, yg kelas 1 masuk siang dan kelas 2-3 masuk pagi. Atau kadang kelas 1-3 masuk pagi dan kelas 2 masuk siang.

Sebagai anak muda yg masih polos (eh, sekarang juga masih polos kok, hihihi) saya terus terang buta dengan kondisi SMA. Hanya mendengar selentingan sana sini, bahwa mata pelajaran yg akan diujikan di EBTANAS SMA adalah Kimia. Dengan demikian, sejak lulus SD, ada 2 tambahan mata pelajaran yg mesti saya dan teman2 seangkatan pelajari lagi. Jika di SMP mata pelajaran Bahasa Inggris yg menjadi asupan baru, maka di SMA ada Kimia.

Dan mulailah masa2 berat bagi saya dalam belajar dan menggeluti Kimia. Bagaimana tidak? Masa belajar sudah 2 bulan sejak masuk SMA, dan itu berarti sudah ada pertemuan/belajar Kimia sebanyak (sedikitnya 12-16 kali). Dalam rentang tersebut, sudah ada ulangan sebanyak 2 kali. Yg memalukannya, dari 2x ulangan itu, saya berhasil menjadi 'Nobita', dg meraih nilai 0, YAAAAKKKKK...NILAI NOL!

Bu Ida, guru Kimia saya saat itu, bahkan sampai geleng2 kepala melihat nilai saya. Dan geleng2 beliau makin menjadi saat saya berhasil menunjukkan kebodohan saya (dalam Kimia) di hadapan beliau, tepat di meja guru. *rincian kebodohan tidak perlu saya jelaskan, bikin malu saja,hehe*

Saya pun (saat itu) hanya bisa termenung. Antara malu, sedih, marah, kesal karena saya tidak berhasil mengerti Kimia sedikitpun!

Untunglah, saya berhasil (sedikit menguasai) Kimia. Nilai 6 pun terpampang di semester pertama saya di SMA.

Masuk semester dua, saya dikejutkan lagi dg move ibu Ida, yg memasukkan saya ke dalam tim OLIMPIADE KIMIA! Saya sampai terheran-heran, apa ibu Ida hendak mempermalukan saya dengan menyuruh saya bergabung di tim Olimpiade Kimia?

Saya cukup tahu diri utk tidak menerima tantangan itu, agar saya tidak kian malu. Meski saya sempat ingin juga berkiprah di event adu pintar itu.

Semester dua pun ditutup dg angka 6 utk Kimia saya.

Perubahan besar terjadi pada saat saya menginjak kelas 2. Saya ingat, saya menemukan suatu ketertarikan sedemikian besar terhadap Kimia, usai membaca buku Kimia karangan Irfan Anshory ini. Jika saya tidak salah, bukunya bersampul coklat dengan gambar tabung reaksi dan kawan2.

Meski saat kelas 1 saya belajar dari buku Irfan Anshory juga, entah kenapa di buku kelas 2 ini sel2 kelabu di otak saya seperti tersengat dan mendadak semuanya begitu mudah untuk dipahami. Dalam sekejap, saya (dg suka rela) mendamparkan diri tenggelam dan belajar Kimia dari buku Irfan Anshory, terlebih usai membandingkan dg buku2 Kimia lain, penjelasan Irfan Anshory begitu terang benderang bagi saya.

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menyelesaikan soal2 Kimia. Di samping guru saya, bu Hasmiati, yg menjelaskan Kimia dg cara yg mudah pula, maka klop sudah pasangan guru ini membius saya dalam pelajaran Kimia.

Dan saya berhasil menutup semester 3 dan 4, dengan nilai 9 utk Kimia! Bahkan saya sempat ditawari PMDK di jurusan Teknik Kimia. Sayangnya saya tolak kesempatan ini.

Melalui artikel blog ini, saya ucapkan terima kasih kepada pak Irfan Anshory utk penjelasan Kimia-nya yg begitu mudah dipahami dan membuat saya begitu tergila-gila dengan Kimia saat itu. Semoga amal ibadah pak Irfan diterima-Nya dan segala ilmunya menjadi amal jariah yg tidak akan habis dan akan bermanfaat di hari Akhirat kelak. Aamiin.

Gambar dari sini.

Moral story:
- Kimia adalah satu pelajaran yg menakutkan bagi saya saat SMA
- kebegoan saya utk Kimia (saat itu) tidak terkalahkan dengan menyabet nilai 0 beberapa kali!
- tidak hanya kerja keras dan kemauan utk berubah yg membuat saya bisa mengerti Kimia. Bimbingan dan ajaran serta ilmu dari bu Hasmiati dan pak Irfan Anshory memegang peranan yg tidak kalah penting
- di mana ada kemauan, maka di situ ada jalan (menuju kesuksesan)