Hidup di Indonesia itu menyenangkan sekaligus susah. Menyenangkan (bagi saya) karena jika kita bisa survive hidup di Indonesia, maka insya ALLOH kita bisa juga hidup (dg lebih nyaman) di tempat/negara lain. Pengalaman dan cerita dari beberapa teman membuktikan hal tersebut.

Hanya saja faktor susah akan lebih dominan, terutama jika terkait dengan hal-hal yg terkait dg kebijakan publik. Hal ini dikarenakan seringkali para pengambil kebijakan (baca: pemerintah) seringkali menjungkirbalikkan logika(nya) pada saat membuat keputusan (terutama yg akan berkaitan dg masyarakat). Herannya, jika keputusannya berkaitan dengan (membuat mereka lebih kaya, atau buang2 duit di antara) mereka, logikanya bisa 'bener'.

Belakangan ini masyarakat Indonesia, terutama para pecinta film (termasuk saya), sedang gelisah dg keputusan pemerintah utk menaikkan pajak utk film2 asing yg hendak masuk ke Indonesia. Jika saya membaca dari sini, dituliskan bahwa kebijakan ini diambil (pemerintah) SBY usai mendengar keluhan dari Hanung (penggiat/produser film).

Sekilas, jika anda membaca artikel di atas, SEOLAH-OLAH tidak ada yg salah. Namun, jika anda membaca bagian ini:
"Presiden saat itu membaca keluhan Hanung Bramantyo yang mengeluhkan tingginya biaya pembuatan film di Indonesia," jelasnya.
Dan membandingkan dengan kebijakan yg diambil pemerintah, anda akan melihat betapa logika sudah dijungkirbalikkan.

Anda mengerti maksud saya? Eh, belum mengerti?

Ok, begini. Hanung mengeluhkan TINGGINYA BIAYA PEMBUATAN FILM di Indonesia. Menurut logika saya, mestinya pemerintah mengambil tindakan MENURUNKAN FAKTOR2 YG MEMBUAT MAHAL BIAYA PEMBUATAN FILM di Indonesia. Salah satu faktor yg (menurut saya) bisa menurunkan biaya tersebut adalah dengan MENGURANGI PAJAK BAGI PARA PENGGIAT/PEMBUAT FILM. Bagaimana, anda setuju dg logika saya?

Namun, alih2 menurunkan faktor2 yg membuat mahal biaya pembuatan film, pemerintah malah MENAIKKAN PAJAK FILM ASING.


Konsekuensinya:
1. Film Indonesia masih akan mahal, sehingga para penggiat film tetap akan sulit bisa memproduksi film dg jumlah yg cukup memadai utk diputar di bioskop.
2. Jikapun bisa memproduksi film dg budget rendah, maka film2 yg akan tampil adalah film2 kacanga. Tema sex, hantu, dan hal2 yg membuat bangsa Indonesia kian bodoh.
3. Tayangan bermutu malah kian sulit didapat.
4. Pembajakan DVD akan semakin menggila, diikuti dg naiknya harga keping bajakan ini.
5. (Kemungkinan) Dugaan adanya permainan karena akan ada pemain (distributor) baru dalam ranah import film.
6. Harga langganan TV Kabel juga akan naik.
7. Film2 Indonesia kian bermutu? (bagi saya) Merupakan mimpi yg masih kejauhan. Film Laskar Pelangi, Nagabonar 2, dan beberapa film sukses lainnya BELUM bisa dijadikan tolok ukur film2 Indonesia bermutu.

Jadi, demikian kesimpulan saya. Bagaimana menurut anda?

Gambar dari sini, meski ga ada hubungan dg perang kemerdekaan.

Moral of story:
- kenaikan pajak film asing akan bikin bangsa Indonesia kian bodoh
- pemerintah ga mau rugi. pajak membuat film tetap tinggi, plus dapat pajak (tambahan) dari film2 asing!