Melongok perkembangan media sosial yg satu ini memang cukup menakjubkan, meski tidak sefenomenal Facebook, tapi toh Twitter tetap menjadi salah satu favorit media sosial, termasuk saya.

Percaya atau tidak, Twitter sudah menjadi sebuah kekuatan yg tidak bisa diremehkan. Mengapa dia tidak bisa diremehkan?

1. Setiap orang bisa mengeluarkan pendapatnya.
Baik, buruk, bermanfaat, tidak berguna, caci maki, pujian, hinaan, apapun itu pendapat seseorang, dia bisa melampiaskannya di Twitter. Pelampiasannya ini akan bisa dibaca baik oleh para pengikut (follower) ataupun orang lain yg kebetulan 'nyasar' ke akun twitter tersebut (kecuali accountnya dibuat private). Para pekicau ini bisa 'orang beneran' atau sekedar anonymous.

2. Penyebaran yg sangat cepat.
Seseorang dg jumlah follower yg cukup signifikan, katakanlah > 500 follower, opininya akan bisa diteruskan (RT) oleh para followernya tersebut. Semakin banyak maka akan semakin cepat proses RT tersebut.

3. Tercatatnya tiap 'kicauan'.
Setiap kicauan akan mudah direkam dan diingat, apalagi cukup banyak tools yg bisa dimanfaatkan utk mencatat tweet seseorang. Dengan demikian, seseorang tidak bisa berbohong atau mungkir.

4. Tidak dibatasi ruang, waktu, dan SARA.
Seperti halnya 'sifat dasar' informasi di internet, dia tidak akan bisa dibatasi oleh ruang dan waktu. Saya masukkan faktor SARA karena di twitter kita bebas dan punya hak utk follow/mendapatkan kabar dari siapapun yg kita mau.

Berhubung saya mengetik artikel ini di akhir pekan, dan saya sedang malas mikir lagi, jadi setidaknya 4 poin di atas sudah cukup menjelaskan mengenai twitter. Empat poin yg saya sebut di atas ternyata menjadi 'dasar' dari berdirinya 'Negara' Twitter.

Saya sebut negara, karena percaya atau tidak, Twitter sudah menjadi sebuah kekuatan yg bisa menggerakkan banyak orang, meski tidak dibutuhkan seorang 'kepala negara resmi' sebagai pemimpinnya. Setiap orang bisa menjadi kepala negara, sepanjang dia bisa menggerakkan/membuat dia 'dipatuhi' oleh para followernya.

Beberapa kasus membuktikan bahwa Twitter tidak bisa diremehkan. Anda mungkin masih ingat dg Mario Teguh yg 'kepleset jari'. Dalam waktu singkat, kicauan Mario Teguh ini langsung tersebar dan menuai protes dari banyak kalangan, tidak hanya perempuan tapi juga pria. Akhirnya, account twitter MT berhenti beraktivitas(meski kemudian muncul lagi).

Kasus lain adalah gerakan menurunkan rezim pemerintah (diktator) di Mesir. Twitter memegang peranan (ter)penting dengan menjadi media komunikasi bagi para pendemo yg ingin segera menurunkan Husni Mobarak dari kursi kepresidenan yg telah didudukinya selama 30 tahun. Bahkan, pada saat internet diputus oleh pemerintah, upaya utk berkicau pun tetap diupayakan melalui telpon dg menggunakan fasilitas 'speach to text'.

Anda tentu juga masih ingat dengan kasus Prita bukan? Gerakan 'Koin untuk Prita' juga bisa terlaksana dan bisa dibilang sukses dengan adanya Twitter sebagai alat komunikasi dan penggeraknya.

Dan kini Negara Twitter sedang menggerakkan para rakyatnya dengan berita dan cerita dari Alanda Kariza, melalui blognya. Terlepas apakah ibunya memang bersalah atau tidak, sekali lagi Twitter telah membuktikan bahwa dia tidak bisa dianggap enteng. Terlebih dengan diblow upnya cerita Alanda ini ke berbagai media plus diiringi tutur bahasa dan gaya cerita yg menarik dari Alanda, yg notabene memang penulis cerita yg bisa dikatakan cukup baik, maka Negara Twitter bisa kembali menunjukkan kedigjayaannya jika para hakim terpengaruh cerita ini.

Bagaimana menurut anda?

Gambar dari sini.

Moral story:
- twitter merupakan media sosial yg cukup punya pengaruh
- semakin banyak follower, maka itu berarti anda harus semakin hati-hati menyebarkan sebuah berita/informasi