Saya bisa dibilang bukan penggila sepak bola seperti 2 adik saya. Tapi sejak saya kecil, saya cukup menyukai permainan sepak bola, terutama saat belum berkacamata, saya merupakan salah 1 striker kelas yg cukup handal. *haiyah*

Sayangnya, sejak saya berkacamata, saya mengalami kesulitan utk bisa bermain bola dg bebas dan menyenangkan. Penyebabnya, apalagi kalo bukan kacamata yg dirasa cukup mengganggu, terutama saat duel satu lawan satu ataupun saat melakukan duel udara (alias hendak menyundul bola).

Walau sudah jarang bermain sepakbola lagi, bukan berarti lantas saya tidak suka sepak bola. Berita2 ataupun pertandingan sepakbola masih cukup saya ikuti. Termasuk timnas, saya ikuti juga perkembangannya, meski terkadang diiringi rasa mual jika sudah membahas organisasi PSSI.

Klub sepakbola favorit jelas saya punya. Dari sekian banyak nama klub yg tersebar di dunia, saya menyukai Liverpool, Real Madrid, AC Milan, Bayern Muenchen. Menyukai di sini bukan berarti saya fans berat, hanya saya lebih intensif membaca, mengamati, dan mengikuti berita dari klub2 tersebut.

Di sini, saya akan fokus pada Liverpool, sebuah klub sepakbola yg berasal dari kota Liverpool, kota kelahiran grup band kesukaan saya, The Beatles.

Entah sejak kapan pastinya saya suka, tapi yg jelas saya sempat menyablon kaos dengan nomor punggung 7, entah siapa pemain Liverpool yg mengenakan. Pokoknya no 7 (saat itu) terlihat keren buat saya.

Dari sekian banyak pemain (legenda) Liverpool, Ian Rush yg paling membekas dalam ingatan saya. Selain karena hidung betetnya yg unik sehingga mudah dikenali, tapi juga karena gocekan dan totalitasnya ke Liverpool yg membuat saya suka. Sayangnya, saat ybs datang ke Jakarta beberapa waktu lalu, saya tidak sempat hadir di event tsb. Selain karena sibuk, saya pikir saya bukan fans2 banget terhadap klub sepak bola (seperti saya tulis di atas).

Mengikuti sepak terjang Liverpool, saya masih terkesan dg final Piala Champions 2005, saat Liverpool berhadapan dg AC Milan (klub sepakbola lain yg saya juga sukai). Saya ingat, saat itu adalah dilema bagi saya utk memilih salah satu klub, karena keduanya saya sukai. Toh melihat Liverpool 'dihancurkan' 3-0 di babak pertama, hati saya agak teriris juga, sedih bukan kepalang.

Hingga akhirnya Liverpool bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 3-3 dan akhirnya menjadi juara, saya merasakan semangat pemain Liverpool (saat itu) merupakan sebuah semangat yg HARUS SAYA MILIKI. Semangat pantang menyerah dan terus berusaha hingga peluit terakhir berbunyi.

Kehadiran Fernando Torres ke Liverpool membuat saya kembali memperhatikan perkembangan klub ini. Sempat deg2an dan senang ketika Liverpool sempat berada di puncak klasemen, hingga akhirnya mesti puas menempati posisi 5 di Liga Premier 2009/2010 (jika tidak salah).

Dan kali ini, kesedihan dan kegusaran yg saya rasakan terhadap Liverpool. Kekalahan demi kekalahan serta konflik di dalam klub membuat posisinya terpuruk, posisi terburuk yg pernah saya ketahui. Kepergian Benitez, lalu Hodson yg tetap gagal mengangkat peringkat Liverpool, dan terakhir, kepergian Fernando Torres, membuat saya jadi enggan utk mengikuti berita klub ini karena hanya hal2 sedih (menyedihkan) yg saya alami. Kehadiran Dalglish utk melatih Liverpool pun tidak membuat saya mau mengikuti lagi perkembangan Liverpool, karena ternyata posisi Liverpool pun masih jauh di posisi yg saya bayangkan, setidaknya di posisi 4 seperti yg selama ini ditempati Liverpool.

Beberapa teman saya mengejek Liverpool menjadi Loserpool. Bahkan slogan YNWA, You'll Never Walk Alone, yg selama ini menjadi slogan 'keramat' diplesetkan menjadi You Never Win Again, saking seringnya Liverpool mengalami kekalahan.

Dan kini saya hanya bisa memandang dg prihatin 2 jersey (kaos sepakbola) Liverpool saya, pemberian adik saya. Tidak ada lagi rasa bangga memakai jersey Liverpool, hingga (mungkin nanti) Liverpool bisa beranjak ke posisi yg lebih baik.

Well, seperti saya tulis, saya bukan fans yg baik, yg mau menemani klub favoritnya di saat duka dan suka. Saya hanya ingin menemani Liverpool di saat senang, karena saya bosan dg hal2/berita2 sedih ttg Liverpool. Hehehe.

Foto2 dari sini, sini, sini, dan sini.

Moral story:
- Liverpool pernah menjadi klub yg begitu ditakuti di Eropa, terutama di pertengahan 80an.
- Hidung betet Ian Rush, menurut saya bukanlah ejekan, justru julukan yg unik.
- Kondisi Liverpool sekarang tidaklah menggembirakan
- Saya fans Liverpool saat Liverpool ok. Jika tidak ok, saya bukan fansnya, hahaha.