Di milis alumni jurusan saya, sudah berkali-kali terjadi perdebatan yg tidak bermanfaat. Istilah umumnya: debat kusir. Herannya, debat kusir ini seringkali terjadi di kalangan orang2 'pintar', dalam hal ini setidaknya mereka sudah mempunyai gelar S2.

Jika debat kusirnya menyenangkan dan melepas ketegangan, saya masih maklumi, tapi jika debat kusirnya sudah saling mengejek pendapat orang bahkan cenderung ke pribadi, nah hal2 seperti itu yg membuat saya bertanya-tanya. Katanya orang pinter, tapi kok bisa2nya mengeluarkan pendapat seperti itu? Apakah mereka memang tidak punya etika dalam berkomentar?

Nampaknya ke'pintar'an mereka hanyalah sebatas pintar dalam intelektual semata, tapi dari sisi emosi bisa dikatakan mentah.

Tak jarang saat ada orang (A) mengeluarkan pendapat utk menjawab, malah pribadinya yg menjadi bahan ejekan oleh si B. Malah saat si B diminta menjawab si A, si B malah muter2 ngemengnya, yg ujung2nya yaaa mengejek si A.

Si A sendiri kadang ga jelas juga cara mikirnya. Mungkin ybs terlalu pinter (buat dirinya sendiri) sehingga malah menemui kesulitan utk menjelaskan kepada orang lain.

Ujung2nya si A-lah yg 'divonis' sebagai 'penjahat' mailing list. Padahal bisa jadi pendapat si A itu benar, hanya saja ybs tdk bisa menjelaskannya. Efeknya, setiap si A posting sesuatu, selalu ditanggapi dg negatif. Intinya sih si A menjadi 'public enemy' di milis itu.

Nampaknya ada yg salah dengan teman2 sejurusan saya ini. Di jurusan lain, setahu saya, antar alumninya saling membantu. Entah dalam mencarikan lapangan pekerjaan, atau jika ada teman sejurusannya yg menghadapi masalah. Tapi di jurusan saya, para alumninya (yg secara intelektual lebih pintar) justru saling bertikai dan berdebat kusir yg sia-sia.

Tidak heran banyak orang yg unsubscribe dari milis itu karena inbox mereka dipenuhi email yg tidak bermutu. Saya sendiri masih bisa bertahan karena saya bisa belajar banyak dari debat kusir yg terjadi.

Gambar dari sini.

Moral story:
- menjadi orang pinter itu penting, tapi jadi orang baik itu lebih penting.
- menjadi orang pinter (intelektual) itu bukan jaminan punya kecerdasan emosional.
- lebih bahaya orang pintar yg jahat daripada orang baik yg tidak terlalu pintar (biasa2 saja).
- orang pintar yg senang mengejek pendapat orang lain, terutama menyerang pribadinya, patut dikasihani. otaknya hanya berisi cara utk menjatuhkan orang lain, at any cost.
- dari milis yg merupakan kehidupan maya, saya bisa melihat kenapa meski di Indonesia banyak orang yg pintar tapi tidak banyak perkembangan. penyebabnya, orang2 pintar tersebut lebih sibuk mengurus dan membahas hal2 yg tidak penting dan tidak produktif.
- dan saya termasuk orang yg cuma menonton dan mengeluarkan unek2 di blog saya ini. daripada ikutan nyampah di milis, ahhaha.
- hal yg menimpa si A adalah bentuk bullying.