12/28/2010


Artikel ini bukan berarti orientasi seksual saya berubah. Ga...ga ada hubungan sama sekali. Adalah hal yg wajar jika sebagai orang ganteng, saya juga mengakui kegantengan orang lain. *haiyah, ditimpuk*

Selama beberapa hari belakangan ini, sebuah stasiun televisi menyiarkan film2 James Bond, dari yg jaman kuda gigit besi hingga kuda main twitter. Dari situ, saya sempat memperhatikan para aktor yg membintangi karakter James Bond ini. Tak dinyana, Eddy Fahmi juga ngeplurk hal yg saya pikirkan.

Dari sekian banyak aktor yg menjadi James Bond, saya melihat 2 orang yg cocok sebagai James Bond. Pertama adalah Pierce Brosnan, kedua Roger Moore / Sean Connery.

Saya pernah baca, Sean Connery dianggap James Bond paling keren sepanjang masa. Namun jika saya lihat film2 JB yg dibintanginya, kok kerennya masih kalah oleh PB yak? Dari cara bertarungnya dan pdkt ke lawan mainnya (cewe), PB terasa lebih flamboyan dan bener2 playboy. SC saya anggap lebih dingin dan lebih cocok utk jadi JB yg beraksi dg pistol, bukan utk pdkt dg cewe dan berkelahi.

PB sebenarnya sudah sejak lama diincar utk menjadi JB. Sayangnya, kontraknya utk menjadi pemain tv seri "Remington Steele" membuat banyak fans-nya mesti bersabar menunggu sekian lama, sebelum akhirnya dia memulai debutnya di film "Golden Eye".

Sayangnya, PB tidak banyak membintangi film JB. Dari sini, saya baca PB hanya membintangi 4 film JB. Sayang sekali, padahal saya masih berharap bisa menonton PB membintangi sedikitnya 5-10 film JB.


Anda sendiri pilih siapa sebagai aktor favorit pemeran JB?

Foto dari sini dan sini.

Moral story:
- James Bond sebenarnya tokoh fiktif
- mengakui kegantengan orang lain bukan berarti saya kalah gantengnya, hahaha
- aktor lain mah lewaaatttt, xixixi..

Posted on Tuesday, December 28, 2010 by M Fahmi Aulia

No comments

12/26/2010


Kekalahan 0-3 dari Malaysia yg baru berlalu menyisakan kelegaan kepada diri saya dan Wify.

Lho, kok lega? Situ pengkhianat bangsa yak? Tidak nasionalis yak?

Oh, jangan salah paham dulu, dude. Kelegaan kami lebih banyak karena dengan kekalahan ini, diharapkan kita bisa belajar banyak hal:

Pemujaan Yang Berlebihan.
Duh, apakah anda2 melihat begitu besar pemujaan yg diberikan kepada timnas kemarin? Sebelum berangkat, jutaan pujaan diberikan, seakan-akan timnas sudah menjadi juara. Akibatnya, saya yakin, mental para pemain timnas agak terbuai. Efeknya? Jelas...jumawa padahal belum apa2.

Eksploitasi Timnas.
Yang lebih parahnya lagi, timnas kita harus menghadiri perayaan2 dan upacara2 ga penting. Mulai dari istighosah, kunjungan ke rumah Ical, dst dst. Cape boowww...waktu luang itu mestinya digunakan untuk istirahat lah. Ngapain juga mesti menghadiri acara2 seperti itu?! Lebih parahnya lagi, saya sempat membaca bahwa kemarin malam (malam Minggu) Menpora mengajak makan malam timnas. Untungnya Riedl menolak mentah-mentah!

Para Pejabat, Introspeksilah Kalian!
Ok, poin ini mungkin terasa naif dan (terasa sekali) musykil dilakukan! Saya tidak banyak komentar deh untuk hal ini.

Perbaiki Mental Pemain Timnas!
Insiden penyorotan laser oleh para penonton Malaysia jelas bukan tindakan sportif. Tapi, justru celah non teknis ini yg diincar oleh mereka. Dan ternyata hal ini berhasil. Konsentrasi buyar dan mental melempem, mengakibatkan permainan menjadi kacau balau.

So, masih ingin menang? Perbaiki dulu hal2 di atas.

Bagi saya, timnas tetaplah harus disemangati dan dipuja. Perjuangan mereka utk mencapai babak final sudah merupakan sebuah prestasi. Dan tentu saja, untuk pengurusnya, terserah kalian, mau dicaci boleh, mau disunat boleh, mau digorok juga boleh, wekekke..

Jangan salah, yg menembakkan laser adalah GAYUS! Wakaka...

Moral story:
- timnas sudah berjuang maks, tapi mental masih minimal
- timnas dipuja setinggi langit oleh rakyat Indonesia, dibanting oleh pemain Malaysia di stadion

Posted on Sunday, December 26, 2010 by M Fahmi Aulia

No comments

12/19/2010


Ya ya ya...aku terlambat menonton salah satu film bagus di tahun ini. Toh akhirnya kemarin berhasil juga berburu dvd bajakan yg original *eh* sehingga aku bisa menonton film ini (dan selanjutnya menulis artikel ini).

Film Wall Street 2 ini sedikit banyak berhubungan dengan WS 1, terutama karena tokoh utamanya masih sama, yakni Gordon Gekko, seorang pialang saham yg begitu rakus dengan uang hingga akhirnya terperangkap jebakan musuhnya dan menghabiskan sekian lama di penjara. Michael Douglas, menurutku, masih berhasil memerankan Gekko yg mempunyai sekian banyak topeng (tergantung dari orang2 yg dia temui dan hadapi).

Cerita ttg bursa saham memang selalu menyenangkan, terutama ketika terjadi rush yg akhirnya akan berujung pada kekalahan dan kehancuran orang2 yg rakus ataupun orang2 yg tidak punya perhitungan. Rush juga pernah kita alami pada tahun 1998, ketika dollar mendadak membubung tinggi dan harga2 kian tak terjangkau dalam waktu sekejap. Lantai dan bursa saham mendadak jeblok serta mengakibatkan banyak orang mendadak miskin.

Ok, kembali ke film WS 2.

Di sisi lain, Jake Moore adalah seorang anak muda yg (terkadang) begitu naif dan percaya kehidupan di bursa saham akan berjalan lurus2 saja. Hingga akhirnya gurunya, si Zabel, bunuh diri gara2 krisis yg melanda perusahaannya. Di samping itu, pertemuannya dengan Gekko, diawali di sebuah seminar dg pembicara Gekko sendiri, membuatnya banyak berpikir mengenai siapa pelaku yg menghancurkan perusahaan tempat dia bekerja sekaligus membuat gurunya bunuh diri.

Secara keseluruhan film WS 2 ini ok. Namun keberadaan Shia LaBeouf masih tidak bisa dipisahkan dari imejnya di film action Transformer. Menurutku, Charlie Seen-lah yg masih pantas mendampingi Douglas.

Aku beri nilai 7 untuk film ini. Terutama karena akhir cerita yg bisa ditebak, HUH!

Foto dari sini.

Moral story:
- jadi orang jgn serakah
- keserakahan org bisa terlihat dari transaksinya di bursa saham

Posted on Sunday, December 19, 2010 by M Fahmi Aulia

No comments

12/15/2010



Terkenal itu menyenangkan, demikian pemikiran sebagian besar orang. Banyak cara yg dilakukan untuk menjadi terkenal. Mulai dari cara yg baik-baik, hingga cara yg nyleneh dan ga masuk akal (bagi sebagian besar orang 'normal' dan waras pikirannya).

Sayangnya, bahasa Indonesia tidak membedakan kata terkenal ini, tidak seperti bahasa Inggris yg membedakan terkenal menjadi famous dan notorious. Jika famous merujuk kepada terkenal karena hal2 yg baik (misalnya JK Rowling yg famous karena buku2 Harry Potternya) maka notorious disematkan kepada orang2 yg terkenal karena kelakuan miringnya. Aku ga perlu beri contoh, sudah terlalu banyak juga contohnya kok, haha.

Pencarian (konon) ajang dan bakat bisa menjadi cara utk famous...dan notorious di saat yg bersamaan. Misalnya ratu kecantikan sedunia. Begitu seorang perempuan mendapat gelar ini, kontan famous akan disematkan ke dia. Namun jika kemudian ada skandal, misalnya foto bugil atau video porno milinya muncul, maka notorious akan menggantikan si famous.

Di Arab sendiri aku pernah dengar cerita dari Bapakku, utk menjadi terkenal sangatlah mudah. 'Cukup' kencingi sumur air zam-zam, maka ybs akan terkenal! Hahaha...aku sih bayangkan, pelakunya tidak saja terkenal di Arab, tapi juga di seluruh dunia. Repotnya, notorious yg akan disematkan...dan dia akan dikejar2 dan (bukan tidak mungkin) akan dihabisi oleh orang2 Islam radikal, apalagi dari kelompok 3 huruf itu, hehe.

Nah, 2-3 hari belakangan ini, aku banyak mendapat berita mengenai protes penggunaan lambang negara (Burung Garuda) di kaos pemain sepakbola. Baru pagi ini aku dapat berita yg lengkapnya di sini.

Terus terang, aku tidak terlalu peduli dg gugatan ini. Namun, menarik disimak adalah pendapat Roy Suryo, yg mengatakan penggugat kaos Timnas mau terkenal.

Aku kutip saja ucapan Roy Suryo ini, agar aku tidak dianggap salah interpretasi, hahah.
Satu hal lagi, kata Roy, dia mendengar sejarawan Asvi Warman Adam menyatakan lambang Garuda sudah dipakai di kaos Timnas sejak tahun 1956. Bahkan, lambang Garuda yang dipakai sangat besar, memenuhi dada.

"Kalau David mau menggugat, kenapa tidak menggugat saja sejak dulu? Mengapa baru sekarang? Ini jelas orang ini mencari popularitas, mencari momen saja," katanya.

Nyengir saja deh aku baca berita 'heboh' ini.

Menurut anda, David ini pantas disematkan famous atau notorious?

Foto dari sini.

Moral story:
- terkenal itu gampang, yg susah itu terkenal dg cara yg baik dan punya output yg baik
- bahasa Indonesia kurang cukup responsif utk masalah terkenal ini
- gugat lambang negara sbg salah satu cara utk terkenal
- David Tobing ternyata cukup terkenal. baca aksi2nya di sini.

Posted on Wednesday, December 15, 2010 by M Fahmi Aulia

5 comments

12/12/2010


Adalah hal yg menjengkelkan ketika kita mesti berkonflik di kantor. Terlebih jika pemicunya bukan dari sisi kita, tapi karena ada ketidaksukaan atau kedengkian dari orang lain yg merasa terancam oleh keberadaan kita. Terancamnya bermacam-macam, entah karena gajinya lebih kecil atau karena dia kalah exist atau kalah pinter.

Untuk menghadapinya, sebenarnya bisa bermacam-macam, tergantung dari tingkat konfliknya. Beberapa orang biasanya cenderung menghindar dari konflik yg berakibat dirinya akan makin terinjak-injak dan si 'musuh' akan semakin jumawa.

Percaya atau tidak, konflik antar staf perempuan itu ternyata lebih 'menyebalkan' (setidaknya dari sudut pandangku) daripada konflik antar sesama laki2. Bagiku, jika ada konflik yg aku alami, biasanya aku lihat dulu penyebabnya. Jika memang diriku yg salah, it's ok. Aku akan minta maaf dan berusaha tidak mengulanginya lagi. Tapi jika penyebabnya bukan dari diriku, lalu aku kena getahnya...apalagi setelahnya tidak ada pernyataan maaf atau apapun dari pihak yg menyerangku, hahaha...waspadalah...waspadalah...PEMBALASAN ITU AKAN LEBIH KEJAM DARIPADA TIDAK DIBALAS, ahhaha..

Hey...jangan lantas menuduhku tidak gentleman dg sikapku! Tapi lihat dulu siapa yg memulai kekisruhan itu! Buat apa aku mesti memaksakan diri utk bersikap gentleman jika pihak sana juga tidak ada niat utk bersikap gentleman? Buang2 waktu dan energiku saja bersikap seperti itu!

Lalu, jgn salah lho...konflik antar lelaki juga bisa dipicu karena kedengkian! Adalah repot jika sudah mesti berhadapan dg orang dengki, karena apapun yg kita lakukan, meskipun niat kita baik, akan selalu dianggap salah di mata dia! Aku pernah bertemu dg org2 seperti ini. Solusinya? Jauhi saja org2 yg seperti itu. Mereka itu mirip dengan dementor di Harry Potter, yg doyan menghisap kebahagiaan orang lain dan membuat ybs menjadi kehilangan keceriaan dan harapan.

Toh, segimanapun parahnya konflik antar lelaki, aku belum pernah sampai menantang mereka utk duel! Hahahah...jangan salah ya...kalo aku sudah sedemikian kesal, aku bisa saja tantang mereka utk selesaikan secara jantan. Kalo mereka ndak nanggapi, yaa ketauan bahwa mereka bukanlah tipe lelaki jantan...alias lelaki ayam sayuuurr...hahahah.

Paling parah sebenarnya konflik/gesekan antar staf perempuan. Terutama jika staf senior melawan staf yg lebih junior. Benar2 menjengkelkan lah! Apalagi jika sampai ada penggalangan jama'ah utk membenci secara berjama'ah. Tentu saja si staf senior sebagai imamnya. Itu akan lebih merepotkan karena berarti si staf junior mesti melawan sekian banyak orang yg terpengaruh. Dan aku PALING BENCI dg orang2 yg menggalang dukungan utk memusuhi secara berjama'ah. Nampak sekali ybs SEBENARNYA GA ADA APA2NYA kalo sendirian.

Untuk mengatasi 'imam' seperti ini sebenarnya sepele saja. LABRAK SAJA LANGSUNG ybs! Tanya apa maunya! Aku jadi inget cerita Wify. Temannya ada yg sampe melempar barang ke orang yg memusuhinya, gara2 kejadian seperti yg aku ceritakan di atas. Efeknya manjur. Ybs sekarang ndak terlalu berani neko2 dan cari masalah lagi ke temannya Wify.

Anda sendiri punya solusi apa jika menghadapi konflik, apalagi jika tidak ada hubungan dg pekerjaan? Main lembut (santet misalnya, hahaha), mendiamkan saja, atau langsung 'main kayu'?

Gambar dari sini.

Moral story:
- nyaris tidak ada kantor yg tidak ada konflik
- konflik bisa dihindari jika kedua belah pihak dipertemukan dan saling tahu apa keinginan masing2
- jika bertemu dg trouble maker, si imam bermusuhan secara berjama'ah, 'toyor' saja langsung, palingan dia ngeper juga!

Posted on Sunday, December 12, 2010 by M Fahmi Aulia

No comments