11/24/2010



Dalam dunia kerja, seringkali kita bertemu dengan orang2 yg jabatannya lebih tinggi yg biasa disebut boss. Ada berbagai tipe boss dan aku harap tidak pernah bertemu dg boss seperti yg dimiliki oleh Kirani, yg telah sukses membukukan kisah hidupnya bersama si boss ke dalam buku "My Stupid Boss".

Job desc boss ya jelas lah, dia bertugas memberi makan anak buahnya, dengan cara mencari relasi2 yg mau menawarkan atau menyediakan proyek2 yg selanjutnya akan dikerjakan oleh anak buahnya. Boss tentu bertanggung jawab penuh terhadap masa depan perusahaannya, karena (mayoritas) boss adalah sekaligus sebagai owner (pemilik) perusahaan tersebut.

Boss juga mempunyai kewajiban untuk memutuskan hal2 yg dirasa penting. Kontrak kerjasama, mendelegasikan orang, tanda tangan pembayaran, adalah sebagian kewajiban yg mesti dilakukannya.

Sayangnya, tidak semua boss mempunyai tanggung jawab. Cukup banyak boss yg main lempar tanggung jawab yg berkesan dia cuci tangan terhadap hal2 yg seharusnya dia lakukan. Jika dia mendapat sebuah permasalahan yg mesti dia putuskan (setuju/tidak) tidak jarang dia 'oper' ke orang lain. Jika sesama boss sih tidak apa2, lha ini malah anak buahnya (yg terkadang tidak kompeten sama sekali) utk memutuskan hal penting tersebut.

Jika anda temui hal seperti yg aku tulis di atas, bisa dipastikan kondisi perusahaan tersebut tidaklah baik. Mengapa? Lha wong bossnya saja melemparkan tanggung jawab yg mesti dia emban, maka bisa diprediksikan anak buahnya/staf2nya juga bertindak hal yg sama. Well, mungkin tidak semua, tapi aku yakin mayoritas akan berbuat seperti itu. Nah, boss seperti inilah yg disebut bossy.

Salah seorang temanku malah mempunyai istilah yg lucu utk boss2 yg bertindak seperti itu. Dia bilang, boss2 tersebut mempunyai dan menguasai jurus Tai Chi.

Seperti kita ketahui, dasar dari tai chi adalah 'memantulkan' kembali semua serangan yg datang padanya. Dan aku hanya tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Sifat dan perilaku bossy tidak saja dimiliki oleh para boss. Kita juga bisa jumpai sifat ini di orang2 dg level di bawah boss. Walau bukan boss, bukan berarti mereka tidak bisa nyuruh2 dan lempar tanggung jawab. Bahkan bisa dibilang lebih bossy dari bossnya sendiri, hahaha.

Cerita temanku, atasan dia yg levelnya supervisor, mempunyai sifat bossy ini. Semua masalah yg dikeluhkan (termasuk permintaan2) client, dilempar semua ke anak buahnya tanpa ada filter dari dirinya. Pokoknya terima dan setujui! Padahal permintaan2 dan keluhan2 tersebut mestinya dianalisa dan dipikir dulu olehnya sebelum (yg dia setujui) dia serahkan ke anak buahnya.

Sementara, jika diminta hadir untuk rapat, dia dengan serta merta menolak utk hadir. Anak buahnya yg mesti ikut. Ataupun jika dia 'ingin' hadir, maka dia harus didampingi orang lain.

Orang2 seperti di atas, menurutku, akan sulit untuk diajak kerjasama dan membangun tim yg kokoh. Semuanya cari aman sendiri serta ingin enak sendiri. Istilahnya, magabut, makan gaji buta. Makin tinggi ilmu dan jurus tai chi yg dikuasai, makin magabut dia, ahahah.

Aku? Aku sendiri melihat tanggung jawab sebagai sebuah amanat (ya iya lah). Namun, ada kalanya kita memang tidak perlu terlalu berlebihan menanggung sebuah tanggung jawab. Secukupnya saja, sesuai dengan kemampuan dan porsi kita. Tidak perlu menjadi super hero dengan berlebihan memikul tanggung jawab, dan tidak perlu juga menjadi bossy (dan loser) dg menolak semua tanggung jawab.

Jika anda merasa sudah merasa bertanggung jawab tapi hasilnya tidak seperti yg anda harapkan, terutama karena semua tanggung jawab dipikulkan kepada anda, solusinya hanya satu. RESIGN!! Hahaha.

Sudah ah, nanti aku dianggap ngompori pula.

Gambar dari sini.

Moral story:
- dapat boss yg baik itu anugerah, dapat boss yg 'buruk' juga anugerah. setidaknya anda bisa bikin buku juga seperti Kerani, ahhaha.
- jika seorang boss tidak bisa bertanggung jawab utk keputusan2 yg penting, maka patut dipertanyakan kapabilitasnya sbg boss.
- anda tidak puas dg boss sekarang? ya pindah saja, gitu aja kok repot.

Posted on Wednesday, November 24, 2010 by M Fahmi Aulia

No comments

11/17/2010



Uploaded with ImageShack.us

Membaca postingan Eddy Fahmi, salah seorang temanku di plurk, aku terheran-heran saja membaca tawaran layanan yg dilakukan oleh Telkomsel. Sebenarnya tidak terlalu terheran-heran, karena aku sempat terpikir operator mana yg akan memanfaatkan momen 4L4y utk jualan.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Telkomsel yg 'memberanikan' diri utk meluncurkan layanan ini. Aku sedikit kecewa kenapa Telkomsel yg meluncurkan layanan ini, bukan operator yg katanya funky dan membidik anak muda. *silakan tebak sendiri operator yg aku maksud, eheh*

Di plurk itu (dan belakangan di ranah twitter), banyak yg menyuarakan agar layanan ini dihentikan. Alasannya agar bahasa Indonesia 'terselamatkan' dari 'kehancuran' dan apapun itu namanya. Hingga saat ini, aku masih merasa sikap para 4L4y itu biasa2 saja, selama tidak memancing emosi.

Penulisan dan gaya bahasa 4L4y yg dirasa amburadul oleh banyak orang, menurutku tidak perlu dipersoalkan dan ditanggapi terlalu berlebihan. Menurutku, bahasa Indonesia masihlah dalam kondisi aman2 saja.

Beberapa alasan:
1. kaum 4L4y itu tidak akan menggunakan tulisan seperti itu di kehidupan 'resmi' mereka. Setidaknya, saat mereka sekolah dan berinteraksi dg guru atau dosen, tulisan yg digunakan masihlah tulisan normal kok. Tulisan m3R3k4 yg 4mBu24DuL itu biasanya mereka gunakan utk komunikasi 'non resmi'. Setidaknya itu yg aku ketahui. FB, Twitter, Plurk, menurutku merupakan komunikasi non resmi, sehingga (bagiku) sah2 saja mereka menggunakan gaya bahasa dan tulisan yg 't1D4k w4J4r'.

2. para 4L4y itu masih (sedang) berada di usia yg 'labil'. Pencarian jati diri kalo menurut para psikolog. Aku yakin kita semua pernah melalui masa2 seperti itu, hanya jamannya saja yg beda sehingga beda cara menjalaninya. Bagi generasi 80's, mereka banyak yg bertingkah seperti Lupus atau si Boy, tokoh idola di jaman itu. Di th 90's, Michael Jackson dan boys band membuat banyak abg yg meniru pola mereka. *mudah2an analoginya masih nyambung, ehhe*

Jadi, utk tahun 2005-2010 ini merupakan 'jamannya' kaum 4L4y. Biarkan saja mereka berekspresi. Toh nanti jika ada mode baru, mereka akan berganti juga kok. :-)

Justru yg menjadi tantangan adalah bagaimana caranya agar pengajaran Bahasa Indonesia menjadi menarik utk diikuti dan diterapkan? Jgn menyalahkan jaman/mode ah, ntar keliatan paranoidnya dan ketidakmampuannya deh!! :-p

Moral story:
- ga usah pusing dg kaum 4L4y
- bahasa Indonesia itu tetep cool kok!
- cuma generasi tua yg protes *xixixix...*

Posted on Wednesday, November 17, 2010 by M Fahmi Aulia

No comments

11/10/2010



Jika anda pindah kerja ke tempat baru atau sedang berada di tempat baru, apa yg anda cari pertama kali?

Aku sendiri mempunyai daftar apa2 yg aku cari di lingkungan baru:

1. Masjid
Sebenarnya yg pertama aku cari antara masjid dan tempat makan. Jika di lingkungan baru itu sudah terlihat (minimal) tempat makan di luar gedung, maka hal pertama yg aku cari adalah masjid/mushola.

Yaaa...meski saya bukan muslim yg lurus2 amat, keberadaan mushola/masjid cukup penting, biar gampang jika hendak sholat.

2. Tempat makan
Aku tidak menjadikan ini sebagai poin 1 karena jarang sekali aku berniat cari makan saat baru tiba di sebuah tempat baru. Pengalaman sebelumnya, aku sudah temui tempat makan secara langsung (saat tiba di tempat baru) jadi tidak perlu tanya2 lagi.

3. Toilet/WC
Ini sebenarnya bisa menjadi poin 1. Tapi tergantung juga. Biasanya di mushola sudah ada toilet/wc, jadi aku tempatkan di poin 3.

4. Pusat perbelanjaan
Nah, kalo ini disimpan di poin 4, yaaaa sukur2 lingk baru dekat dg pusat perbelanjaan jadi bisa jalan2 kalo boring/ada waktu luang, xixixi.

Anda sendiri, apa yg pertama kali anda cari di lingkungan/tempat baru?

Gambar dari sini.

Moral story:
- segera lakukan adaptasi/pengenalan lingkungan saat tiba di lingkungan baru
- poin2 di atas bisa diubah sesuai kebutuhan

Posted on Wednesday, November 10, 2010 by M Fahmi Aulia

No comments

11/04/2010

Dalam sebuah keluarga, terutama yg sudah dikaruniai anak, akan terdapat perbedaan cara panggil terhadap anggota keluarganya. Misalnya, suami istri yg baru menikah ada yg memanggil pasangannya dg "Mas", "Dik", "Adinda", "Sayang", bla 3x. Nah, setelah punya anak, berubah pula panggilannya, menjadi "Abi", "Ayah", "Papi", "Bunda", "Ibu", dst dst.

Ternyata panggilan ini mempunyai 'masa'nya, dalam artian tiap generasi mempunyai dan menyimpan kisah yg berbeda mengenai cara dan catatan panggilan ini. Panggilan yg mungkin sudah ada sejak jaman dulu kala antara lain "Ayah", "Papa", "Papi", "Bapak", "Mama", "Ibu", "Bunda", "Umi". Tentu saja ini belum termasuk dengan panggilan yang berlaku di daerah (sesuai dengan bahasa daerah setempat).

Belakangan ini aku perhatikan ternyata perkembangan nama panggilan (terutama terhadap ortu) kian beragam. Yaahhh...kalo mau dikait-kaitkan, lha wong jaman modern, wajar juga ada perubahan dalam panggilan. Meski masih saja ada yg tetap menggunakan istilah yang sudah ada. Yaaa...aku sih tidak melarang mereka. Suka2 mereka lah. Itu kan hak asasi.

Beberapa nama panggilan terhadap ortu yg aku dapatkan antara lain Yapi & Yami, Baba & Bubu, Pepeh & Bubu. Aku yakin anda tahu istilah Pipi & Mimi yg digunakan oleh salah satu (mantan) pasangan artis super duper terkenal ituh, hehe.

Aku dan Wify sendiri tentu saja sudah terpikir hal itu, maksudnya panggilan ortu oleh anak. Wify yg punya ide untuk panggilan bagi kami bertiga, dan aku cukup pasrah dan terima saja dengan ide2nya Wify, lah wong memang menarik dan lucu, jadi kenapa mesti diprotes?

Muncullah istilah Pibi, Bubi, dan Embi.

Embi sendiri muncul karena kami merasa kehadiran neng Mikaila ini adalah sebuah keajaiban (miracle). Bagaimana tidak disebut keajaiban, karena usai 3 tahun berikhtiar untuk menyembuhkan penyakit, ehhhh...alhamdulillah,tak dinyana dan tak disangka Mika muncul. So, Wify akhirnya memberi nama eMBi, dari Miracle Baby.

Sementara untuk Pibi dan Bubi sendiri berasal dari ide berikut. Pibi = Papa Bear (maklum, saat itu beratku sempat mencapai angka 72 kg, dan sering dibilang mirip beruang, ahhaha). Disebut pibi agar lebih mudah saja mengucapkannya. Bubi sendiri bisa berarti Bunda Bee (Wify adalah penggemar berat hal2 yg berbau lebah).

Akhirnya, ketiga nama inilah yg melekat di diri kami bertiga. Jikalau nanti eMBi/Mika punya adik, tentu saja akan punya nama panggilan sendiri. Sebaiknya berakhiran -bi juga (hanya saja, yg pasti bukanlah BABI, hahaha). Ah, ndak usah dulu mikir nama panggilan adiknya eMBi, lah wong nampaknya belum akan muncul dalam waktu dekat.

Moral story:
- nama panggilan ortu bervariasi, tergantung waktu dan daerah.
- setiap anak (dan orang) itu unik, maka sebisa mungkin buatlah sesuatu yg unik pula bagi mereka.
- buat dan gunakan panggilan ortu yg lucu dan akrab, agar anak merasa akrab dan tidak jauh dari ortu.

Posted on Thursday, November 04, 2010 by M Fahmi Aulia

5 comments