9/19/2010



Blah, walau aku orangnya hi-tech *halah*, tapi ternyata mengalami kejadian ini, lupa password! Password yg aku lupa, untungnya, 'cuma' password aplikasi Kaspersky-ku. Jadi, aku pasang password di aplikasi Kaspersky yg aku install. Gunanya jelas, agar tidak sembarangan orang bisa mengubah konfigurasinya.

Nah, entah kenapa, sejak lisensinya out of date sekitar 1/2 bulan lalu, saat aku instal KIS 2011, passwordnya yg aku masukkan kok dianggap salah?! Padahal aku ingat banget, passwordnya yaaa itu2 saja dan ga diubah.

Untungnya, aku berhasil temukan solusinya di sini. Sekarang si Banzire sudah menggunakan KIS 2011.

Gambar dari sini.

Moral story:
- hati2 jika hendak meng-set password, kalo lupa bisa berabe
- untuk Kaspersky, sebaiknya tidak perlu set password2an, bikin ribet :p

Posted on Sunday, September 19, 2010 by M Fahmi Aulia

1 comment

9/18/2010



Anda-anda sekalian pasti pernah kan melakukan apa itu yg disebut menunggu? Pekerjaan yg super duper membosankan kan? Apalagi jika orangnya memang dikenal sbg tukang ngaret. Pengen banget menthung atau bahkan meninggalkan/membatalkan janjian. Well, sebenarnya tidak semua menunggu itu terkait dengan orang. Ada banyak hal yg terkait dg aktivitas menunggu.

Berikut ini aku tuliskan 10 kegiatan menunggu yg paling menyebalkan.

10. Menunggu angkutan umum.
Sudah bukan rahasia lagi, menunggu angkutan umum adalah salah satu kegiatan menunggu yg menyebalkan. Terutama jika hujan deras mengguyur, lalu kita ga bawa payung atau jas hujan. Sudah gitu, saat menunggu, eh, di sebelah kita ada yg ngajak kenalan, sok kenal sok dekat gitu. Ihhh...ndak banget deh! Belum lagi, kalo saat nunggu, eeehh...kesiram air dari jalanan, gara2 ada kendaraan yg lewat.

9. Menunggu week end.
Setiap hari Senin, orang2 sudah ga sabar utk menunggu week end. Utk itu, berbagai aktivitas dilakukan utk menunggu datangnya week end. Ada yg kerja dg semangat, ada yg malas2an. Yg paling kasian itu adalah yg saking sibuknya kerja lalu ga pernah merasa ada week end.

8. Menunggu gajian dan THR.
Nah, buat para kuli alias orang2 yg bekerja di perusahaan orang, menunggu waktu gajian dan THR bisa dikatakan saat2 yg menegangkan dan menyebalkan. Bagaimana tidak? Gajian tgl 25, eh tgl 26 sudah habis. Itu berarti dia mesti menunggu 30 hari lagi utk dapat duit. Sama saja dg THR, mesti nunggu setahun, utk dihabiskan dalam waktu sejam (atau malah kurang).

7. Menunggu sidang akhir.
Bagi para mahasiswa, entah itu S1, S2, atau S3, menunggu sidang akhir adalah saat2 yg menyebalkan. Deg2an, nervous, kalang kabut adalah sebagian hal yg akan dialami oleh mereka. Bahkan ada yg sampai sidang S3-nya ga kelar2, entah apa yg ditunggu kalo ini sih, ehehhe.

6. Menunggu pengumuman UMPTN/masuk perguruan tinggi yg diinginkan.
Usai UMPTN,SPMB, atau apapun itu namanya, dijamin banyak siswa2 (lulusan) SMA atau sederajat yg deg2an menunggu kabar, apakah mereka diterima di tempat yg mereka inginkan? Atau malah harus mengulang lagi tahun depan?

5. Menunggu adzan magrib.
Nah, kalo ini hanya terjadi saat Ramadhan. Semua orang mendadak jadi ga sabar menanti kedatangan adzan magrib. Termasuk aku, ahhaha.

4. Menunggu kelahiran anak.
Bagi yg sudah berkeluarga, walaupun sudah punya anak 1/2 lusin, proses menunggu kelahiran sang anak bisa dikatakan merupakan aktivitas yg deg2an sekaligus menyebalkan dan menegangkan (eh, redundan, gpp lah). Apalagi jika si bapak tidak boleh masuk. Dia bakal H2C (harap harap cemas) menanti suara bayi terdengar dari dalam ruangan bersalin. Menyebalkan juga akan dialami saat menunggu proses bukaan (dari bukaan 1 ke bukaan 10).

3. Menunggu diterima atau ditolak cinta.
Buat para cowo2 (atau bahkan juga cewe) yg telah menyatakan cintanya kepada yg dicintainya, menunggu pernyataan diterima atau ditolak adalah hal yg bisa dikatakan menyiksa. Lha gimana ga menyiksa, ybs bisa saja 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, atau malah ga pernah kasih batas waktu mau kapan kasih jawaban. Kalo sudah stres gara2 nunggu, mungkin bisa melamar ke RSJ setempat.

2. Menunggu panggilan interview (termasuk diterima atau tidak)
Sebenarnya ini mirip2 dg no 6. Bedanya kalo ada sekian tahap yg telah dilewati utk melamar pekerjaan, interview adalah hal terakhir yg mesti dilalui sebelum akhirnya (kemungkinan) bisa diterima kerja. Meski ada juga yg menjadikan tes kesehatan sbg tanda dia diterima.

1. Menunggu para saksi mengucapkan "sah".
Percaya atau tidak, aku merasa menunggu kata "SAH" terdengar adalah hal yg paling menyiksa. Bagaimana tidak? Karena jika tidak sah, otomatis si pria mesti mengulang ijab kabul...dan itu bisa makin grogi, hahaha.

Anda setuju? Atau ada usulan lain?

Gambar dari sini.

Moral story:
- menunggu itu menyebalkan
- jangan sampai karena menunggu itu menyebalkan, kita malah membikin 'lawan' kita yg menunggu dan kita tenang2 saja ngaret
- menunggu itu tidak selalu terkait dg janji
- oya, artikel ini BUKAN promo lagu2nya Rhoma Irama ataupun anaknya, Ridho Rhoma

Posted on Saturday, September 18, 2010 by M Fahmi Aulia

1 comment

9/17/2010

Hari ini, 17 September, menjadi hari istimewa buatku, istriku, dan tentu saja anakku, neng Mika. Bagi kami berdua, 17 September menjadi tonggak 4 tahun kami menyandang status baru dengan memasuki tingkat kehidupan baru. Sementara bagi Mika,tgl 17 menjadikan dia 1 bulan lebih tua sejak kelahirannya di tgl 17 Juni lalu.

Maaf istriku, aku ndak bisa kasih hadiah macam2. 'Cuma' Neng Mika dan limpahan kasih sayang (serta materi tentunya, xixixi) yg bisa aku berikan. Semoga kita berdua bisa mendidik,mengasuh dan membesarkan neng Mika hingga dia bisa menjadi pribadi yg berguna bagi masyarakat sekitar.

si Mas Ganteng, Pibi

Posted on Friday, September 17, 2010 by M Fahmi Aulia

2 comments

9/13/2010



Sebenarnya unek-unek sudah lama ingin aku tuliskan, tapi baru sekarang kesampaian.

Topiknya, seperti tertera di judulnya, terkait dengan para pengguna jalan tol, yg menurutku kian banyak yg tidak beretika (entah memang sengaja, pura-pura tidak tahu, atau bahkan masa bodoh) pada saat mereka sedang berada di jalan tol. Herannya, orang2 tidak beretika ini sebenarnya berasal dari golongan org yg mampu, setidaknya jika dilihat dari jenis kendaraan yg mereka kendarai, tapi sayangnya (menurutku) mereka tidak berpendidikan.

Setidaknya ada 2 (dua) etika menggunakan jalan tol yg sering dilanggar (tidak dihiraukan) oleh para (jika aku boleh sebut) 'pengacau' ini.

Yang pertama, larangan menggunakan bahu jalan. Aku sering kesal dan merasa was-was terhadap para pengacau yg melanggar aturan ini. Bagaimana tidak? Melanggar aturan ini berarti akan membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain (sesama pengguna jalan tol).

Sudah sering diingatkan bahwa bahu tol itu digunakan untuk DARURAT ataupun untuk BERHENTI (karena mogok/ban bocor/masalah lainnya). Dan anehnya, mendadak semua orang merasa dirinya dalam keadaan darurat, sehingga mereka dengan semena-mena waka waka e'eeee...ups, maaf, maksudku, mereka merasa berhak menggunakan bahu jalan itu untuk kepentingan pribadi mereka (baca: ngebut untuk lebih cepat mencapai tujuan mereka).

Tidak heran jika di jalan tol (terutama jalan tol dalam kota Jakarta) seringkali ada patroli yg tidak segan menangkap dan menilang para pelanggar ini. Akan tetapi, sayangnya, kita sudah tahu sama tahu. Banyak terjadi persekongkolan antara si pelanggar dan penindak (petugas). Walhasil, hal ini tidak efektif.

Mengapa menggunakan bahu jalan membahayakan diri sendiri dan orang lain? Satu ketika, aku pernah bersama temanku yg menyetir, menuju ke sebuah tempat (masih di dalam kota). Untuk mempersingkat waktu, kami menggunakan tol dalam kota Jakarta. Dan temanku ini nampaknya sedang tergesa-gesa, sehingga seringkali menggunakan bahu jalan (kiri) untuk menembus kemacetan.

Terus terang, aku cuma bisa berdehem, kesal dan berdoa saja dengan tindakan ini. Dan benar juga, satu waktu dia hendak gunakan bahu jalan, eh, mendadak aku melihat ada truk sedang berhenti di pinggir jalan (nampaknya sedang ada masalah). Spontan, aku berseru mengingatkan dia. Dampaknya, terjadilah 'bantingan' stir yg cukup mendadak, karena dia sebenarnya sudah separuh jalan untuk mengambil bahu jalan.

Tidak bisa aku bayangkan jika temanku tetap ngotot hendak mengambil bahu jalan, terutama karena tidak tahu. Bisa-bisa aku yg ada di sebelah kiri bisa menjadi korban akibat tindakan konyolnya!

Akhirnya aku yg menjadi lebih cerewet utk mewanti-wanti dia utk tidak menggunakan bahu jalan. Dampaknya tidak banyak, ybs masih suka menggunakan bahu jalan. Well, setidaknya aku sudah memperingatkan dia. Jika dia tetap bandel, yaaa silakan terima akibatnya. Hanya saja, aku tidak mau lagi menjadi (calon) korban kekonyolan dia dan kini lebih memilih duduk di kursi belakang dia.

Yang kedua, mengenai aturan penggunaan jalur. Sudah ditetapkan oleh pihak penyedia jasa jalan tol, bahwa jalur paling kiri digunakan oleh truk/bus, lalu sebelah kanannya utk kendaraan (pribadi) dg kecepatan rendah, dan 1-2 jalur di sebelah kanannya digunakan untuk menyusul.

'Begonya', seringkali kita temui orang2 dg laju kendaraan yg lambat (jika tidak ingin dikatakan super lemot) menggunakan jalur PALING KANAN untuk berkendara! Ok, jika kondisi jalan memang macet, aku pun bisa maklum. Namun, jika jalanan kosong, lalu mereka 'hanya' berkendara dg kecepatan 60 km/jam (max di 80 km/jam) lalu dengan santainya berjalan 'beringsut-ingsut' sementara orang2 ingin segera tancap gas, menurutku para pengacau ini benar2 dodol lah!

Kasus ini seringkali aku temui. Bahkan kaconya lagi, para pelanggar ini seringkali berlindung dg cara memasang atribut militer. Kesannya, orang MILITER BOLEH MELANGGAR, dg cara BERJALAN LAMBAT DI JALUR CEPAT.

Jika aku temui kondisi seperti ini, seringkali aku mengklakson mereka atau menyalakan lampu sign belok kanan, terkadang dengan kedipan lampu jauh. Tujuannya jelas, minta jalan agar aku bisa segera mendahului mereka.

Berdasarkan tata cara dan sopan santun lalu lintas di Indonesia, ehm, tindakanku di atas sudah tepat. Alias 'kulo nuwun'nya sudah tepat. Kasih dulu 'kedipan' lampu jauh. Jika masih ngeyel, gunakan lampu sign belok kanan. Masih ngotot? Ok, nyalakan klakson (seraya tetap nyala lampu sign kanannya).

Celakanya, jika kita berhadapan dengan orang2 SUPER DODOL, yg aku sendiri jadinya meragukan dan bertanya-tanya, orang2 seperti itu kok bisa (dibolehkan) mendapat SIM? Jawabannya sudah pasti, orang2 seperti itu biasanya memang 'nembak' utk mendapatkan SIM, alias sebenarnya mereka tidak kompeten untuk bersliweran di jalan raya (dengan menggunakan kendaraan bermotor). Lha wong aturannya saja mereka tidak tahu, tidak dipatuhi, bahkan tidak mau tahu, lantas 'gelar' apalagi yg layak mereka terima?

Tenang, ada solusinya utk hal di atas. Anda 'terpaksa' mesti menyalip kendaraan gemblung ini dari sebelah kiri. Well, memang tindakan ini berbahaya dan melanggar aturan. Pertama, jika ada mobil dari kiri belakang yg sedang ngebut dan terkejut melihat atraksi anda yg (mungkin) secara tiba2 mengambil jalurnya dia untuk menyalip kendaraan di depan kita. Kecelakaan jelas terjadi. Dan anda 'patut' dan 'wajar' disalahkan karena tindakan anda tersebut sebenarnya sudah melanggar aturan berkendara di jalan (terutama jalan tol) yakni menyalip dari sebelah kiri.

So, jika terjadi kecelakaan dan/atau hal2 yg tidak diinginkan, anda jelas bersalah.

Bagaimana jika bersabar? Wah, aku sendiri seringkali sudah menahan kesabaran sedemikian rupa, sehingga aku tidak sampai memaki dan melakukan tindakan yg tidak pantas terhadap orang2 bodoh itu.

Anda sendiri bagaimana mengatasi (setidaknya) 2 kasus di atas? Share di sini yak? :-)

Moral story:
- banyak pengguna jalan (tol) tidak memiliki aturan
- pengawasan yg lemah dan kongkalingkong dalam pembuatan SIM mengakibatkan banyak pengemudi tidak laik (dan berbahaya) bersliweran di jalan raya, mengancam keselamatan dirinya, penumpangnya, dan pengguna kendaraan lain
- dari sekian banyak pelanggar peraturan, urusan melanggar bahu jalan dan penggunaan jalur merupakan 2 hal yg paling aku benci

Posted on Monday, September 13, 2010 by M Fahmi Aulia

1 comment

9/07/2010

Tempo hari aku pernah menulis kejengkelanku ttg Foursquare (4sq). Tulisan tersebut menitikberatkan pada kotornya garis waktu (timeline) Twitterku akibat dipenuhi info2 yg tidak penting buatku. Padahal, aku follow seseorang dengan niat mendapatkan info2 yg bermanfaat.

Akhirnya aku temukan cara, meski belum cukup efektif. Setidaknya, solusi ini cukup berhasil di Tweetdeck, yakni dengan melakukan filtering. Semua kata yg ada unsur 4sq, aku 'filter' sehingga tidak muncul di timelineku. Lumayan, aku bisa membaca info2 (yg lebih) penting lainnya, hehehe. Sayangnya belum semua aplikasi Twitter ada fitur filtering ini. Uber Twitter dan Seesmic belum support, sehingga jika aku baca Twitter melalui BB, masih saja muncul pesan2 'sampah' itu.

Hal lain yg membuatku benci 4sq, adalah rebutan menjadi mayor (oh, plis dehhh). Ga penting banget! Jadi ingat waktu aku SD, selalu ada teman2 yg main klaim untuk tempat duduk. Dengan semena-mena, mereka mengusir teman2 yg sudah duduk di situ, karena mereka beranggapan tempat duduk itu adalah milik mereka. Bah..main klaim ga manfaat! Childish banget!

Selain itu, ajang pamer juga menjadi hal yg kubenci dari 4sq. Ok, kamu2 sekalian sudah pernah ke sana (satu tempat). So what? Bangga?

Ok, berikutnya adalah berburu badge. Mirip2 dengan di Plurk, kita bisa dapatkan badge tertentu jika kita berhasil 'break' sebuah aturan. Seru? Menurutku sih tidak. Jika dibandingkan dengan badge yg ada di selendang Pramuka (hayoo masih ada yg inget ga?), jelas beda banget bedanya lah.

Poin berikutnya, hmmm...pengguna 4sq bisa menjadi target kejahatan. Let's say, seorang penjahat yg melengkapi dirinya dengan gadget dan kemampuan serta pengetahuan di jejaring sosial. Dia bisa menarget dan mempelajari perilaku calon korbannya dari kebiasaan si calon korban (salah satunya) di 4sq. Dia tahu rumahnya, kapan pergi, sedang di mana, dst dst. Dengan mempelajari hal ini, plus menghitung rentang waktu yg diperlukan utk beraksi, heyyy....tidak perlu Albert Einstein utk menyadari bahwa pengguna 4sq adalah sasaran empuk.

So, hingga saat ini aku TIDAK menggunakan 4sq sebagai mainanku, meski aku sudah menjadi user 4sq. Sekedar ingin tahu saja, tapi belum ada manfaat buatku.

Moral story:
- buat para pengguna 4sq, ga perlu sewot dg artikel ini
- selama tidak bermanfaat, aku tidak berminat
- pengguna 4sq bisa menjadi korban kejahatan

Posted on Tuesday, September 07, 2010 by M Fahmi Aulia

5 comments