8/27/2010



Menjelang lebaran, orang2 sudah ramai membicarakan THR (Tunjangan Hari Raya). Sudah menjadi kewajiban bagi para perusahaan yg berlokasi di Indonesia utk memberikan THR, karena sudah ada peraturannya (bisa diambil di sini).

Yang menjadi pertanyaan, berapa besar THR yg 'mestinya' kita terima? Aku kutip dari peraturan tersebut, tertulis:

Pasal 3

(1) Besarnya THR sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) ditetapkan sebagai berikut:
a. Pekerja yang telah mempunyai masa kerja 12 bulan secara terus menerus atau lebih sebesar 1 (satu) bulan upah.
b. Pekerja yang telah mempunyai masa kerja 3 bulan secara terus menerus tetapi kurang dari 12 bulan diberikan secara proporsional dengan masa kerja, yakni dengan perhitungan:

(masa kerja/12) * 1 bulan upah

(2) Upah satu bulan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah uapah pokok ditambah tunjangan-tunjangan tetap.


Dengan demikian, jika si A punya gaji THP (Take Home Pay) sebesar Rp 5 juta, dengan rincian gaji pokok Rp 3,5 juta, lalu tunjangan2 kesehatan, transportasi, dan lain2 sebesar Rp 1,5juta, maka THR dia juga sebesar Rp 5 juta...BUKAN sebesar Rp 3,5 juta!

Lalu, ada hal yg menarik. Staf yg berhenti sebelum hari raya juga mendapat THR lho!

Pasal 6

(1) Pekerja yang putus hubungan kerjanya terhitung sejak 30 (tiga puluh) hari sebelum jatuh tempo Hari Raya Keagamaan berhak atas THR.


Sementara itu, bagi perusahaan yg TIDAK BISA MEMBAYAR THR sesuai dengan ketentuan pemerintah ini, diatur di pasal berikut:

Pasal 7

(1) Pengusaha yang karena kondisi perusahaannya tidak mampu mebayar THR dapat mengajukan permohonan penyimpangan mengenai besarnya jumlah THR kepada Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan.

(2) Pengajuan permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) harus diajukan paling lambat 2 bulan sebelum Hari Raya Keagamaan yang terdekat.

(3) Direktur Jenderal Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan menetapkan besarnya jumlah THR, setelah mempertimbangkan hasil pemeriksaaan keuangan perusahaan.

Pasal 8

(1) Bagi pengusaha yang melanggar ketentuan pasal 2 ayat (1) dan pasal 4 ayat (2), diancam dengan hukuman sesuai dengan ketentuan pasal 17 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok mengenai Tenaga Kerja.

(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pelanggaran.


Jadi, bagaimana THR yg anda terima?

Moral story:
- THR adalah hak staf
- THR sudah diatur pemerintah
- Tidak bisa bayar THR sesuai aturan? Silakan perusahaan melobi kepada pihak/instansi terkait
- Karyawan yg resign bisa dapat THR

Posted on Friday, August 27, 2010 by M Fahmi Aulia

1 comment

8/23/2010




Tadi siang, aku mengunjungi Plaza Senayan. Nope, bukan untuk jalan2, apalagi belanja. Target utamanya adalah kantor sebuah perusahaan IT yg cukup besar dan ternama. Tujuannya, untuk membahas beberapa masalah di sebuah project yg never ending story, seperti plesetan nama perusahaan IT ini.

Usai rapat dan mendapatkan solusi (sementara, karena belum dicoba dan dites oleh anak buah), ternyata waktu sudah masuk Magrib. Keruan saja, aku pontang panting dari lantai 11 mencari tempat buka puasa. Untungnya, aku cukup kenal daerah Plaza Senayan, maklum...pernah ngetem di situ cukup lama.

Pilihan makanan akhirnya jatuh ke junk food ini. Pertimbangannya, ada paket lumayan murah. Ya sudah, aku dan teman kerja pesan 3 porsi.

Selama lebih kurang 12 tahun-an mengonsumsi junk food ini, sedikit banyak aku hapal urutan proses pembungkusan (karena kami hendak santap hidangan ini sambil kembali ke kantor). Urutannya: siapkan nampan, tanya pesanan, jika pesanan belum ada maka dia akan konfirm ke orang dapur utk sediakan. Selanjutnya, dia akan siapkan kentang, ambil pesanan, siapkan minuman.

Setelah itu, jika pesanan dibungkus, dia akan masukkan burger lalu kentang goreng ke dalam bungkus kertas. Berikutnya dia akan plastikin gelas minuman. Selanjutnya diserahkan ke pembeli.

Nah, aku melihat si staf McD itu mengambil bungkus kertas. Lalu aku bicara sesuatu dengan teman kerja, sehingga tidak sempat memperhatikan dg baik. Saat aku lihat kembali, si staf sedang memasukkan kentang goreng ke bungkus kertas.

So, tidak salah kan jika aku menganggap pesananku sudah lengkap?

Aku segera bergegas mengambil kantong plastik dan mengajak temanku pergi, menuju mushola di lantai 3, menuaikan sholat Magrib. Eh, saat hendak pulang barulah temanku cerita bahwa BURGERNYA KETINGGALAN!

What tje fuk!?

Walhasil, selama perjalanan ke Tebet, kami hanya makan kentang goreng dan minum. Sebuah 'cemilan' mahal seharga Rp 16.500 (termasuk pajak). Tapi ya sudahlah, kami relakan saja, daripada musti muter balik.

Hanya saja, kepikiran olehku, mesti jika ada kasus seperti ini, aku bisa claim burgerku yg ketinggalan di cabang McD yg lain. Well, tentu saja mesti ada bukti yg cukup kuat. Setidaknya, jika bisa claim seperti ini, orang2 akan lebih appreciate. Well, just my gocap.

Moral story:
- jangan lengah saat menunggu pesanan datang
- ternyata staf bisa saja melakukan SOP yg tidak biasanya
- pelanggan selalu dirugikan, jika di Indonesia

Posted on Monday, August 23, 2010 by M Fahmi Aulia

No comments

8/12/2010



Sebuah tindakan curang dilakukan oleh sebuah operator (tidak akan aku sebutkan, takutnya nanti pihak ybs segera melakukan 'perbaikan' dan menuntutku karena tulisan ini bersifat fitnah). Tindakan curang yg aku maksud terkait dengan RBT (ring backtone), sebuah layanan yg bisa 'dinikmati' oleh org yg menelpon, sehingga yg terdengar adalah bunyi musik (atau lainnya), seraya menunggu telponnya diangkat.

Kecurangan dilakukan dg memanfaatkan efek psikologis. Benar2 tricky menurutku. Cerdas...tapi merugikan orang.

Jadi pola kerjanya begini.

Katakan si A hendak menelpon si B. Si B ini sudah terpasang RBT X. Saat si A menelpon si B, otomatis RBT X ini akan bekerja. Efek psikologis bekerja saat si A mendengar isi RBT-nya.

"Jika anda ingin segera berbicara, maka tekanlah bintang bla bla bla"

Anda melihat efek psikologis yg aku maksud? Yak..yg aku maksud adalah keinginan orang utk SEGERA BICARA, maka dia segera menekan kode tertentu. Padahal, sebenarnya si operator akan MENGKOPIKAN RBT X tersebut ke si A, segera setelah si A menekan kode tersebut!

Dan seperti biasa, RBT2 tersebut biayanya lumayan lah, Rp 7000an/bulan. Parahnya, RBT X ini sudah laiknya sebuah virus. Dengan memanfaatkan efek psikologis, banyak org/pelanggan yg tertipu dan termakan trik ini.

Kebayang deh kayanya (dan terkutuknya) si operator...dan si penyedia konten!

Moral story:
- hati2 jika menelpon dan mendengar RBT
- jangan mudah main pencet
- Menkominfo mestinya mengurus hal2 seperti ini, yg jelas2 merugikan rakyat!

Posted on Thursday, August 12, 2010 by M Fahmi Aulia

No comments