6/22/2010



Hari Rabu minggu lalu, tepatnya 16 Juni 2010 menjadi awal ketegangan. Dimulai dari sms2 dari Wify yg mengatakan bahwa perutnya mulai kontraksi lebih intens dan gila2an daripada biasanya. Semula aku masih bisa menenangkan diri, hingga akhirnya Wify mengatakan bahwa sudah muncul flek.

Well, jika merujuk pada teori2 dan pengalaman2, flek (terutama yg diikuti dg keluarnya darah) merupakan salah satu pertanda bahwa jabang bayi akan segera lahir. Tidak mau ambil resiko kehilangan momen yg berharga, jam 4 pagi aku sudah menembus kota Jakarta, mencari angkutan (travel) ke Bandung.

Alhamdulillah, ada jasa xTrans yg akhirnya jam 5 mengantarku pulang ke Bandung.

Sebagai upaya pengalihan issue, eh, rasa khawatir, sepanjang Jkt-Bandung aku nge-tweet dengan hashtag #suamiriwil (trims utk @lantip atas usulannya hashtagnya. oya, untuk bisa melihat isi #suamiriwil, anda mesti follow dulu twitterku, xixixi). Dan cukup seru respon dari tweeps. Bahkan mas @fadjroel pun ikut membalas beberapa tweetku ini.

Akhirnya jam 7 aku tiba di Bandung. Dilanjut dengan angkot, aku akhirnya tiba di kediaman kami di Bandung Timur.

Wajah Wify agak kepayahan, karena ternyata jam 5 pagi tadi sudah sempat pergi ke klinik dan dinyatakan sudah bukaan 1. Namun karena masih bukaan awal, maka Wify diminta pulang dulu. Ketika Wify menyatakan niatnya untuk menginap di klinik, si suster menjawab,"Wah, maaf...ini klinik, bukan hotel, jadi ndak bisa booking." *jiah....*

So, akhirnya aku dan Wify jalan2 di sekitar komplek. Berjalan-jalan merupakan salah satu metoda untuk 'merangsang' perut agar bukaan lebih mudah dan tidak terasa nyeri. Total aku perkirakan, kami berjalan sejauh lebih dari 10 km. Pokoknya mah mondar mandir lah.

Usai jalan2, kami istirahat, meski tidak tenang karena seringkali perut Wify bergerak2 (kontraksi).

Jam 4 sore kami pergi lagi ke klinik utk cek. Kebetulan hari Rabu adalah jadwal untuk mencek kandungan.

Dokter Ani mencek kandungan Wify dan mengatakan bahwa sudah bukaan 3. Ini berarti Wify sudah mesti nginap. Urusan administrasi mesti dibereskan, dan seperti biasa, uang muka menjadi 'senjata ampuh' untuk bisa segera dirawat.

Akhirnya Wify masuk kamar. Sengaja kami pilih yg VIP dengan pertimbangan kondisi kamar dan jaminan layanan perawatan (meski sebenarnya ndak beda jauh katanya sih). So, mulai jam 1/2 7 malam, aku menemani Wify. Lumayan, piala dunia 2010 membuat suasana lebih ramai, daripada melihat berita berisi gosip dan isu ttg video2 ndak jelas itu. *eh, malah melantur*

Jam 1/2 10, seorang bidan masuk, mencek kondisi bukaan. Usai melakukan pemeriksaan, diketahui sudah masuk bukaan 4. Hmmm...1 bukaan ternyata 4 jam yak? Padahal teorinya sih 1 bukaan = 1 jam. Ya sudah, Wify berusaha mengurangi tingkat ke-stres-an. Aku juga membantu Wify mengurangi rasa stres dengan menjadi kontraksimeter, yakni alat utk meredam rasa sakit yg diderita Wify akibat kontraksi. Caranya gampang saja, aku tinggal ulurkan tangan kanan/kiri. Nanti Wify tinggal meremas dan menggenggam erat2 tangan, sehingga rasa sakit kontraksi bisa dialihkan. Mudah bukan? xixixi...

Masuk tengah malam, kontraksi kian kuat dan kian sering. Berulangkali aku terbangun karena Wify membutuhkan bantuan kontraksimeter-man, xixiix. Dan saat dicek jam 1/2 2, diketahui sudah bukaan 6.

Dan ternyata ini merupakan awal dari 'kian panjangnya' malam yg mesti kami lalui. Penyebabnya ya itu, rasa sakit kontraksi membuat kami berdua memang HARUS BAHU MEMBAHU dan SALING DUKUNG. Terasa sekali betapa kami berdua saling mencintai, menyayangi dan membutuhkan. Rasa sakit di tangan, akibat digenggam Wify, tidak lagi aku rasakan. Aku berusaha menenangkan Wify yg kadang sampai menangis saking ga kuatnya menahan sakit yg ditimbulkan oleh kontraksi.

Berulangkali kami mengusap2 perut Wify, minta agar eMBi lebih tenang. Syukurlah eMBi mengerti.

Usai sholat Subuh, ada lagi pemeriksaan. Saat itu diketahui bahwa sudah masuk bukaan 8. Bidan mengatakan bahwa pihak klinik akan mempersiapkan proses kelahiran dan mengontak dokternya.

So, aku dan Wify segera bergegas, bersiap untuk menyongsong kelahiran buah hati yg sudah ditunggu selama 3 tahun.

Akhirnya jam 6 tepat, Wify masuk ruang bersalin. Pada saat yg bersamaan, ada seorang ibu yg masuk dan sama2 siap melahirkan. Rupanya dia yg didahulukan, karena kondisinya yg lebih mengkhawatirkan (ybs diinfus dan nampak fisiknya jauh lebih kepayahan dari Wify).

Tidak sampai 5 menit, dokternya datang dan bersama timnya, mereka mengurus ibu sebelah.

Sempat ada teriakan dari si ibu sebelah, kayanya ada masalah atau apalah.

Aku dan Wify saling menenangkan dan menguatkan diri agar tidak panik. Seorang bidan berkata,"Wah, ibu hebat ya...meski sudah bukaan 8 tapi masih tenang." Kami hanya nyengir saja mendengar komentarnya. Bu bidan ndak tahu kondisi semalaman yg penuh derita dan kesakita yg dialami Wify.

Tapi ya sudahlah...berarti Wify memang hebat,heheh. Dokter Ani mencek kondisi kandungan dan mengatakan bahwa bukaannya sudah sempurna, bukaan 10. Hanya saja karena kondisi air ketubannya normal (tidak pecah ketuban), maka dokter Ani memutuskan untuk membocorkan gelembung ketuban tersebut. Dengan menggunakan sebuah logam, dokter Ani menusukkan logam tersebut dan mengalirlah air ketuban berwarna kuning.

Wah, aku agak2 khawatir juga dg tindakan si dokter ini. Kalo tiba2 kandungannya bermasalah bagaimana? Tapi, aku segera sadar bahwa sang dokter pasti sudah memperhitungkan segala hal. Jadi, aku percayakan saja padanya.

Usai membocorkan gelembung ketuban, Wify disuruh miring dulu, agar kontraksinya kian kuat sehingga mempermudah proses persalinan. Dokter Ani sendiri menuju ranjang sebelah utk mengurus si ibu sebelah.

Sekitar jam 6.15, akhirnya ibu sebelah berhasil melahirkan. Itu artinya giliran Wify segera tiba.

Persiapan segera dilakukan para bidan dan dokter. Beberapa alat utk membantu proses persalinan disiapkan. Saat menunggu proses kelahiran, Wify tampak kepayahan sekali, terutama saat dokter, bidan dan perawat masih mengurus ibu sebelah. Wify berusaha sekuat tenaga agar eMBi ga cepet2 brojol.

Aku mengingatkan latihan pernafasan yg sering Wify lakukan. Menghirup udara dalam2 dan menghembuskannya pelan2. Untunglah usaha ini berhasil.

Saat bersalin tiba...eng ing eeenggg....

Wify mulai diminta ngeden (proses buang air besar). Usai menghirup nafas dalam2, Wify mulai melakukan perjuangannya menjadi seorang ibu. Sekuat tenaga eMBi berusaha dikeluarkan dari tempat bersemayamnya selama 9 bulan lebih (hampir 40 minggu). Namun tidak semudah seperti yg dibilang banyak orang, apalagi untuk anak pertama.

Dokter Ani sendiri mengatakan bahwa eMBi sudah siap lahir, terlihat dari kepalanya yg sudah menyembul. Saat aku lihat ternyata memang betul, kepala eMBi sudah siap keluar...dan terlihat sekali rambutnya yg hitam. Maka aku segera semangati Wify agar segera mengeluarkan eMBi.

Proses mengeluarkan eMBi ternyata mengalami kendala karena ada kesalahan fatal yg dilakukan Wify. Wify malah mempraktikkan 'jurus' meredakan kontraksi, padahal semestinya Wify 'mengikuti' saja 'alur' kontraksi, karena dengan begitu akan mempermudah keluarnya eMBi.

Takut terjadi apa2, akhirnya dokter Ani menyuntik paha Wify dan menggunting bagian tertentu untuk mempermudah kelahiran.

Alhamdulillah, tindakan sang dokter ini membantu banyak. Akhirnya disertai dengan nafas panjang, pluuusssss....keluarlah eMBi dari rahim Wify.

Bagai anak panah yg lepas dari busurnya, eMBi mendarat di lembaran plastik yg telah disiapkan. Setelah 2 detik, mendadak...."OEEEEEKKKKK....." ditandai dengan tangisannya yg lumayan kencang (dibandingkan bayi sebelah), rupanya eMBi telah lahir dengan selamat. Alhamdulillah...kami berdua merasa terharu. Aku sempat abadikan momen2 eMBi lahir.

Aku merasa bersyukur cukup tahan untuk menemani Wify dan melihat detik2 kelahiran eMBi. Dan saat itulah aku merasa bahwa kita memang mesti banyak berbakti pada ibu kita yg telah melahirkan kita dengan susah payah.

Embi segera dibantu melancarkan pernafasan, dengan disedotnya cairan dari dalam mulutnya. Dan ini mengakibatkan kian nyaring tangisan eMBi, ahahha.

Welcome to the world, eMBi. Kami berdua sudah lama menantikan kehadiranmu. *peluk2 eMBi*

Tepat hari Kamis, 17 Juni 2010, jam 6.33 WIB, eMBi muncul di dunia yg fana ini. Dan itu mengakhiri proses penantian kami selama 24 jam yg cukup mendebarkan dan menegangkan.

Bersambung yak?

Moral story:
- suami sebaiknya mendampingi istri saat proses lahiran.
- suami harus tenang, jangan bikin panik istri yg sedang kesakitan.
- melihat proses kelahiran bayi adalah momen2 terindah yg pernah aku alami
- keagungan ALLOH SWT kian terlihat jelas pada saat melihat proses bersalin
- foto di atas diambil 10 menit usai kelahiran eMBi. nampak galak yak? kenyataannya, eMBi memang galak lho,hahaha...
- blog ini berubah status menjadi "Pibi adalah mas Fahmi v3.0"

Posted on Tuesday, June 22, 2010 by M Fahmi Aulia

3 comments

6/14/2010



Lagu ini benar2 membuat aku tidak berhenti 'bergoyang' karena ritmenya yg begitu enak untuk diikuti. Beberapa teman memelesetkan reffnya menjadi: "semena-mena..."

Berikut ini liriknya:

Waka Waka (This Time For Africa)
Shakira

You're a good soldier
Choosing your battles
Pick yourself up
And dust yourself off
Get back in the saddle
You're on the front line
Everyone's watching
You know it's serious
We're getting closer
This isn't over

The pressure's on; you feel it
But you got it all; believe it
When you fall, get up, oh oh
And if you fall, get up, eh eh
Tsamina mina zangalewa
Cause this is Africa
Tsamina mina eh eh
Waka waka eh eh
Tsamina mina zangalewa
This time for Africa

Listen to your god; this is our motto
Your time to shine
Don't wait in line
Y vamos por todo
People are raising their expectations
Go on and feel it
This is your moment
No hesitation

Today's your day
I feel it
You paved the way,
Believe it
If you get down
Get up oh, oh
When you get down,
Get up eh, eh

Tsamina mina zangalewa
This time for Africa
Tsamina mina eh eh
Waka waka eh eh
Tsamina mina zangalewa
Anawa aa
Tsamina mina eh eh
Waka waka eh eh
Tsamina mina zangalewa
This time for Africa

Posted on Monday, June 14, 2010 by M Fahmi Aulia

1 comment