1/26/2010



Kali ini aku berkesempatan bercerita tentang masakan Pakistan, yang merupakan salah satu menu makanan yang jarang ditemui atau dicicipi olehku. Penyebabnya, tidak banyak rumah makan Pakistan yang ada di Jakarta. Hmm...setidaknya itu yg aku ketahui.

Karenanya, saat aku menemukan sebuah rumah makan Pakistan di daerah Cipete, kami begitu gembira. Penyebabnya, itu berarti kami bisa mencicipi masakan Pakistan. Lokasinya cukup mudah ditemukan. Anda tinggal menuju Cipete, carilah toko buku MP (Mizan Putra) Books. Tepat di depannya, anda akan temukan rumah makan Tanduri, yang lokasinya berbagi dengan penjual karpet.

Jika dilihat lebih teliti, lokasi rumah makan Pakistan ini tidak terlalu jauh dengan steak Abuba.

Saat anda masuk, anda akan temukan nuansa Pakistan, meski tidak benar2 asli Pakistan. Setidaknya ada 5 meja yang bisa anda pilih, sesuai dengan jumlah orang yang anda ajak makan di sana. Di atas meja juga ada pipa yang biasa digunakan untuk menghisap shisha.

Tidak menunggu lama, usai kami duduk segera mendapat menu yang disodorkan staf rumah makan. Dari sekian banyak menu yang ditawarkan, kami mencoba masakan “Lamb Biryani”, “Chicken Curry”, dan “Cheese Nan”. Untuk minumnya, kami sepakat memesan minuman “Lassi”, namun dengan rasa yang berbeda. Aku memesan “Sweet Lassi “, sementara Wify memesan rasa melon.

Ternyata PORSI YANG DISAJIKAN ADALAH PORSI BESAR! Masing-masing menu, kecuali kare ayam, dihidangkan di piring dengan diameter lebih kurang 30 cm! Bahkan roti “Cheese Nan” pun nampak sedemikian besar, sehingga kami berdua bertanya-tanya apakah kami bisa menghabiskan itu semua? Hahaha...Anda bisa lihat porsi nasi Lamb Biryani pada gambar di atas!

Sementara itu, “Lamb Biryani” sebenarnya sudah kita kenal dengan nama nasi kebuli. Namun, nasi kebuli Pakistan ini sedikit berbeda dengan nasi kebuli Condet (khas Timur Tengah) yang pernah aku santap. Pertama, jenis beras yang dipakai. Bentuknya lebih panjang, lalu rempah2nya tidak terlalu lengket, dan daging kambingnya lebih banyak daging daripada tulang. Perbedaan lainnya, ada beberapa bumbu yg tidak aku kenal, yang rasanya agak pahit. Toh, tetap saja sayang untuk tidak dihabiskan.

Sementara itu, Wify kesulitan menghabiskan “Cheese Nan”. Selain porsinya besar, di bagian bawah rotinya ada beberapa bagian yg hangus. Akibatnya, rotinya terasa pahit (efek dari tempat membakar roti?). Untungnya rasa pedas kari ayam bisa sedikit menghapus rasa pahitnya itu.

Toh, aku yg datang membantu Wify, merasa kewalahan juga menghabiskan roti dan kari ini. Walhasil, dari 4 potong ayam yang disajikan dalam kari, kami berdua hanya sanggup menghabiskan 2 potong. Rotinya pun barangkali hanya bisa kami habiskan ¾ saja. Rasa kenyang sudah kadung memenuhi perut kami. Jika dipaksakan malah tidak baik, karena bisa2 kami malah muntah.

Di bagian akhir, kami menikmati lassi. Bisa dibilang ini adalah yoghurt ala Pakistan. Perbedaannya, rasanya tidak terlalu asam, lalu lebih encer (mirip susu). Lassi ini cukup bermanfaat mengurangi rasa rempah-rempah yang terlalu menusuk dari masakan yg kami 'sikat' tadi.

Untuk harga, bisa dibilang memang lebih mahal dari tempat lain. Namun jika dilihat porsi yang disajikan, aku pikir itu sebanding. Kami sendiri menghabiskan hampir Rp 130 ribu. Tapi kenikmatan dan cita rasa yang kami dapatkan, hmmm...kami pikir sepadan lah.

Masakan yang disantap dan lokasi rumah makan
Menu masakan Pakistan

Moral story:
- masakan Pakistan masih satu rumpun dg masakan India dan masakan Melayu serta masakan Timur Tengah
- untuk nasi kebuli, saya lebih sarankan nasi kebuli khas Pakistan daripada nasi kebuli khas Timur Tengah karena rempah2nya tidak terlalu keras
- daya tarik masakan khas Pakistan ini, menurut kami adalah Lassi-nya.

Posted on Tuesday, January 26, 2010 by M Fahmi Aulia

2 comments

1/23/2010



Aku dan Wify akhirnya berhasil menonton film ini setelah sekian lama film ini beredar. Penyebabnya sederhana saja, antriannya sangat panjang saat kami hendak menonton. Dengar2 kabar, film ini sudah mencatat rekor di Indonesia dengan mengalahkan film Laskar Pelangi. Wah, senang rasanya melihat film Indonesia sukses di negeri sendiri.

Seperti yg sudah diketahui bersama, film Sang Pemimpi ini diangkat dari buku berjudul sama. Selain itu, film ini merupakan kelanjutan (sequel) dari Laskar Pelangi.

Di film ini diceritakan masa remaja Ikal, terutama masa-masa SMA-nya. Masa-masa penuh gejolak darah muda, demikian jika merujuk kepada ucapan bang Haji.

Selain itu, diceritakan juga beberapa penggalan cerita keluarga Ikal, termasuk saat menjemput Arai, sepupunya. Cerita lainnya mengenai gagalnya kenaikan pangkat ayahnya.

Cerita lainnya terkait dengan kisah perjalanan Ikal dan Arai yang merantau ke Jakarta. Lalu kuliah dan akhirnya bekerja di kantor pos. Kemudian ada juga cerita Ikal dan Arai yang bermimpi ingin sekolah di luar negeri, tepatnya di Perancis.

Sayangnya, cerita di film ini tidak selengkap dan berbeda dengan bukunya. Ada beberapa 'loncatan' cerita, terlebih lagi perbedaan cerita yang menurutku agak mengganggu. Yang paling menyebalkan, menurutku adalah saat Arai merayu Zakia. Terlalu jauh perbedaannya. Kemudian mengenai adegan kejar2an antara guru (kepala sekolah) SMA dan Arai, Ikal dan Jimbrong. Tidak dijelaskan secara rinci mengapa tiba2 terjadi kejar2an.

Ya ya ya...nampaknya memang tidak bisa mengharapkan cerita buku akan diceritakan sama detailnya saat dibuat filmnya yak?

Moral story:
- film Indonesia yg kualitasnya bagus akan dihargai kok oleh masyarakat Indonesia
- penghargaan biasanya akan sebanding dengan kesuksesan dan pundi2 yg diterima, hehe
- siapa bilang hidup tidak boleh bermimpi? justru mimpi itu yg membuat kita bisa bertahan hidup
- berjuanglah meraih mimpi, sesulit apapun medan yg akan dilalui!

Posted on Saturday, January 23, 2010 by M Fahmi Aulia

1 comment

1/22/2010

Setelah selama beberapa waktu mencoba autoposting dari Posterous ke Blogger, aku akhirnya memutuskan untuk menghentikan autoposting ini.

Penyebabnya, aku merasa tidak nyaman mencampuradukkan postingan dari Posterous ke sini. Well, blog ini TIDAK BERFOKUS KE FOTOGRAFI. Dengan demikian, jika ada autoposting dari Posterous, hal ini jelas2 menyalahi aturan yg aku buat sendiri.

So,aku pasang di widget sebelah kiri, RSS ke Posterous milikku.

Bagi anda-anda yg ingin membaca, silakan tengok widget di sebelah kiri, dan click artikel yg anda ingin lihat.

Moral story:
- punya banyak blog tidak ada larangan
- senang juga punya blog yg spesifik

Posted on Friday, January 22, 2010 by M Fahmi Aulia

No comments

Sebuah gawang nampaknya enak juga dijadikan tempat bersandar, usai berolahraga :-)

Apalagi bersandar melepas lelah seraya menikmati hangatnya sinar matahari pagi. PRICELESS!! :D

Posted via email from posterous-nya mas Fahmi

Posted on Friday, January 22, 2010 by M Fahmi Aulia

No comments

1/21/2010

Semoga kafein yg masuk bisa menambah gairah dan semangat di pagi hari ini! :-)

Btw, kok malah mirip bajigur yak? (LOL)

Posted via email from posterous-nya mas Fahmi

Posted on Thursday, January 21, 2010 by M Fahmi Aulia

No comments

1/20/2010



Gegara 2 orang teman yg mengompori (meski tidak langsung), yakni Fenty Fahmi dan Eddy Fahmi, akhirnya mas Fahmi membuat juga blog ini.

Rencananya, di sana akan dipasang foto2 yg diambil harian oleh mas Fahmi. Tenang saja, tidak akan ada watermark di sanah!

Itu berarti mulai besok, mas Fahmi mesti membawa banon (banzai canon) miliknya di ransel perlengkapan perangnya, wihihih...

Moral story:
- sebaiknya 1 blog dibuat khusus, agar tidak kecampur2 serta fokus
- si mas Fahmi ini sedang mencoba dan mengasah naluri fotografinyah

Posted on Wednesday, January 20, 2010 by M Fahmi Aulia

2 comments

1/15/2010



Aku mengetahui dan mengenal nama (ustad) Lihan ini sekitar bulan Juli-Agustus 2008 lalu. Seingatku ini semua berawal dari tulisan salah seorang anggota TDA (Tangan Di Atas) di blognya (namun aku lupa blognya) yang menceritakan 'kehebatan' seseorang bernama Lihan, yang dipercaya adalah seorang ustad dari daerah Banjarmasin.

Dalam artikelnya ditulis bahwa Lihan mempunyai banyak bisnis, terutama di bidang jual beli intan. Bahkan, konon Lihan membeli sebuah intan seharga Rp 1 miliar (yang konon jika dijual lagi akan seharga Rp 3 miliar, yeaahhh..!!?) yang diberi nama Puteri Malu.

Lalu berita berlanjut. Aku sempat temui banyak berita mengenai Lihan di berbagai blog, terutama terkait dengan aktivitas TDA. Lalu ada juga beberapa tulisan Lihan yg aku baca. Tulisan2nya bercerita tentang pengalaman dia berbisnis, mulai dari pengalaman menjadi guru hingga akhirnya bisa menjadi orang sukses.

Awal minggu ini aku iseng membaca di sebuah koran online. Isinya cukup mengejutkan, karena di sana tertulis bahwa Lihan (diduga) terlibat dalam penggelapan uang nasabah hingga mencapai Rp 800 miliar!! Yak..anda tidak salah! DELAPAN RATUS MILIAR RUPIAH! Diduga lebih dari 3000 nasabah yg menjadi korbannyah!

Dari situ, akhirnya aku mencari berita2 lain yang lebih rinci. Dan akhirnya aku temui banyak berita yg lebih rinci mengenai kasus Lihan ini.

Intinya, diduga Lihan menjalankan bisnis money game!!

Dan belakangan aku temui kian banyak artikel2 yang isinya menjelaskan kesalahan yang dilakukan Lihan. Yg menyedihkannya lagi, ternyata 'gelar' USTAD adalah JULUKAN dari rekan-rekannya, bukan ustad dalam pengertian sebenarnya!

Korban sebanyak 3000 orang ini menyetor uang dengan jumlah bervariasi. Tapi jika tidak salah, ada yg menyetor hingga Rp 2 miliar.

Jatuh lagi korban karena money game! Dan jika kita perhatikan, begitu banyak orang yg tertarik dan mudah menjadi korban dari money game. Adalah hal yg sangat 'menarik' jika diiming-imingi keuntungan sebesar 10%/bulan, jauh di atas bunga deposito!

Padahal jika dipikir dg akal sehat, pembagian keuntungan (secara stabil) sebesar 10%/bulan adalah SESUATU YG MUSTAHIL di saat sekarang! Kecuali jika duit tersebut digunakan untuk modal berjudi atau memang bisnis money game!

Aku sendiri (maaf) tidak terlalu kasihan pada orang2 yg menjadi korban money game seperti itu! Kenapa harus kasihan? Bagiku, mereka adalah orang2 yg tamak dan malas serta ingin menjadi kaya dg cara instan (baca: ga masuk akal). Tidak ada bedanya mereka dg menyerahkan uang ke dukun untuk dilipat gandakan.

Beberapa artikel yg (diharapkan) membantu menjelaskan tentang bisnis & kasus Lihan ini bisa anda baca di sini, sini, dan sini.

Kemarin aku baru tahu bahwa kasus ini melibatkan Hanung dan Opick. *silakan googling utk info yg lebih lengkap*

Foto diambil dari sini.

Moral story:
- mental orang Indonesah yg ikut money game: pemalas, ingin cepat kaya tanpa kerja keras, dan tamak
- money game adalah cara paling mudah untuk mengumpulkan duit dan lalu membawanya kabur (jika beruntung tidak ditangkap polisi duluan, wakaka)
- hati2 jika ada yg menawarkan bisnis dengan pembagian keuntungan lebih besar dari bunga deposito. mungkin saja ada yg emang bener bisnisnya, tapi lebih baik anda tingkatkan kewaspadaan

Posted on Friday, January 15, 2010 by M Fahmi Aulia

3 comments

1/10/2010

Demikian postingan ini dimuat.

Posted on Sunday, January 10, 2010 by M Fahmi Aulia

1 comment

1/08/2010



Semula aku tidak tahu apa itu ear candle hingga Wify, yang sering 'sowan' ke spa dan salon kecantikan, memperkenalkan ear candle ini dan menyuruhku mencobanya.

Apa itu ear candle?

Ear candle, jika diterjemahkan secara harfiah, adalah lilin (untuk) kuping. Jika anda googling, dengan kata kunci ear candle, anda akan menemukan banyak artikel yang menceritakan apa sebenarnya ear candle itu. Walau demikian, aku akan menjelaskan ear candle sesuai dengan versiku sendiri. Ndak ada salahnya toh?

Jadi, ear candle itu adalah metode membersihkan telinga dari kotoran2 di dalamnya, termasuk bakteri dan jamur. Dengan kata lain, tidak sekedar kotoran biasa yang dibersihkan. Apabila selama ini anda hanya menggunakan 'cotton bud', bisa dipastikan hanya kotoran telinga saja yang terambil, itupun mungkin tidak cukup efektif.

Nah, ear candle ini metodenya sedikit 'mengerikan'. Malah bisa dibilang mirip2 dengan debus, wakakak. Hal ini dikarenakan, proses pembersihannya menggunakan api yang dibakar pada sebuah kertas lilin, kemudian kertas lilin tersebut dipasang ('ditanam') di dalam kuping, seperti gambar di atas.

Mengerikan, bukan?!

Namun, aku toh mencoba juga metode ini, meski agak was-was juga. Maklum pengalaman pertama. So, Wify menyimpan kertas lilin di dalam kupingku, memastikan bahwa bagian ujungnya sudah masuk cukup dalam, lalu mulai membakar bagian atas kertas lilinnya.

Perasaan takut yg semula aku rasakan, perlahan-lahan berubah menjadi rasa nyaman, terutama ketika aku merasa di dalam telingaku ada tekanan dari api yg terbakar itu. Bahkan, aku sempat merasa ngantuk, saking uenaknya metode ini, terlebih saat Wify memijat-mijat daerah sekeliling telingaku.

Menurut Wify, pijatan2 itu dimaksudkan agar kotoran2nya lebih mudah dibersihkan. Aku sih iya iya aja deh.

Lebih kurang 10 menit, api sudah berada di tanda tertentu di kertas lilin. Itu artinya kertas lilinnya mesti segera dicabut dari telinga. Wify segera mencabut kertas lilinnya, memadamkan apinya, dan akhirnya menggunting garis pembatas tersebut.

Selanjutnya, jika kita gunting dan 'kupas' kertas lilin tersebut, maka akan tampak kotoran (termasuk bakteri dan jamur) telinga yang berhasil 'ditangkap'. Percaya atau tidak, aku yg seminggu sebelumnya baru membersihkan telinga, ternyata tetap terkejut melihat hasil ear candle ini. Bagaimana tidak? Kotoran yg terkumpul di kertas lilin tersebut cukup banyak!!

So, akhirnya aku meminta Wify untuk menyimpan stok ear candle. Anda berminat menggunakan ear candle? Silakan kontak saya. Harganya tidak terlalu mahal kok, 1 pasang harganya Rp 15 ribu saja (belum termasuk ongkos kirim). Silakan tinggalkan pesan di komentar.

Sejauh ini, aku dapatkan info bahwa metode ear candle ini cukup aman, asalkan tidak berlebihan dan medianya bisa dipertanggungjawabkan.

Foto diperankan oleh model.

Moral story:
- membersihkan telinga dengan cotton bud tidak cukup
- ear candle merupakan alternatif membersihkan telinga
- konon, ear candle sudah digunakan sebagai metode pembersihan sejak jaman dulu kala

Posted on Friday, January 08, 2010 by M Fahmi Aulia

1 comment

1/03/2010



Awal tahun baru ini, aku akhirnya menemukan versi buku dari Komik Rada Lucu yang pernah aku tulis artikelnya di sini. Tidak terlalu mahal, bahkan bisa dibilang MURAH BANGET, seharga Rp 16.500 saja. Jadi, JANGAN NUMPANG BACA SAJA, BELI DONG! xixiix...

Di bukunya ini, Eko bisa lebih menuangkan karya2nya lebih bebas dan 'menyenangkan'. Tentu saja, karena kalo cuma ngandelin dari gambar2 di file2 PDF-nya tempo hari, para pembacanya tentu saja akan kecewa.

Aku yg membaca bukunya ini langsung terkekeh-kekeh membaca kartun2 satir dan bahkan terkadang begitu sarkas dalam menyampaikan pendidikan di Indonesia. Kekerasan fisik (dan mental) masih menjadi senjata utama para pendidik, bahkan untuk diterima oleh murid kelas rendah pun. Akibatnya, tidak sedikit siswa yang stres, tidak saja saat hendak menghadapi ujian nasional. Bahkan untuk hadir di sekolah, dia sudah mempersiapkan dan mengenakan helm agar mukanya 'selamat' dari gamparan gurunya (hal 27).

Toh itu bukan berarti Eko selalu menampilkan hal2 buruk ttg pendidikan. Ada beberapa hal yg cukup menarik dan bisa dijadikan pelajaran. Seperti seorang anak yg cuek saat disuruh belajar, ternyata dia pun akan dicuekin pada saat menjadi pengamen (hal 71). Atau 'ke-iri-an' seorang pedagang karena saat dia sekolah dulu tidak memperhatikan pelajaran sehingga dia tidak cukup pintar bahkan untuk melakukan operasi matematika jumlah kurang yg sederhana (hal 82).

So...kapan nich kalian beli bukunya? Karya anak bangsa seperti ini layak beli lho! *mudah2an bisa dapat buku + tandatangan Eko,xixixi...*

Moral story:
- pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan
- para pendidik masih banyak yg menggunakan kekerasan
- karya anak bangsa seperti ini harus lebih dihargai, dg membeli buku ini,xixixi..

Posted on Sunday, January 03, 2010 by M Fahmi Aulia

1 comment

1/01/2010


Horeee....postingan pertama di tahun 2010!
Oke, saatnya melanjutkan cerita bagian pertama. Masih pakai foto dari artikel pertama, berhubung jabang bayinya belum brojol, xixixi..

Mencoba produk2 MLM nampaknya tidak membuat kesehatan Wify membaik. Malah beberapa kali Wify mengalami 'penderitaan' yg teramat sangat gegara pada saat mengonsumsi produk tersebut.

Wify bukan berarti tidak ingin mencoba cara2 terapi tradisional untuk kami berdua. Beberapa hal yang pernah Wify lakukan adalah:
1. Membuat campuran seledri dan jantung nanas, yang mesti aku konsumsi. Hasilnya? Aku hanya bisa 1x coba minum dan termuntah-muntah dg suksesnyah!!
2. Wify mengonsumsi jus campuran toge kecil, kuning telur ayam kampung, dan madu.
3. Kami mencoba pengobatan dg jamu tradisional. Wify mendapatkan informasi ini dari kapster yang merawatnya di spa. Lokasi pembelian jamu ada di daerah Cempaka Putih dan cukup sulit menemukannya (setidaknya buat kami).
4. Menyantap jus semangka, untuk kami konsumsi berdua.

Yang kami berdua syukuri, kami TIDAK PERNAH MENGGUNAKAN DUKUN ATAUPUN HAL2 YG NON LOGIS! Alhamdulillah...akal sehat kami selalu mengingatkan kami berdua agar HANYA MENGGUNAKAN CARA-CARA YG WARAS DAN BISA DIPERTANGGUNGJAWABKAN SECARA LOGIS! Well, jamu tradisional masih kami anggap sebagai hal yg (masih) waras.

Beberapa hal yang tidak kami lakukan adalah:
1. Mendatangi seseorang (dibilangnya sih pak haji) di kawasan Kalibata.
2. Berobat ke seorang bu haji di daerah Duren Tiga.
3. Sinshe di daerah Rawamangun. *well, untuk sinshe, terus terang kami masih menganggapnya sebagai sesuatu yg kami hindari, dg alasan pribadi*

Untuk hal2 yg masih 'berbau' haji saja kami tidak mau mendatangi, apalagi yg jelas2 mencap tato 'dukun' di jidatnyah! Syirik itu sich!

Buat temen-temen, sebaiknya tidak perlu terlalu percaya dengan pak haji/bu haji atau orang2 pinter seperti itu deh. Ada yg pakai model usap perut dan minum air putih yang sudah diberi jampi2 bisa hamil, ada yg model mengalihkan penyakit ke media lain, dst dst.

Aku punya cerita dari temannya teman, katakanlah si B (tingkat kedua, hehehe). Si B ini pergi ke pak haji, yang diyakini dan dipercaya bisa membuat perempuan hamil. Alkisah, si B ini akhirnya perutnya membesar SEPERTI ORANG MENGANDUNG. Tapi apa lacur, di bulan 8 MENDADAK PERUTNYA MENGEMPIS! Dan jabang bayi yg selama 8 bulan dia kandung, MENDADAK RAIB!

Nah, jika sudah seperti itu, siapa yg mesti disalahkan? Palingan tuding menuding suami istri, dan ujung2nya bisa terjadi perceraian!

Bersambung ke bagian 3, insya ALLOH terakhir.

Moral story:
- tidak ada salahnya kembali ke pengobatan tradisional
- gunakan selalu akal sehat untuk ikhtiar mendapatkan keturunan
- jika menggunakan pengobatan alternatif, tetap mesti waras yak!
- jangan putus asa!ikhtiar dan doa harus terus dilakukan!

Posted on Friday, January 01, 2010 by M Fahmi Aulia

1 comment