Kekalahan 0-3 dari Malaysia yg baru berlalu menyisakan kelegaan kepada diri saya dan Wify.

Lho, kok lega? Situ pengkhianat bangsa yak? Tidak nasionalis yak?

Oh, jangan salah paham dulu, dude. Kelegaan kami lebih banyak karena dengan kekalahan ini, diharapkan kita bisa belajar banyak hal:

Pemujaan Yang Berlebihan.
Duh, apakah anda2 melihat begitu besar pemujaan yg diberikan kepada timnas kemarin? Sebelum berangkat, jutaan pujaan diberikan, seakan-akan timnas sudah menjadi juara. Akibatnya, saya yakin, mental para pemain timnas agak terbuai. Efeknya? Jelas...jumawa padahal belum apa2.

Eksploitasi Timnas.
Yang lebih parahnya lagi, timnas kita harus menghadiri perayaan2 dan upacara2 ga penting. Mulai dari istighosah, kunjungan ke rumah Ical, dst dst. Cape boowww...waktu luang itu mestinya digunakan untuk istirahat lah. Ngapain juga mesti menghadiri acara2 seperti itu?! Lebih parahnya lagi, saya sempat membaca bahwa kemarin malam (malam Minggu) Menpora mengajak makan malam timnas. Untungnya Riedl menolak mentah-mentah!

Para Pejabat, Introspeksilah Kalian!
Ok, poin ini mungkin terasa naif dan (terasa sekali) musykil dilakukan! Saya tidak banyak komentar deh untuk hal ini.

Perbaiki Mental Pemain Timnas!
Insiden penyorotan laser oleh para penonton Malaysia jelas bukan tindakan sportif. Tapi, justru celah non teknis ini yg diincar oleh mereka. Dan ternyata hal ini berhasil. Konsentrasi buyar dan mental melempem, mengakibatkan permainan menjadi kacau balau.

So, masih ingin menang? Perbaiki dulu hal2 di atas.

Bagi saya, timnas tetaplah harus disemangati dan dipuja. Perjuangan mereka utk mencapai babak final sudah merupakan sebuah prestasi. Dan tentu saja, untuk pengurusnya, terserah kalian, mau dicaci boleh, mau disunat boleh, mau digorok juga boleh, wekekke..

Jangan salah, yg menembakkan laser adalah GAYUS! Wakaka...

Moral story:
- timnas sudah berjuang maks, tapi mental masih minimal
- timnas dipuja setinggi langit oleh rakyat Indonesia, dibanting oleh pemain Malaysia di stadion