Dalam dunia kerja, seringkali kita bertemu dengan orang2 yg jabatannya lebih tinggi yg biasa disebut boss. Ada berbagai tipe boss dan aku harap tidak pernah bertemu dg boss seperti yg dimiliki oleh Kirani, yg telah sukses membukukan kisah hidupnya bersama si boss ke dalam buku "My Stupid Boss".

Job desc boss ya jelas lah, dia bertugas memberi makan anak buahnya, dengan cara mencari relasi2 yg mau menawarkan atau menyediakan proyek2 yg selanjutnya akan dikerjakan oleh anak buahnya. Boss tentu bertanggung jawab penuh terhadap masa depan perusahaannya, karena (mayoritas) boss adalah sekaligus sebagai owner (pemilik) perusahaan tersebut.

Boss juga mempunyai kewajiban untuk memutuskan hal2 yg dirasa penting. Kontrak kerjasama, mendelegasikan orang, tanda tangan pembayaran, adalah sebagian kewajiban yg mesti dilakukannya.

Sayangnya, tidak semua boss mempunyai tanggung jawab. Cukup banyak boss yg main lempar tanggung jawab yg berkesan dia cuci tangan terhadap hal2 yg seharusnya dia lakukan. Jika dia mendapat sebuah permasalahan yg mesti dia putuskan (setuju/tidak) tidak jarang dia 'oper' ke orang lain. Jika sesama boss sih tidak apa2, lha ini malah anak buahnya (yg terkadang tidak kompeten sama sekali) utk memutuskan hal penting tersebut.

Jika anda temui hal seperti yg aku tulis di atas, bisa dipastikan kondisi perusahaan tersebut tidaklah baik. Mengapa? Lha wong bossnya saja melemparkan tanggung jawab yg mesti dia emban, maka bisa diprediksikan anak buahnya/staf2nya juga bertindak hal yg sama. Well, mungkin tidak semua, tapi aku yakin mayoritas akan berbuat seperti itu. Nah, boss seperti inilah yg disebut bossy.

Salah seorang temanku malah mempunyai istilah yg lucu utk boss2 yg bertindak seperti itu. Dia bilang, boss2 tersebut mempunyai dan menguasai jurus Tai Chi.

Seperti kita ketahui, dasar dari tai chi adalah 'memantulkan' kembali semua serangan yg datang padanya. Dan aku hanya tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Sifat dan perilaku bossy tidak saja dimiliki oleh para boss. Kita juga bisa jumpai sifat ini di orang2 dg level di bawah boss. Walau bukan boss, bukan berarti mereka tidak bisa nyuruh2 dan lempar tanggung jawab. Bahkan bisa dibilang lebih bossy dari bossnya sendiri, hahaha.

Cerita temanku, atasan dia yg levelnya supervisor, mempunyai sifat bossy ini. Semua masalah yg dikeluhkan (termasuk permintaan2) client, dilempar semua ke anak buahnya tanpa ada filter dari dirinya. Pokoknya terima dan setujui! Padahal permintaan2 dan keluhan2 tersebut mestinya dianalisa dan dipikir dulu olehnya sebelum (yg dia setujui) dia serahkan ke anak buahnya.

Sementara, jika diminta hadir untuk rapat, dia dengan serta merta menolak utk hadir. Anak buahnya yg mesti ikut. Ataupun jika dia 'ingin' hadir, maka dia harus didampingi orang lain.

Orang2 seperti di atas, menurutku, akan sulit untuk diajak kerjasama dan membangun tim yg kokoh. Semuanya cari aman sendiri serta ingin enak sendiri. Istilahnya, magabut, makan gaji buta. Makin tinggi ilmu dan jurus tai chi yg dikuasai, makin magabut dia, ahahah.

Aku? Aku sendiri melihat tanggung jawab sebagai sebuah amanat (ya iya lah). Namun, ada kalanya kita memang tidak perlu terlalu berlebihan menanggung sebuah tanggung jawab. Secukupnya saja, sesuai dengan kemampuan dan porsi kita. Tidak perlu menjadi super hero dengan berlebihan memikul tanggung jawab, dan tidak perlu juga menjadi bossy (dan loser) dg menolak semua tanggung jawab.

Jika anda merasa sudah merasa bertanggung jawab tapi hasilnya tidak seperti yg anda harapkan, terutama karena semua tanggung jawab dipikulkan kepada anda, solusinya hanya satu. RESIGN!! Hahaha.

Sudah ah, nanti aku dianggap ngompori pula.

Gambar dari sini.

Moral story:
- dapat boss yg baik itu anugerah, dapat boss yg 'buruk' juga anugerah. setidaknya anda bisa bikin buku juga seperti Kerani, ahhaha.
- jika seorang boss tidak bisa bertanggung jawab utk keputusan2 yg penting, maka patut dipertanyakan kapabilitasnya sbg boss.
- anda tidak puas dg boss sekarang? ya pindah saja, gitu aja kok repot.