Sebuah kendaraan bermotor membutuhkan tune up, yakni sebuah proses 'pembenahan' dan penyetelan ulang komponen2 dan mesin2 di dalamnya. Tujuannya? Tentu saja untuk memperbaiki kondisi serta mendapatkan kinerja yg optimal. Dengan demikian, si pemilik kendaraan tentu akan semakin nyaman dalam menggunakan kendaraan bermotor.

Tune up bisa dilakukan oleh banyak pihak, bahkan oleh diri anda sendiri. Hanya saja, aku yakin tune up-nya tidak akan optimal, kecuali anda memenuhi 2 syarat berikut. Pertama, anda benar2 paham dengan mesin. Yang kedua, anda memiliki peralatan yang dibutuhkan untuk tune up.

Walhasil, aku yakin kebanyakan dari pembaca artikel ini setuju jika tune up dilakukan di bengkel. Di sana terdapat montir dan peralatan yang menunjang kegiatan ini.

Pilihan berikutnya, bengkel resmi atau tidak resmi? Bengkel resmi tentu akan menjadi pilihan pertama, JIKA PUNYA DUIT, hehehe. Alasannya jelas. Bengkel resmi mempunyai staf yg handal, peralatan yg lengkap (dan canggih) dan punya kinerja yg standar. Dengan demikian, bisa dipastikan kualitas kerja mereka bisa dipertanggungjawabkan. Bisa dikatakan bahwa bengkel resmi menyandang 'beban' merk. Logikanya, bengkel resmi ini tidak akan sembarangan dalam bekerja.

Akan tetapi jangan salah, bukan berarti bengkel tidak resmi kualitasnya jelek. Jika anda sempat berjalan-jalan di Jakarta di akhir pekan, cobalah lewat di daerah Warung Buncit. Anda akan melihat banyak bengkel (tidak resmi) yg begitu penuh dengan para pelanggan mereka.

So, dengan kata lain, resmi dan tidak resmi sebenarnya sebuah alternatif ataupun pilihan. Kualitas bukanlah jaminan.

Dan itu yg aku alami, kekecewaan usai menggunakan jasa sebuah bengkel resmi.

Cerita dimulai tgl 9 Oktober 2010 lalu. Kebetulan ada urusan di Bandung, maka aku sempatkan diri untuk mengunjungi sebuah bengkel resmi di daerah Pasteur. Tujuannya jelas, untuk mencek kondisi kendaraan, tune up. Selain itu, aku minta untuk dicek kondisi lampu belakang dan kondisi lampu depan.

Kendaraan masuk sekitar jam 11 lebih sedikit dan bisa diambil sekitar jam 3. Cukup lama menurutku, tapi it's ok, aku tidak mau ambil pusing. Toh aku jadi bisa melakukan beberapa kegiatan lainnya.

Sayangnya, saat aku ambil kendaraan, aku merasakan beberapa ketidakberesan. Ketidakberesan ini diperkuat pada saat aku dan keluarga (Wify dan Mikaila serta Nenek) kembali ke Jakarta, di antaranya:

- Kondisi mesin yg malah memburuk. Jika sebelumnya aku bisa memacu di angka 140 km/jam, maka usai 'tune up' (sengaja aku beri tanda kutip) malah kecepatannya mentok di angka 100 km/jam.

- Hal lain yg menjengkelkanku adalah mesin menjadi sering 'loss power'. Jadi, jika kita sedang di jalanan yg menanjak, meski sudah ambil ancang2, katakanlah mobil sedang dipacu pada kecepatan 80 km/jam, maka kecepatan mobil akan mendadak turun hingga 20 km/jam. Dan ini JELAS MEMBAHAYAKAN KESELAMATAN, baik si pengguna kendaraan maupun pengguna jalan yg lain!!! Akibatnya, aku seringkali mesti minggir ke kiri untuk memberi kesempatan mobil lain untuk menyusul. Yang menyedihkannya, truk gandeng pun bisa menyusul kami, saking pelannya kendaraan kami melaju!!

- Penyakit lain yg tiba2 muncul adalah mesin yg kurang responsif. Apabila aku sedang berhenti karena lampu merah, maka pada saat hijau, kendaraan akan menjadi 'bloon' dan telmi, karena meski aku sudah meng-gas, tapi jalannya begitu lambat. Mirip dg poin sebelum ini. Efeknya jelas, aku sering diklakson oleh para pengguna kendaraan di belakangku!

- Mesin yg tidak bisa diatur. Ada kalanya aku meng-gas, mesin cenderung pelan dan lambat bereaksi. Namun, terkadang saat aku tidak terlalu nge-gas, eh...si mesin 'loncat' ke depan dan menggerung2. Efeknya jelas, BOROS BENSIN!!

- Lampu kanan depan tidak diperhatikan. Walhasil, masih tetap mati!

Hari Minggu pagi, 10 Oktober 2010, aku menelpon lagi ke bengkel dan mendapat jawaban dari petugas piket agar membawa kendaraan di hari Senin utk diperiksa ulang. Tentu saja jawaban ini aku tolak mentah-mentah, mengingat Minggu sore kami mesti segera kembali ke Jakarta.

Dan sebagai konsekuensinya, selama seminggu, aku mesti tabah menghadapi sekian penyakit tersebut! Hingga akhirnya aku berkesempatan lagi datang ke Bandung tgl 16 Oktober 2010. Aku kembali ke bengkel tersebut, mengeluhkan hasil tune up yg tidak ok. Bukan tune up jika begini, tapi tune down! Heheh...

So, seorang staf kembali membawa kendaraanku untuk diperiksa. Seraya menunggu kendaraan diambil, aku kembali beraktivitas.

Di tengah aktivitasku, aku ditelpon oleh staf bengkel. Sebuah PERTANYAAN (aku sebut sebagai sebuah TUDUHAN) YG MENYAKITKAN DAN TIDAK BERDASAR dilontarkan oleh mereka. Dia bilang begini (lebih kurang, agak lupa detilnya),"Pak, apakah setelah dari bengkel kami, Bapak pernah mengubah setting kendaraan Bapak di bengkel lain? Karena kami lihat settingannya sudah berubah!"

SEBUAH BENTUK KEKURANGAJARAN DAN CARA UNTUK MENGHINDARI TANGGUNG JAWAB!!

Bagaimana tidak kurang ajar, aku sudah jawab bahwa aku TIDAK PERNAH MENGUBAH APAPUN usai dari bengkel mereka, staf tetap ngotot bahwa settingan mesin berubah! Nyaris aku emosi berat dg tuduhan ini! Aku jawab,"USAI DARI BENGKEL BAPAK, SAYA TIDAK PERNAH MENGUBAH APAPUN! LAGIPULA SAYA LEBIH SUKA PAKAI BENGKEL RESMI, BUAT APA SAYA MESTI MENGUBAH DI TEMPAT BUKAN RESMI?"

Singkat cerita, aku bisa mengambil kendaraan. Si staf mengatakan bahwa kendaraan sudah bisa mencapai kecepatan 140 km/jam. Aku tidak yakin hingga aku bisa mencobanya sendiri. Demikian juga dg pernyataan dia bahwa responsif mesin sudah membaik, tidak serta merta aku percaya. Si staf sempat menawarkan untuk mencuci kendaraan, namun aku tolak.

Saat aku cek kondisi kendaraan, ternyata kembali aku dibikin kecewa oleh kinerja bengkel ini.

- Sabuk pengaman penuh dengan oli.

- Karpet juga penuh dg jejak oli dari kaki (terlihat dari bentuk tapak kaki).

- Responsif mesin masih tidak normal, meski agak lebih baik dari minggu lalu.

- Lampu kanan depan tidak diganti karena TIDAK ADA BOHLAM LAMPU 100 WATT.

Yang mengesalkan, saat aku komplain lagi ttg hal ini, aku diminta datang lagi hari Senin (18 Oktober 2010) atau Sabtu depan (23 Oktober 2010/hari ini). Usai diskusi dengan Wify, aku putuskan untuk BERHENTI menggunakan jasa bengkel ini untuk memperbaiki kondisi kendaraanku. Biaya, tenaga dan waktu bolak balik Jakarta-Bandung malah terbuang lebih banyak sementara outputnya tidak sesuai dengan yg diharapkan.

Ah, intinya, layanan resmi ternyata mengecewakan!

Gambar dari sini dan bukan yg sebenarnya.

Moral story:
- bengkel resmi tidak menjamin hasil kerjanya bisa diandalkan