Segala sesuatu di dunia pasti ada permulaan (hal pertama). Dan kali ini, untuk pertama kalinya aku mengalami kecelakaan, bersepeda motor.

Oya, mesti aku ingatkan dahulu, kecelakaan ini terjadi bukanlah karena aku ber-BB atau ber-handphone seraya bermotor. Nope. Aku orangnya cukup strict dan cukup waras untuk tidak melakukan hal2 sebodoh itu. Dan, maaf, aku tidak bersimpati ataupun kasihan dengan orang2 yg celaka dikarenakan ulah (bodoh) mereka.

Kejadian kecelakaan kemarin ini sebenarnya sudah ada firasat sebelumnya.

Pertama, eMBi sejak pagi tidak mau diam. Adalah hal di luar kebiasaan eMBi utk bangun pagi (jam 6-7 pagi), apalagi aktif seperti itu. So, Wify sudah wanti2 kepadaku sejak aku hendak berangkat ke kantor agar berhati-hati. So, aku ngantor dengan kondisi lebih hati2. *setidaknya menurutku*

Kedua, kehati-hatianku ternyata masih belum cukup. Firasat kedua terjadi di jalan. Saat aku hendak ambil ke kanan, mobil sedan Toyota (aku tidak terlalu ngeh tipenya) mendorongku. Nope..bukan menabrak, tapi mendorong, karena bodynya menyentuh knalpot si Red Banzai. Sedikit terkejut, aku langsung menoleh ke belakang. Rencananya hendak 'bikin masalah', tapi aku batalkan. Lebih baik cepat2 berangkat ke kantor.

Ketiga, masih di jalan. Di belokan dekat STEKPI, sebuah motor keluar dan belok kiri. Entah kenapa, tiba2 si perempuan ini jatuh dan tertimpa motornya. Karena kejadiannya begitu cepat, aku hanya bisa melihatnya sekilas. Kecepatan Red Banzai di angka 50-60 km/jam membuatku agak 'kagok' untuk berhenti dan memberi pertolongan.

Keempat, saat perjalanan ke Pertamina. Entah kenapa, aku merasa mengantuk yg teramat sangat. Padahal semula segar bugar. Walhasil aku perbanyak dzikir dan istighfar, karena lalu lintas cukup ramai. Dan tahu sendiri kan, lalu lintas di Jakarta bisa dibilang cukup mengerikan karena menelan banyak korban jiwa.

Kelima, sore hari Wify menelponku, mengatakan eMBi masih (terlalu) aktif bergerak. Wify juga mengingatkan agar aku tetep banyak doa. Aku aamiinkan.

Lima firasat di atas sebenarnya sudah cukup untuk memberitahuku bahwa something wrong akan terjadi. Namun karena hingga sore hari tidak terjadi apa2, aku agak abai hal tersebut.

Pulang ngantor, aku bertemu teman2 di daerah Sudirman. Sepulangnya dari sana, kejadian ini berlangsung.

Cuaca Jakarta sedang gerimis, so aku lebih hati2 karena jalanan yg licin berpotensi menimbulkan kecelakaan karena ban yg slip.

Nah, saat hendak melewati gedung Patra Jasa, aku berniat menyalip sebuah mobil, maka aku ambil kanan dong sesuai aturan. Posisi aku dan mobil sedang berada di tengah jalan. Nah, saat aku menyalip, entah kenapa kok tiba2 pembatas jalan busway kok sudah muncul?! Padahal, perkiraanku pembatas jalan busway ini masih agak jauh.

Kejadian ini begitu mendadak sehingga aku tidak sempat untuk bereaksi. Pembatas jalan itu langsung saja aku hajar dan aku merasa diriku sedikit terbang (terpelanting?) sebelum akhirnya mendarat di jalur busway dan terseret selama beberapa saat.

Pada saat terpelanting dan akhirnya mendarat, ingatanku melayang ke Wify dan eMBi. Dan berusaha me-rileks-kan tubuhku, dalam artian jika memang jatuh dan keseret yaa ngikut saja...jangan melawan karena jika badan 'melawan' justru bisa menimbulkan cedera yg lebih parah.

Setelah berhenti terseret (dengan Red Banzai sedikit menimpa tubuhku) aku langsung mencek kondisi tubuhku. Tangan kanan...check. Kaki kanan...check. Kaki kiri...hmm...ketindih motor, tapi check. Tangan kiri...fine. Alhamdulillah, tidak terjadi patah tulang atau hal yg lebih buruk.

Posisiku masih sedikit telungkup, lalu aku berdiri seraya menahan nyeri di kaki kiri.

Beberapa orang datang menghampiri. Seingatku ada 3 pengendara sepeda motor berhenti. Lalu ada satpol PP (atau petugas jasa marga) ikut menghampiri.

"Pak...baik2 saja?"
"Ya...saya tidak apa2"

"Yakin bisa pulang?"
"Ya...bisa"

Aku ucapkan terima kasih kepada anda2 para penolongku, semoga ALLOH SWT membalas dg kebajikan yg berlipat ganda.aamiin.

Setelah beberapa kali coba start Red Banzai, akhirnya Red Banzai menyala dan aku melanjutkan perjalananku pulang.

Usai di rumah, aku cukup terkejut dan bersyukur bahwa tidak ada luka yg berarti di tubuhku. Hanya saja bagian kiri badan terasa agak ngilu dan sedikit kaku. Wajar mengingat kaki kiri agak tertindih Red Banzai. Celana panjangku sobek...dan setelah pengabdiannya selama 7 tahun (buset dah) akhirnya dia harus pensiun dg cara yg mengenaskan. *halah, lebay, xixixi*

Ketika aku cek kondisi Red Banzai, lagi2 aku bersyukur tidak terjadi hal yg terlalu parah. 'Hanya' lecet2 di beberapa tempat dan dudukan kaki kiri yg sedikit melenceng. Aku perbaiki stirnya....aku putar...dan voila, kembali normal.

Dan hari ini nampaknya aku mesti istirahat. Jika perlu nanti siang pijat, sekedar memastikan tidak ada urat2 yg keseleo. Pemeriksaan ke dokter (rontgen), hmm...mungkin belum terlalu perlu.

Mohon doanya, semoga kondisiku bisa normal lagi.aamiin :-)

Moral story:
- berlalu lintas di Jakarta cukup riskan. kita yg hati2 bisa tetap jadi korban
- jangan sepelekan firasat, hingga kembali ke rumah dengan selamat
- pembatas busway di Gatsu ini memang sudah menelan banyak korban lho!
- jangan lupa, tetap berdoa dan kenakan helm dg kualitas terbaik, untuk keselamatan anda