Hari ini, 27 April 2010, berakhirlah sudah tugas kereta api Parahyangan yg sudah bekerja selama 39 tahun.

Terus terang, aku sempat terkejut pada saat mengetahui akan dihentikannya layanan transportasi yg murah meriah ini. Teringat kenangan selama aku menggunakan jasa ini saat awal-awal aku mulai pindah di Jakarta hingga sekitar 2-3 tahun lalu.

Hal-hal yg menjadikan kenangan dari kereta api Parahyangan adalah:
- Tidak kebagian tiket duduk, sehingga seringkali terpaksa duduk di sekitar penghubung antar gerbong. Bahkan pernah juga duduk tepat di depan toilet, haha. Kebayanglah baunya seperti apa.

- Salah naik, gegara salah membaca jadwal. Penyebabnya salah baca jadwal karena terburu-buru berangkat.

- Nasi goreng dan makanan yg kadang 'ndak jelas' rasanya. Well, untuk rasa memang relatif sebenarnya, tapi nasgor kereta api Parahyangan ini seringkali menolong aku (dan Wify) pada saat ga sempat makan ataupun kelaparan.

- Lewat terowongan pada saat berangkat ke Jakarta ataupun ke Bandung. Jika sudah hendak lewat terowongan ini, hendaknya jendela kereta (untuk kelas bisnis) ditutup. Penyebabnya adalah hawa dan udara yg masuk cukup pengap dan tidak enak dihirup.

- Oya, terkadang jika tidak kebagian tempat duduk, maka ada cara untuk mengakalinya. Segera menuju ke kereta makan dan duduklah di kursi2 yg ada. Well, tidak perlu memesan sebenarnya, meski awal2nya merasa ndak enak kalo ndak mesan, heheh. Hampir lupa, trik ini hanya bisa diterapkan jika kita mencegat dari stasiun Jatinegara. Jadi, kita naik kereta Parahyangan yg hendak menuju Gambir. Trik ini jelas tidak mungkin berlaku jika kita 'menjemput' kereta di Gambir.

Sebenarnya aku sudah menduga bahwa kereta api Parahyangan ini akan ditutup, tapi tidak secepat ini. Aku pernah menulis bahwa akibat dibukanya jalur tol Cipularang, akan banyak pihak yg 'tersingkirkan'. Di awal-awal pembukaannya, para pedagang di daerah Puncak dan Purwakarta menjadi korban, dengan kian sepinya para pengunjung.

Nah, kereta api Parahyangan kalah bersaing dengan keberadaan dan kemunculan transportasi travel yg muncul dan menjamur, terutama dalam hal jam atau waktu keberangkatan serta kedatangan. Aku sudah seringkali mengeluhkan hal ini (silakan cari & baca di sini). Hal ini jelas pukulan telak, karena banyak orang yg membutuhkan kecepatan dan ketepatan tiba di tujuan.

Bayangkan saja, kereta api Parahyangan (dan juga Argo Gede) seringkali terlambat datang hingga 15-30 menit. Padahal mereka ini butuh waktu lebih dari 3 jam untuk menempuh jarak Bandung-Jakarta. Sementara travel hanya membutuhkan kisaran 2 jam. Bahkan jika kondisinya cukup kosong, aku hanya butuh waktu 1,5 jam saja untuk berangkat Bandung-Jakarta (atau sebaliknya).

Menurutku, pihak PT KAI tidak menyadari akan adanya bahaya yg mengancam (sejak dibukanya tol Cipularang). Mereka bereaksi pada saat keadaan sudah parah dan tidak bisa diselamatkan. Diskon tiket yg diberikan tidak menolong banyak karena para penumpang kian pintar dan cerdas dalam menentukan pilihan.

Keberadaan tempat transit travel yg kian menjamur dan tersebar di berbagai tempat membuat para penumpang kian enggan mesti bersusah payah menuju stasiun kereta api Bandung untuk kepergian mereka ke Jakarta. Mereka cukup mendatangi tempat transit travel terdekat dengan rumah ataupun tujuan mereka.

Seharusnya, menurutku, pihak PT KAI mempercepat waktu tempuh ataupun mengganti gerbong dan kereta dengan yg lebih mumpuni. Namun hal ini memang tidak memungkinkan, karena faktor rel yg tidak banyak diperbaharui dan tidak bertambah. Setahuku, kereta api Bandung-Jakarta masih menggunakan jalur kereta api yg dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda. Tidak banyak pembangunan baru jalur kereta.

Faktor-faktor di atas mempercepat 'kematian' kereta api Parahyangan.

Aku mulai naik kereta api Parahyangan di tahun 1980 awal. Tepatnya aku agak lupa, tapi sekitar tahun 1984. Jika tidak salah harga tiketnya masih Rp 1000. *maaf, lupa2 ingat*

Hmmm...terus terang, aku agak sulit bercerita jika sudah terkait dengan kenangan atau memorial. Terlalu banyak hal yg ingin diungkapkan namun kata-kata tidaklah cukup. *halah, lebay, xixixi...*

Yaaa...intinya, selamat tinggal kereta api Parahyangan. Terima kasih sudah melayani jutaan para penggunanya yg terdiri dari berbagai macam golongan, terutama membantu para mahasiswa.

Foto dari sini.

Moral story:
- pemerintah Indonesia seringkali tidak menyadari efek samping tindakannya. dalam hal ini, mereka tidak memperhitungkan dan mengantisipasi dampak dari pembukaan jalan tol Cipularang.
- alih-alih memperbaiki layanan, PT KAI malah menutup jalur kenangan.
- pemerintah Indonesia tidak mendukung layanan transportasi yg terjangkau oleh masyarakat banyak.
- kereta api Parahyangan dikenang banyak orang, termasuk aku (dan Wify).
- sayangnya aku tidak sempat mengabadikan kereta api legendaris ini. terakhir kali aku ke Bandung, aku lupa untuk ke stasiun.
- jadwal baru kereta Argo Parahyangan (maksa banget namanya) sudah disiapkan, bisa dilihat di sini.