Bagi anda para motoris, helm merupakan sebuah kebutuhan yg begitu niscaya keberadaannya. Ber(sepeda)motor tanpa menggunakan helm, terlebih di Jakarta, pada umumnya anda akan di-prit oleh polisi (baca: ditilang). Well, beberapa perkecualian bisa terjadi, terutama jika anda melakukan arak-arakan dan konvoi dengan embel-embel keagamaan, entah itu majelis tertentu ataupun pengikut seorang habib.

Helm yg digunakann untuk bersepedamotor, sepengetahuanku, terbagi atas 3 macam:
- Helm cathok, yakni helm yg harganya di bawah Rp 30 ribu. Helm ini semodel dengan helm proyek, namun biasanya ditambahi dengan tali pengikat.
- Helm half face, yakni helm yg rata-rata digunakan para motoris di Jakarta. Helm ini memiliki tingkat keamanan yg lebih baik. Harganya beragam, dari mulai sekitar Rp 49 ribu hingga Rp 200 ribu.
- Helm full face, yakni helm yg biasa digunakan para pembalap (entah itu MotoGP ataupun Formula 1). Helm jenis ini mempunyai tingkat keamanan tertinggi. Harganya lebih mahal lagi daripada kedua helm di atas. Aku pernah temukan sebuah helm tipe ini seharga Rp 3 juta!!

Aku sendiri sampai tadi siang mempunyai 2 jenis 2 helm, yakni cathok dan half face. Helm cathok 'terpaksa' aku miliki karena Wify tidak sanggup untuk menggunakan helm half face. Selain helmnya terlalu 'rapat' dan menekan wajah, Wify sering merasa kepalanya pusing karena telinganya merasa terlalu tertutup dan tertekan.

Nah, sejak 1 April 2010 lalu, pemerintah Indonesia kembali menelurkan kebijakan yg 'kreatif'. Kebijakan tersebut adalah MEWAJIBKAN para pengendara sepeda motor untuk menggunakan helm dengan CAP SNI. Jika ada yg melanggar, maka hukuman kurungan selama 1 tahun atau denda sebesar Rp 250 ribu akan menanti anda.

Terus terang, kebijakan ini aku rasa terlalu prematur dan dipaksakan. Dan seperti biasa, nada2 sumbang bermunculan.
1. Banyak yg beranggapan bahwa peraturan ini tidak ada sosialisasi, sehingga masyarakat merasa kecolongan dan akan menjadi korban tilang. Pendapatku, pemerintah akan melakukan pengunduran waktu penerapan peraturan ini. Intinya: pemerintah hendak melakukan shock therapy kepada masyarakat. 'Hajar' dahulu, revisi belakangan.

2. Aturan denda dan kurungan ini akan menjadi kesempatan 'pungli' bagi para penegak hukum. Yaaa standar lah, penegak hukum di Indonesia seringkali bisa diajak 'cingcay' dan kompromi apabila ada pelanggaran. Daripada mesti repot mengeluarkan Rp 250 ribu, Rp 20 ribu masih lebih mudah dilepas.

3. Proyek dari Kementerian Perdagangan dan Perindustrian. Pemberlakuan cap SNI merupakan 'strategi' untuk dijadikan proyek, bisa dikatakan proyek cukup besar oleh Kemerindag. Bagaimana tidak? Dengan pemberlakuan cap SNI ini, berarti banyak merk helm yg mesti didaftarkan (dan dicap SNI) ke Kemerindag. Padahal jika kita hitung secara kasar, berapa banyak helm yg sudah beredar? 10 juta? 30 juta? 100 juta? Jika 1 cap dikenakan biaya Rp 1,000, maka bisa dihitung jumlah yg mesti dikeluarkan oleh produsen helm.

4. Terkait dengan poin 3, bagaimana dengan nasib helm2 terdahulu, yg belum ada cap SNI. Saat ini helm2 banyak yg ber-stiker SNI dan lebih banyak lagi yg tidak ada tanda SNI sama sekali. Belum lagi jika kita membeli sepeda motor baru, biasanya akan mendapat helm...YANG TIDAK ADA TANDA SNI (cap atau stiker).

5. Yang paling repot adalah orang2 yg memiliki helm dengan standar INTERNASIONAL. Biasanya helm2 tipe ini harganya cukup mahal, di atas Rp 2 juta dan impor (lihat keterangan di helm full face). Apakah ini berarti helm2 jenis ini mesti dibuang juga?

Seorang pengendara sepeda motor SUDAH SEHARUSNYA MENGHARGAI KEPALANYA. Apalagi bagi para pencari nafkah, meski bukan berarti para pembonceng boleh seenaknya, mereka mestinya melengkapi dan menyelamatkan aset paling berharga mereka (kepala mereka) dengan alat yg mempunyai tingkat keamanan sebaik-baiknya.

Dalam beberapa cerita yg pernah aku dengar, kualitas helm sangatlah menentukan keselamatan si pengendara. Beberapa teman pernah mengalami kecelakaan dan, alhamdulillah, mereka selamat. Selain karena campur tangan Yang Maha Kuasa, kualitas helm yg mereka kenakan cukup berpengaruh.

So, dengan dasar itulah, akhirnya aku mengajukan proposal pembelian helm baru kepada Wify selaku Menteri Keuangan. Dan alhamdulillah, proposal ini disetujui. Minggu sore aku membeli sebuah helm full face dengan cap SNI sudah tertera dan tercetak di helmnya.

Harganya lumayan lah, tapi aku rasa sebanding karena (seperti aku tulis di atas) aku mesti menyelamatkan asetku yg paling berharga, kepalaku. Selain itu, helm yg aku beli ini mempunyai 2 lapis kaca, yakni kaca bening dan kaca ray ban. Selama ini terus terang aku mengalami kendala jika pulangnya setelah matahari terbenam. Aku mesti membuka kaca helmku (yg bermodel ray ban) dan membuat wajahku kotor karena debu jalanan.

Semoga dengan helm baru, si Ban Kyt ini, asetku akan lebih terjaga. Yang akan jadi kendala, aku tidak bisa menyimpan helmku di sepeda motor lagi seperti biasa. Helm mahal bow....mesti dibawa dan ditenteng lah. Sedikit merepotkan, kecuali jika ada penitipan helm.

Moral story:
- helm merupakan komponen terpenting bagi pengendara (dan pembonceng) sepeda motor
- gunakan helm dengan tingkat keamanan terbaik demi keselamatan anda juga
- pemerintah RI seringkali mengejutkan masyarakat dg peraturan2 yg 'kreatif' (meski akhirnya akan ada revisi)