Bermula dari 'kicauan' salah seorang tweeps, Lita, di Twitter. Dia menginformasikan bahwa ada beberapa pelajarnya yang berhasil diterima di perguruan tinggi di luar negeri. Tidak tanggung-tanggung, di Singapura, NUS & NTU jika tidak salah.

Oya, Lita adalah seorang guru yang mengajar mata pelajaran Kimia di SMAN 8 Jakarta.

Di kicauan berikutnya, Lita 'mempertanyakan' sikap muridnya tersebut, yg ingin (atau bersikukuh) ingin mencoba SPMB 2010, dengan mengincar jurusan yang top di ITB, apakah sebagai pembuktian diri atau apa?

Well, aku setuju dengan Lita, bahwa sikap dan tindakan si anak itu sudah termasuk SOK dan MENDZALIMI orang. SOK, karena dia seakan-akan ingin memperlihatkan bahwa dia pinter. Bahwa dia memang orangnya unggul dan top, sehingga tidak saja ITB, perguruan tinggi luar negeri pun bisa dia masuki. So what?

MENDZALIMI, karena dengan tetap ngotot ikut SPMB, dan terutama jika diterima, itu berarti dia menghilangkan kesempatan orang lain untuk diterima di kursi tersebut. Terlebih karena SPMB tidak ada model 'cadangan'. Yang namanya dimuat di koran, dialah yg diterima. *well, setidaknya itu sistem yg aku ketahui*

Sempat juga dibahas, bahwa hal ini juga terjadi untuk orang2 pintar yg sudah punya peluang keterima di PTN tapi ybs daftar di banyak PTS.

Kalo menurutku, ini sedikit berbeda. Alasannya ya karena di PTS2 ada sistem cadangan. Jika si anak PTN itu masuk ke PTN yg dia kehendaki, otomatis PTS tersebut akan memanggil para peserta ujian yg terdekat dengan orang2 yg memilih tidak mengambil kuliah di PTS tersebut.

Sekarang sudah hendak musim SPMB, terutama karena masa ujian nasional baru berakhir seminggu lalu. Dan 'gelombang' SPMB (di PTN dan PTS) akan segera datang. Barangkali tulisan ini bisa jadi sebuah renungan dan barangkali bisa berguna buat anda2 yg punya anak atau saudara atau keponakan yg pintar.

Intinya: JANGAN SERAKAH, JANGAN EGOIS DAN JANGAN MENDZALIMI ORANG!

Foto dari sini.

Moral story:
- siswa pintar yg serakah/egois adalah orang2 yg menyebalkan
- jika hendak UMPTN/SPMB, hendaklah memilih jurusan sebaik mungkin agar tidak menyesal