Tadi pagi, aku membuka akun twitter dan plurk-ku. Tidak ada hal yg aneh dengan isi timeline plurkku. Namun, di timeline twitter, aku menemukan hal menarik. Banyak tweet yg berisi (atau mengandung) Mario Teguh atau @MarioTeguhMTGW.

Tertarik dan ingin tahu lebih banyak, aku ikuti satu persatu tweet yg ada di timelineku.

Ternyata, banyak tweeps yg mengkritik (sebagian cenderung mencemooh) beberapa tweet terakhir yang ada di akun Mario Teguh. Isi tweetnya bisa anda baca di bagian atas artikel ini.

Jika aku tidak salah tangkap, para tweep menyesalkan pendapat MT di poin 6. Di sana tertulis:
"Wanita yg pas u/ teman pesta,clubbing,brgadang smp pagi,chitchat yg snob,mrokok,n kadang mabuk-tdk mungkin direncakan jadi istri."

Sejenak aku terhenyak. Mario Teguh, selama ini aku kenal beliau di TV *dan sempat bertemu langsung 1 kali di Grand Indonesia, meski cuma berpapasan*. Dalam setiap acaranya, beliau seringkali melontarkan dan memberikan banyak motivasi *yg sayangnya belum bisa aku lakukan semuanyah,xixixi*. Dan aku suka dengan pernyataan2 beliau, sehingga aku berusaha menyempatkan diri menonton acaranya.

Namun, membaca pernyataan2 yg ada di atas, aku merasa MT 'terperosok' menjadi 'hakim' yg berhak menyalahkan atau membenarkan seseorang. Jika MT adalah seorang biasa, seperti aku, dan pernyataan itu tidak diumbar ke khalayak ramai, barangkali it's ok.

Tapi MT adalah public figure, tokoh masyarakat. Kehadirannya, banyak dan banyak sekali, mempengaruhi banyak hal dan golongan masyarakat. Opini publik akan cepat terbentuk, entah itu pro dan kontra.

Dalam hitungan detik, di benakku sempat terlintas bahwa MT akan menjadi 'Aa Gym' (cepat atau lambat?). Seseorang yg meroket dengan cepatnya, menyala begitu terang...dan lalu akhirnya meredup...dengan cahaya seadanya.

Semoga tidak sampai terjadi.

Namun, sayangnya lagi, MT melakukan tindakan 'fatal'...dengan mengundurkan diri dari dunia tweet dan menghapus(?) akunnya. Lha, kok jadinya seperti "lempar batu sembunyi tangan"?

Satu lagi 'korban' kekritisan masyarakat internet (baca: tweeps, masyarakat twitter).

Moral story:
- berhati-hatilah dalam memberikan pernyataan, terutama di internet
- public figure akan didewakan, setidaknya oleh para pengikutnya
- sekali lagi, jejaring sosialmu = mulutmu = harimaumu
- penjelasan dari MT bisa dibaca di sini