Kali ini aku berkesempatan bercerita tentang masakan Pakistan, yang merupakan salah satu menu makanan yang jarang ditemui atau dicicipi olehku. Penyebabnya, tidak banyak rumah makan Pakistan yang ada di Jakarta. Hmm...setidaknya itu yg aku ketahui.

Karenanya, saat aku menemukan sebuah rumah makan Pakistan di daerah Cipete, kami begitu gembira. Penyebabnya, itu berarti kami bisa mencicipi masakan Pakistan. Lokasinya cukup mudah ditemukan. Anda tinggal menuju Cipete, carilah toko buku MP (Mizan Putra) Books. Tepat di depannya, anda akan temukan rumah makan Tanduri, yang lokasinya berbagi dengan penjual karpet.

Jika dilihat lebih teliti, lokasi rumah makan Pakistan ini tidak terlalu jauh dengan steak Abuba.

Saat anda masuk, anda akan temukan nuansa Pakistan, meski tidak benar2 asli Pakistan. Setidaknya ada 5 meja yang bisa anda pilih, sesuai dengan jumlah orang yang anda ajak makan di sana. Di atas meja juga ada pipa yang biasa digunakan untuk menghisap shisha.

Tidak menunggu lama, usai kami duduk segera mendapat menu yang disodorkan staf rumah makan. Dari sekian banyak menu yang ditawarkan, kami mencoba masakan “Lamb Biryani”, “Chicken Curry”, dan “Cheese Nan”. Untuk minumnya, kami sepakat memesan minuman “Lassi”, namun dengan rasa yang berbeda. Aku memesan “Sweet Lassi “, sementara Wify memesan rasa melon.

Ternyata PORSI YANG DISAJIKAN ADALAH PORSI BESAR! Masing-masing menu, kecuali kare ayam, dihidangkan di piring dengan diameter lebih kurang 30 cm! Bahkan roti “Cheese Nan” pun nampak sedemikian besar, sehingga kami berdua bertanya-tanya apakah kami bisa menghabiskan itu semua? Hahaha...Anda bisa lihat porsi nasi Lamb Biryani pada gambar di atas!

Sementara itu, “Lamb Biryani” sebenarnya sudah kita kenal dengan nama nasi kebuli. Namun, nasi kebuli Pakistan ini sedikit berbeda dengan nasi kebuli Condet (khas Timur Tengah) yang pernah aku santap. Pertama, jenis beras yang dipakai. Bentuknya lebih panjang, lalu rempah2nya tidak terlalu lengket, dan daging kambingnya lebih banyak daging daripada tulang. Perbedaan lainnya, ada beberapa bumbu yg tidak aku kenal, yang rasanya agak pahit. Toh, tetap saja sayang untuk tidak dihabiskan.

Sementara itu, Wify kesulitan menghabiskan “Cheese Nan”. Selain porsinya besar, di bagian bawah rotinya ada beberapa bagian yg hangus. Akibatnya, rotinya terasa pahit (efek dari tempat membakar roti?). Untungnya rasa pedas kari ayam bisa sedikit menghapus rasa pahitnya itu.

Toh, aku yg datang membantu Wify, merasa kewalahan juga menghabiskan roti dan kari ini. Walhasil, dari 4 potong ayam yang disajikan dalam kari, kami berdua hanya sanggup menghabiskan 2 potong. Rotinya pun barangkali hanya bisa kami habiskan ¾ saja. Rasa kenyang sudah kadung memenuhi perut kami. Jika dipaksakan malah tidak baik, karena bisa2 kami malah muntah.

Di bagian akhir, kami menikmati lassi. Bisa dibilang ini adalah yoghurt ala Pakistan. Perbedaannya, rasanya tidak terlalu asam, lalu lebih encer (mirip susu). Lassi ini cukup bermanfaat mengurangi rasa rempah-rempah yang terlalu menusuk dari masakan yg kami 'sikat' tadi.

Untuk harga, bisa dibilang memang lebih mahal dari tempat lain. Namun jika dilihat porsi yang disajikan, aku pikir itu sebanding. Kami sendiri menghabiskan hampir Rp 130 ribu. Tapi kenikmatan dan cita rasa yang kami dapatkan, hmmm...kami pikir sepadan lah.

Masakan yang disantap dan lokasi rumah makan
Menu masakan Pakistan

Moral story:
- masakan Pakistan masih satu rumpun dg masakan India dan masakan Melayu serta masakan Timur Tengah
- untuk nasi kebuli, saya lebih sarankan nasi kebuli khas Pakistan daripada nasi kebuli khas Timur Tengah karena rempah2nya tidak terlalu keras
- daya tarik masakan khas Pakistan ini, menurut kami adalah Lassi-nya.