Semula aku tidak tahu apa itu ear candle hingga Wify, yang sering 'sowan' ke spa dan salon kecantikan, memperkenalkan ear candle ini dan menyuruhku mencobanya.

Apa itu ear candle?

Ear candle, jika diterjemahkan secara harfiah, adalah lilin (untuk) kuping. Jika anda googling, dengan kata kunci ear candle, anda akan menemukan banyak artikel yang menceritakan apa sebenarnya ear candle itu. Walau demikian, aku akan menjelaskan ear candle sesuai dengan versiku sendiri. Ndak ada salahnya toh?

Jadi, ear candle itu adalah metode membersihkan telinga dari kotoran2 di dalamnya, termasuk bakteri dan jamur. Dengan kata lain, tidak sekedar kotoran biasa yang dibersihkan. Apabila selama ini anda hanya menggunakan 'cotton bud', bisa dipastikan hanya kotoran telinga saja yang terambil, itupun mungkin tidak cukup efektif.

Nah, ear candle ini metodenya sedikit 'mengerikan'. Malah bisa dibilang mirip2 dengan debus, wakakak. Hal ini dikarenakan, proses pembersihannya menggunakan api yang dibakar pada sebuah kertas lilin, kemudian kertas lilin tersebut dipasang ('ditanam') di dalam kuping, seperti gambar di atas.

Mengerikan, bukan?!

Namun, aku toh mencoba juga metode ini, meski agak was-was juga. Maklum pengalaman pertama. So, Wify menyimpan kertas lilin di dalam kupingku, memastikan bahwa bagian ujungnya sudah masuk cukup dalam, lalu mulai membakar bagian atas kertas lilinnya.

Perasaan takut yg semula aku rasakan, perlahan-lahan berubah menjadi rasa nyaman, terutama ketika aku merasa di dalam telingaku ada tekanan dari api yg terbakar itu. Bahkan, aku sempat merasa ngantuk, saking uenaknya metode ini, terlebih saat Wify memijat-mijat daerah sekeliling telingaku.

Menurut Wify, pijatan2 itu dimaksudkan agar kotoran2nya lebih mudah dibersihkan. Aku sih iya iya aja deh.

Lebih kurang 10 menit, api sudah berada di tanda tertentu di kertas lilin. Itu artinya kertas lilinnya mesti segera dicabut dari telinga. Wify segera mencabut kertas lilinnya, memadamkan apinya, dan akhirnya menggunting garis pembatas tersebut.

Selanjutnya, jika kita gunting dan 'kupas' kertas lilin tersebut, maka akan tampak kotoran (termasuk bakteri dan jamur) telinga yang berhasil 'ditangkap'. Percaya atau tidak, aku yg seminggu sebelumnya baru membersihkan telinga, ternyata tetap terkejut melihat hasil ear candle ini. Bagaimana tidak? Kotoran yg terkumpul di kertas lilin tersebut cukup banyak!!

So, akhirnya aku meminta Wify untuk menyimpan stok ear candle. Anda berminat menggunakan ear candle? Silakan kontak saya. Harganya tidak terlalu mahal kok, 1 pasang harganya Rp 15 ribu saja (belum termasuk ongkos kirim). Silakan tinggalkan pesan di komentar.

Sejauh ini, aku dapatkan info bahwa metode ear candle ini cukup aman, asalkan tidak berlebihan dan medianya bisa dipertanggungjawabkan.

Foto diperankan oleh model.

Moral story:
- membersihkan telinga dengan cotton bud tidak cukup
- ear candle merupakan alternatif membersihkan telinga
- konon, ear candle sudah digunakan sebagai metode pembersihan sejak jaman dulu kala