1/30/2009

Cukup tegang juga menghadapi 11 menit 40 detik itu, meski aku sudah berusaha se-rileks dan setenang mungkin. Sedikit gugup jelas sekali nampak, meski kegugupan itu adalah refleksi dari luapan perasaan 'excite' yg meluap dari dalam hati. *halah*

Dengan sekuat tenaga dan segala daya upaya, fiuuhh...alhamdulillah, aku berhasil melaluinya.nyengir

Moral story:
- bersikap tenang itu cukup sulit, terutama jika semangat terlalu berkobar
- 11 menit 40 detik ini benar2 menjadi ajang pembuktian diri

Posted on Friday, January 30, 2009 by M Fahmi Aulia

4 comments

Banyak orang tidak atau belum pernah mencoba makan daging bebek. Banyak alasan yang mereka kemukakan, dari bau amis (anyir) daging bebek, hingga daging bebek itu sendiri yang cukup alot dan sulit untuk dikunyah.

Nah, kedua asumsi itu tidak berlaku untuk bebek goreng pak Djoko. Di warung bebek goreng pak Djoko, kita akan dapati daging bebek yang enak, renyah, tidak berbau amis serta mudah untuk dikonsumsi.

Lokasi warung bebek goreng pak Djoko ini terletak di daerah Petogogan. Untuk mencapai lokasi ini, banyak sekali cara, namun berdasarkan pengalaman kami, tempat ini paling gampang dicari melalui jalan Barito. Dari jalan Barito, anda akan temukan sebuah bundaran, anda ikuti arah ke pasar Blok A. Lalu belok kiri pada belokan pertama, maka anda akan langsung tiba di jalan Petogogan.

Jika anda tersesat mencari jalan ini, tidak perlu khawatir. Banyak tukang ojek dan penjual minuman di sisi jalan yang akan dengan senang hati membantu anda menemukan jalan Petogogan.

Ok, katakanlah anda sudah tiba di jalan Petogogan. Yang anda lakukan sekarang adalah menelusuri jalan Petogogan hingga hampir ujung jalan. Anda akan temukan sebuah papan nama bertuliskan RM Djoko Poetro. Jika anda datang di pagi atau siang hari, anda tidak akan menemukan warung apapun di situ, karena warung bebek pak Djoko ini baru buka jam 17.30 WIB.

Jika anda datang sekitar jam 17.30 WIB, maka dengan mudah anda akan menemukan warung ini, karena adanya spanduk yang terpasang di depan warung.

Saat anda masuk, anda akan melihat stand berjualan yang, menurut kami, cukup bersih. Tidak saja bersih, bahkan kadang stand ini penuh sesak dengan orang yang memesan dan orang yang sedang melayani pesanan.

Tempat makannya sendiri juga bersih, sehingga kita akan bisa menikmati makanan dengan nyaman. Bahkan aku perhatikan, TIDAK ADA LALAT yang beterbangan! Wah, patut ditiru cara pengelolaan kebersihannya.

Pelayanannya pun sangat ok! Tidak sampai 5 menit kami duduk, 2 porsi nasi uduk sudah hadir di meja. DIikuti dengan pesanan minuman kami, berupa jeruk hangat dan teh botol. Dan tidak sampai 10 menit kemudian, datanglah pesanan (pertama) kami, yakni 1 bebek goreng (bagian dada), 1 ati ampela goreng, dan 1 mangkuk sayur asem.

Tanpa dikomando, kami mulai mencicipi masakan-masakan tersebut. Sayur asemnya enak, meski aku dan Wify sedikit berbeda pendapat mengenai tingkat enaknya sayur asam ini. Menurut aku, sayur asamnya sudah cukup mencukupi, karena rasa asam dan pedasnya cukup menyegarkan. Sementara Wify berpendapat bahwa pedasnya kurang. Ok, ok…ini masalah selera, tidak perlu diperdebatkan.

Untuk bebek gorengnya, terus terang kami kecewa berat. Memilih bagian dada TIDAK DIREKOMENDASIKAN, karena dagingnya sangat sedikit! Walhasil kami memesan lagi bebek goreng bagian paha bawah. Dan hhmmm…yummy dan mantap sekali deh! Penuh dengan daging, serta enak untuk dikonsumsi! Ati ampelanya sendiri biasa saja, menurut kami.

Dari sisi daging bebek, memang enak. Hanya saja, sayangnya, bumbunya kurang menyerap. Bahkan sambal yang mestinya menjadi penambah cita rasa, bagi kami berdua kurang ‘nendang’ (atau istilah di tivi, kurang “mak nyus”).

Lokasinya cocok untuk makan2, entah ada yang nraktir ulang tahun atau sekedar mampir. Kami perhatikan, tempat ini tidak saja dikunjungi oleh sekelompok orang (nampaknya mereka berteman akrab), tapi kami lihat juga ada beberapa keluarga (juga membawa anak mereka) untuk bersantap di warung pak Djoko ini.

Tingkat keramaian, hmmm..bisa dikatakan relatif. Namun, jika melihat jumlah kursi serta waktu kunjungan, kami melihat bahwa warung ini akan kian penuh menjelang jam makan malam. Kami datang sekitar jam dan baru meninggalkan lokasi sekitar jam 18.30. Saat kami datang, warung sudah cukup banyak dipenuhi, sekitar 70% bangku sudah terisi. Dan saat pulang, kondisinya lebih penuh. Perkiraan kami sekitar 80-85% bangku sudah terisi.

Masalah harga, hmmm…aku melihatnya setara dengan bebek goreng di tempat lain, yang rata-rata sekitar Rp 10 ribu – Rp 15 ribu/porsi. Di pak Djoko, 1 porsi bebek goreng dijual dengan harga Rp 12 ribu. Sementara ati ampela goreng Rp 3000, demikian juga dengan sayur asem yang dihargai Rp 3000.

Moral story:
- bebek goreng itu enak
- warung bebek goreng punya jadwal yg beda2, harap perhatikan itu!

Posted on Friday, January 30, 2009 by M Fahmi Aulia

No comments

Buset dah, kampanye belum mulai, sudah mulai perang iklan antara Megawati (PDI-P) vs SBY (PD = Partai Demokrat). Kacoooo....!!ayolaahh...geleng2...malu2in ah...

Trims buat Naif!
*Click untuk memperbesar*




Moral story:
- pemimpin Indonesia (saat ini) ga ada yg layak dipilih!

Posted on Friday, January 30, 2009 by M Fahmi Aulia

No comments

1/28/2009

Banyak warung yang menjual masakan Sunda, terlebih di Jakarta jumlah penduduk (keturunan) Sunda cukup banyak. Namun, warung bu Elly ini bisa dibilang cukup berbeda dengan warung (masakan) Sunda kebanyakan. Perbedaannya terutama di harga dan menu yang ditampilkan. Selain itu lokasi yang (cukup) strategis dan tempat makan yang cukup lapang (dan bersih) membuat kita akan merasa nyaman makan di sana.

Warung Sunda bu Elly ini sangat mudah ditemukan. Lokasinya berada di jl dr Satrio, tidak jauh dari jalan utama, jl Jend Sudirman. Jika anda datang dari arah Thamrin, maka anda mesti belok ke kiri setelah anda melalui gedung WTC I (Wisma Metropolitan). Tidak jauh dari situ, sekitar 50 meter, anda akan temukan papan nama notaris. Itu artinya anda mesti segera menepi ke sebelah kiri, karena warung bu Elly letaknya tepat setelah papan nama itu.

Seperti yang anda lihat, warungnya cukup bersih. Dengan lokasi di sekitar gedung perkantoran, maka warung bu Elly ini lebih cocok dikunjungi oleh para pekerja, meski bisa juga dijadikan tempat kongkow dengan teman ataupun menjadi tujuan tempat makan sekeluarga.

Di situ, anda akan mendapati pelayanan prasmanan, alias anda sendiri yang mengambil mulai dari nasi, lauk pauk, sayur mayur, hingga sambal.

Uniknya lagi, nasi yang dijual dibungkus dengan daun pisang, sehingga aroma daunnya sangat terasa terutama saat kita hendak memulai makan. Dalam kesempatan itu, aku mengambil perkedel jagung dan ikan mas. Sementara menu Wify lebih beragam, yakni pepes ikan mas, perkedel jagung, dan tempe.

Mengenai harga, tidak masalah. Harganya sangat terjangkau. Tentunya makin beraneka ragam jenis lauk pauk dan sayur mayur yang anda ambil, maka akan semakin mahal pula yang mesti anda bayar. Untuk tingkatan normal, aku melihat kisaran harga yang mesti dibayar sekitar 10 ribu – 20 ribu per orang.

Sambal yang tersedia ada 2 macam, pertama sambal tomat dan yang kedua sambal terasi. Untuk sambal tomatnya, rasanya biasa saja. Setidaknya bagi kami berdua, tidak terasa pedasnya. Sementara sambal terasinya cukup ok. Selain karena wangi terasi yang begitu sedap, juga sambalnya cukup ‘nendang’. Jadi, hati-hati jika hendak mengambil sambal terasi ya?

Tempat parkirnya tidak terlalu luas. Jadi prinsip siapa cepat dia dapat memang benar-benar berlaku di situ.

Kebersihan warung bisa dipertanggungjawabkan, setidaknya di hari Sabtu itu kami berdua tidak temukan lalat bersliweran di situ.

Jam buka warung bu Elly adalah dari jam 11 siang hingga 9 malam.

Untuk penilaian makanannya, aku dan Wify memberi nilai 7 karena rasanya yang cenderung hambar. Hal yang aneh, terutama karena warung Sunda biasanya sangat dominan rasa asin. Rasa sambal terasi yang membuat warung bu Elly terasa lebih special.

Moral story: menilai masakan warung Sunda harus fokus pada sambelnya.

Posted on Wednesday, January 28, 2009 by M Fahmi Aulia

2 comments

1/27/2009

Zona nyaman, atau bahasa Inggrisnya, comfort zone seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, orang mencari kenyamanan sehingga mereka tidak perlu lagi bersusah payah (lagi) untuk mencapai tujuan mereka. Sementara itu, di sisi lain, kenyamanan akan membuat orang terlena dan bagi sebagian orang akan menumpulkan (sebagian atau malah semua) daya nalar mereka.

Aku sendiri kadang merasa nyaman dengan zona ini. Tapi hal lain dari zona nyaman yg sering membuatku kesal adalah masalah RUTINITAS. Adalah hal yg membosankan (buatku) mengerjakan hal yg sama terus menerus dan berulang-ulang, meski di tempat (client) yg berbeda. Sebenarnya kebosanan ini bisa diatasi, dengan membuat variasi dari kerutinan tersebut. Toh, kadang variasi tidak banyak menolong, terutama jika aku memang sedang ga oke emosinya. Tak jarang beberapa clientku menjadi korban sifat ketus dan kejengkelanku.

Bagaimana pengalaman anda sendiri dengan zona nyaman?

Moral story: berhati-hatilah dengan zona nyaman!

Posted on Tuesday, January 27, 2009 by M Fahmi Aulia

No comments

1/26/2009

Hari Minggu lalu, aku (dan Wify) menjadi saksi sebuah kecelakaan yang cukup mengerikan.

Jadi begini ceritanya...

Sekitar jam 11 siang, aku dan Wify keluar rumah dengan tujuan hendak melakukan wisata kuliner,sebagai upaya memenuhi quota untuk minggu ini, ehheheh. Tujuan wisata kuliner kali ini adalah daerah Tomang dan Jakarta Utara. Namun, sebelumnya kami hendak singgah dulu ke mall di daerah Kuningan, karena ada beberapa keperluan yang hendak kami lakukan di situ.

Cuaca Jakarta cukup cerah ketika kami berangkat. Dan sepanjang perjalanan, kami tidak terlalu banyak bicara, meski beberapa kali cekikikan dan ngakak karena bahasan yang kami lontarkan cukup lucu. Satu perempatan (dan itu berarti 1 lampu merah) telah kami lewati dengan aman sejahtera.

Saat menuju lampu merah kedua, kami dilewati sebuah sepeda motor jenis vespa yang melaju cukup kencang dari arah belakang. Namun karena lampu merah sudah menyala, otomatis kami dan dia mesti berhenti di perempatan.

Begitu lampu berubah menjadi hijau, dengan serentak semua kendaraan, terutama sepeda motor, langsung meraung-raung hendak maju. Termasuk kami berdua, yang maju tapi dengan kecepatan yang cukup rendah. Sudah beberapa waktu terakhir ini, aku membiasakan untuk lebih 'cool' untuk berkendara di jalan. Terutama jika jalanan kosong. Ga perlu geber2an banget lah...toh jalanan kosong, kita akan lalui juga.

Nah, si vespa belakang rupanya masih pengen nggeber motornya. Dia langsung melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan kami dengan jarak yang lumayan lah. Baru sekitar 10-20 meter berjalan, dari kejauhan sebenarnya sudah terlihat ada 2 orang laki-laki yang hendak menyebrang jalan dari sisi kiriku ke sisi kanan.

Dan aku yakin bahwa si pengendara vespa pun melihat mereka berdua, yang sedang berhenti di tengah jalan, menunggu 'kepastian' apakah mereka akan diberi jalan oleh si pengendara vespa sehingga mereka menyebrang ke posisi di depannya. Ataukah mereka akan langsung maju begitu saja, tidak peduli dengan kendaraan2 yg lewat?

Rupanya kedua orang ini emang agak aneh dan bingung. Mereka berdua sebenarnya sudah 1/2 jalan, alias sudah tepat di tengah jalan. Mereka sempat maju sekitar 1-2 langkah, sebelum akhirnya mereka berhenti karena mereka berdua melihat si vespa ini melaju dg kencang. Jelas, mereka takut ditabrak dong!

Alih-alih hanya diam, mereka berdua malah mundur 1-2 langkah, kembali ke posisi semula, di tengah jalan.

Aku yg melihat keadaan seperti itu langsung berpikir, bahwa kejadian buruk akan terjadi.

Dan benar saja...

Diiringi suara rem yg singkat, aku melihat si vespa menabrak kedua penyebrang jalan ini! Dan yg membuat kengerian bertambah, adalah salah seorang dari pejalan kaki ini terpelanting ke udara dan kemudian mendarat kembali ke tanah dengan suara bergedebuk!

DEG...!! DADAKU SERASA BERHENTI!
YA ALLOH YA RABBI....!!


Sekitar 5 detik, barulah aku sampai di TKP. Kedua penyebrang jalan ini sempat berdiri lalu berjalan ke pinggir jalan. Di tengah jalan, aku perhatikan kondisi vespa sudah amburadul, banyak pecahan kaca berserakan. Aku segera menepi, berusaha menolong salah seorang dari korban, yang aku tadi lihat terpelanting seperti sebuah pin terkena bola bowling. Aku menuju dia, karena aku pikir orang ini yang paling parah kondisinya.

Dan benar saja, aku melihat kondisi si A, katakanlah begitu, memang cukup parah. Aku melihat banyak darah segar mengalir terutama dari kedua tangannya. Aku segera mencek kondisinya dia, terutama meluruskan kedua kakinya yg sempat menekuk.

Sementara temannya hanya bisa terduduk di sebelah kananku, sekitar 5 meter. Dia hanya bisa menatap temannya ini.

Pengendara Vespa sendiri, aku lihat, bangun dan juga menuju pinggir. Dia berjalan ke pinggir seraya berteriak (lebih kurang),"Ya Tuhan....Mas...Kalian berdua itu gimana sih nyebrangnya...bla bla bla."ngemeng ga jelas Wah, aku sempat jengkel juga. Ok, katakanlah kedua orang pejalan kaki ini salah, tapi sudahlah, ga usah pake ngomel2 kaya gitu.

Ucapan lainnya tidak aku perhatikan karena aku lebih fokus kepada si A. Usai aku lihat matanya, hmmm...nampaknya dia sudah relatif sadar dengan keadaan yang baru dia alami. Lalu aku perhatikan sudah banyak orang yg datang dan membantu. So, aku segera pergi setelah aku yakin bahwa si A ini baik-baik saja.

Fiuuhhh...benar2 sebuah peristiwa 'horor' alias sangat mengerikan! Terutama melihat orang terpelanting dan jatuh ke tanah.

Well, hal ini membuat diriku menjadi lebih berhati-hati dalam berkendara, terutama saat berada di jalan yg sepi. Siapa bilang di jalan yang sepi, maut/bahaya tidak ada atau tidak mengancam? Justru potensi bahayanya bisa jadi lebih besar karena semua orang akan cenderung lengah dan tidak bersikap waspada!coolhappy

Moral story:
- hati-hati berkendara di jalan raya
- walau jalanan sepi, jangan ngebut terlalu berlebihan
- jika ada kecelakaan, terutama di depan mata, berikan pertolongan sebisanya

Posted on Monday, January 26, 2009 by M Fahmi Aulia

2 comments

1/25/2009

*dapat dari teman*


"Selamat Tahun Baru" dalam bahasa Tionghoa diungkapkan dengan ucapan "Xin Nian Kuai Le" atau "Gong Xi Fa Cai".
 
 
Xin Nian Kuai Le 新 年 快 樂.
Xin Nian berarti Tahun Baru. Xin berarti baru dan Nian berarti tahun.
Kuai Le berarti kebahagiaan, suka cita, kesukaan, menyenangkan, atau perasaan gembira.

Jadi, "Happy New Year" dalam bahasa Inggris menjadi "New Year Happy" dalam bahasa Tionghoa : Xin Nian Kuai Le.
Xin Nian Kuai Le ini adalah ungkapan yang asli dalam mengucapkan Selamat Tahun Baru Tionghoa.

Ungkapan yang lebih umum bagi orang-orang bisnis (pedagang) untuk saling memberi ucapan pada awal tahun baru Tionghoa adalah : Gong Xi Fa Cai.
 
 
Gong Xi Fa Cai 恭 喜 发 财
Ungkapan yang paling umum dalam mengucapkan Selamat Tahun Baru adalah Gong Xi Fa Cai (Mandarin) dan Gong Hey Fat Choy (Cantonese). Meskipun pengucapannya sedikit berbeda, ke duanya ditulis/digambar dengan cara (kanji) yang sama.
 
Gong Xi berarti ucapan selamat atau mengharapkan dengan rasa hormat untuk kesukaan (suka cita) seseorang.
Fa Cai adalah menjadi kaya atau menghasilkan uang.
 
Dengan demikian, Gong Xi Fa Cai bermakna mengharapkan anda menjadi makmur di tahun mendatang.
 
Ungkapan jenaka (lucu) dalam menjawab orang yang memberi ucapan Gong Xi Fa Cai adalah Hong Bao Na Lai.
 
 
Hong Bao Na Lai
Ketika orang memberi ucapan kepada anda dengan Gong Xi Fa Cai pada Tahun Baru Tionghoa, jawaban singkat adalah dengan ungkapan yang sama, yaitu "semoga anda memperoleh tahun yang membawa kemakmuran juga".
 
Atau, jika untuk teman dekat, orang sering berkata "Hong Bao Na Lai", artinya "saya mohon amplop merahnya".
 
Hong Bao berarti amplop merah. Merah merupakan warna keberuntungan di Tiongkok. Ketika Tahun Baru Tionghoa, orang tua-orang tua Tionghoa memberikan hadiah uang tunai kepada anak-anaknya. Jadi, Hong Bao adalah uang keberuntungan atau hadiah uang tunai. Hal itu dapat pula digunakan untuk memaknai uang suap.
 
Na Lai berarti "Bawa kepada saya".
 
Berikut ini contoh percakapan berkenaan dengan Tahun Baru Tionghoa :
A mengucapkan : Gong Xi Fa Cai. Semoga anda menjadi kaya.
B menjawab : Hong Bao Na Lai. Mohon amplop merahnya. Supaya saya mulai menjadi kaya dengan memperoleh uang dari anda.
 
 
 

Posted on Sunday, January 25, 2009 by M Fahmi Aulia

2 comments

1/23/2009

Sekarang mari kita meng-ghibah Wify, hihihi. Sejak akhir 2008 lalu, Wify sudah 'teracuni' oleh yang namanya Twilight dan Facebook. Awal keracunan Twilight, gara2 aku beli bukunya. Berhubung akhir 2008 kemarin lumayan sibuk, sampe2 buku ini terlupakan. Eh, malah dibaca Wify...bahkan sampe ybs kecanduan. Terlebih lagi saat filmnya diluncurkan...!! Hwadohhh...ampun dah, sampe rela2nya beli dvd bajakan, padahal biasanya Wify ga suka dvd bajakan. Namun berhubung saat itu sedang ga sempat keluyuran ke bioskop, akhirnya dvd bajakan pun disantapnya.

Aku sendiri sampai sekarang ga sempat baca buku Twilight. Simple saja alasannya, bukunya hilang gara2 ketinggalan di kereta saat kami pulang ke Bandung, wakkaka. Berhubung bukunya ga sempet dikasih nama, jadinya ya sudahlah...good bye. Wify sendiri ngotot pengen beli lagi buku itu. Cuman Wify akhirnya rada2 kecewa gara2 cover buku yg dijual ga sama dg cover buku yg hilang. Terlebih di buku yg hilang itu ada adegan2 film.

Tapi, dasar sudah kecanduan, akhirnya buku Twilight dg cover yg 'jelek' pun dibeli juga. Dan sekarang, nyaris tiada hari tanpa buku Twilight dan konco2nya, Eclipse, bla bla bla.ngakak

Yaaa aku sendiri sih senang2 & asyik2 saja dg kecanduan Wify ini.

Kecanduan yg kedua adalah facebook. Sebenarnya ga terlalu kecanduan sih, tapi yaaa begitulah. Semula Wify ga terlalu berminat dengan facebook, terutama karena merasa facebook ~ friendster. Tapi toh, akhirnya ybs menyerah juga setelah sekian banyak temannya nanya2 facebooknya. Setelah membuat facebook, Wify mulai me-narsis-kan diri, dengan mengupload buanyak foto kami. Errrr...ga sebanyak2 orang2 narsis di friendster, tapi ya...tetep aja, aku menganggap banyak foto yg diupload menunjukkan tingkat kenarsisan si pemilik, wakakak...ngakak

Hingga pertengahan Januari kemarin, nampaknya tidak ada hari tanpa (topik) facebook buat Wify. Aku sendiri hanya senyum2 saja setiap Wify cerita ttg facebook (dan teman2nya yg ikut di situ). Dan sejak awal minggu ini, nampaknya Wify mulai bosan dg facebook. Entah kenapa, tapi yaaa...lumayan, topik ttg facebook sudah mulai berkurang jika kami ngobrol, hihihi. Hanya topik ttg Twilight yg masih ga bosan2nya dibahas, hahaha.

So, istri anda kecanduan apa nih?

Moral story: kecanduan bisa melanda siapa saja.

Posted on Friday, January 23, 2009 by M Fahmi Aulia

2 comments

1/21/2009

Kwetiaw sebenarnya bukan menu makanan yang aneh, terutama bagi warga Jakarta. Banyak sekali tempat makan yang berjualan kwetiaw. Namun, tidak ada salahnya mencoba kwetiaw Jangkung.

Lokasinya di daerah Tanjung Duren, yappp…berdekatan dengan Strawberry Café yang sempat aku bahas beberapa waktu lalu. Untuk mencapai Kwetiaw Jangkung ini tidaklah sulit. Dari Strawberry Café, anda tinggal ikuti jalan menujun Greenvil. Susuri jalan hingga anda menemukan BCA di sebelah kiri anda.

Begitu anda menemukan BCA di sebelah kiri anda, maka anda akan lebih mudah mencapai kwetiaw Jangkung ini. Lokasinya di seberang jalan, di sebelah kanan. Jadi, ada sebuah komplek ruko, nah, dari BCA anda bisa langsung potong jalan, masuk ke komplek ruko itu. Susuri saja komplek itu, anda akan temukan rumah makan kwetiaw Jangkung ini.

Di situ tidak hanya menjual kwetiaw, tapi juga ada baso gepeng. Maka aku memesan kwetiaw sementara Wify memesan baso gepeng.

Tidak perlu menunggu terlalu lama, sekitar 10-15 menit, datanglah 2 hidangan pesanan kami, 1 pori kwetiaw goreng dan 1 porsi baso gepeng. Cukup menggugah selera kwetiawnya, dan memang saat aku coba, kwetiaw Jangkung ini sedikit berbeda dengan kwetiaw biasanya. Nampaknya ada daging kikil (atau juga disebut daging tunjang jika kita pesan di rumah makan padang) yg membuat rasanya menjadi lebih unik. aku beri nilai 7 untuk rasa kwetiaw ini.

Baso gepengnya juga enak. Bahkan menurut Wify, kuah basonya sangat khas dan enak. aku sendiri mencoba 3 potong baso gepengnya, dan memang enak. Nilai 7,5 untuk baso gepeng ini.

Lokasinya sangat mudah dicapai, dan nampaknya sangat ramai jika di hari-hari biasa, terutama karena rumah makan ini berlokasi di daerah perkantoran (banyak ruko yang biasa digunakan untuk perkantoran). Menurut aku tidak cocok untuk nongkrong, apalagi untuk keluarga.

Total kami habiskan uang Rp 44 ribu untuk 1 porsi kwetiaw (Rp 17 ribu/porsi), 1 porsi baso gepeng (Rp 17 ribu/porsi, ada 10 potong), 1 teh botol Rp 3000, dan 1 gelas es jeruk seharga Rp 7000.

Karena rumah makannya cukup bersih, aku rekomendasikan rumah makan ini cukup berharga untuk dikunjungi. Masalah selera, memang, tergantung masing-masing orang.

Posted on Wednesday, January 21, 2009 by M Fahmi Aulia

2 comments

1/19/2009

Strawberry. Siapa yang tidak kenal dengan buah ini? Buah berwarna merah dengan berbagai ukuran, dari mulai sebesar 1 ruas jempol orang dewasa hingga yang sebesar jempol orang dewasa ini bisa membuat orang ketagihan memakannya. Jika dimakan rasanya beraneka, dari mulai manis, asam manis, bahkan asam.

Nah, bagaimana jika buah strawberry ini dikombinasikan dalam masakan seperti spaghetti atau nasi goreng?

Ada sebuah rumah makan, beberapa orang menyebutnya café, yang dengan uniknya menyediakan berbagai makanan yang dicampur dengan strawberry. Mereka menamakan cafe ini Strawberry Café, yang letaknya di sekitar Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Untuk mencapainya tidak sulit. Anda mesti temukan dahulu Mal Taman Anggrek. Dari sana anda bisa lanjutkan perjalanan hingga anda melihat Ukrida. Nah, sebelum Ukrida, ada belokan ke kiri, yang akan membawa anda masuk ke daerah Tanjung Duren. Dari situ, anda tinggal ikuti jalan Tanjung Duren, lalu di belokan kedua atau ketiga di sebelah kanan, anda belok ke kanan. Ikuti jalan hingga anda temukan jembatan, ikuti terus, lalu belok kanan. Nah, anda akan temukan sebuah komplek (?) pertokoan dan voila...papan Strawberry café sudah terlihat di depan mata.

Café Strawberry ini dari luar sudah memperlihatkan ke-Strawberry-annya, dengan banyaknya aksesoris Strawberry bertebaran di setiap café. Bahkan ornamen di dindingnya pun dipasang tumbuhan Strawberry. Lucunya ada ‘seekor’ monyet yang bergelantungan di situ.

Suasananya cukup nyaman, cocok dijadikan tempat nongkrong, tidak saja dengan teman, tapi juga dengan keluarga. Terlebih lagi ada beberapa permainan yang bisa kita mainkan, setelah mengajukan pinjaman ke staf café Strawberry ini tentunya.

Saat kami berkunjung, di café ini sedang ada 2 grup besar yang sedang asyik berkumpul. Salah satunya sedang merayakan ulang tahun. Riuh sekali suasananya. Sementara banyak kursi yang masih kosong. Agak mengherankan juga, soalnya kami datang di hari Minggu, mestinya tempat seperti ini ramai.

Oya, daftar menunya juga berbentuk buah Strawberry, sangat unik. Jumlah menu yang ditawarkan cukup banyak. aku tidak hitung secara rinci, tapi lebih kurang 100 jenis makanan tertulis pada menu. Sayangnya, dari sekian banyak jenis makanan, hanya 10 jenis makanan yang tersedia dan bisa dipesan. Dengan kata lain, yaa…bisa dibilang menyedihkan. dzigh

Akhirnya aku memesan spaghetti Strawberry, sementara Wify memesan Strawberry in Paradise fried rice. Alasannya sederhana saja, kedua menu ini yang Strawberrynya lebih dominan, dan TERSEDIA SEHINGGA BISA DIPESAN, hehe.

Sementara untuk minuman, aku memilih Sleeping Beauty (gelas sebelah kiri) sementara Wify memesan Je t’aime (gelas sebelah kanan). Sleeping beauty ini sebenarnya milk shake Strawberry. Sementara minuman Je t’aime berupa stoberi segar yang dicampur dengan anggur.

Secara keseluruhan, untuk spaghetti agak mengecewakan, karena porsinya yang terlalu sedikit untuk harga yang relatif mahal. aku beri nilai 6 untuk spaghettinya. Sementara itu untuk nasi gorengnya cukup enak, walau mesti menunggu cukup lama, lebih dari 30 menit! Nasi gorengnya aku beri nilai yang lebih baik 7, hehehe…

Total harga untuk 2 porsi, kami habis sekitar 70 ribu sekian. Yaaa…bisa dikatakan memang rata-rata segitu untuk harga makanan yang boleh dibilang unik.

Tempat parkir yang tersedia cukup luas, jadi tidak perlu khawatir. Hanya saja untuk sepeda motor, tarif parkirnya lebih mahal dari biasanya yakni Rp 2000, meski memang cenderung tidak ada batas waktu selain memang dikelola perorangan.

Jam buka tidak sempat kami tanyakan, namun jika menilik suasana sekitar café ini serta jam buka rata-rata café pada umumnya, biasanya buka dari jam 9 pagi hingga 9 malam.

Posted on Monday, January 19, 2009 by M Fahmi Aulia

3 comments