Siang ini, bertepatan dg hari Natal, aku dan Wify (beserta jabang bayi) 'iseng' melakukan wiskul di Kemiri, Pejaten Village. Jika tidak salah, tempat makan ini baru buka di awal minggu ketiga Desember 2009 ini. So, kami berniat untuk mengetahui, mengeksplorasi, dan mencicipi makanan2 yg dijual di situ. Selain itu, kami berniat menonton di Pejaten Village, so sekali tepuk 2 nyamuk kena!

Dari luar, sudah nampak bahwa Kemiri ini mempunyai tempat yg cukup luas. So, tidak salah jika kami punya ekspektasi yg cukup tinggi terhadap tempat makan baru ini.

Di pintu masuk, kami langsung disodori 2 kartu bernomor 77. Kartu ini menunjukkan no meja yang bisa kami tempati.

Usai mendapatkan kartu ini, kami berdua mulai menjelajah Kemiri.

Hasil pengamatan kami, Kemiri dibuat dengan suasana seperti di pedesaan (kawasan Jawa Tengah aku pikir, karena lagu2 yg diputar berkisar Bengawan Solo, dst dst). Cukup banyak jenis makanan yg tersedia, mulai dari jajanan pasar, semodel gorengan, bandrek, hingga steak juga tersedia di sini.

Hanya saja, dari pengamatan sekilas yg kami lakukan, terus terang kami berdua cukup dikejutkan dengan harga yg tertera untuk masing2 menu yang dijual. Bisa dibilang cukup mahal, bahkan mungkin tidak masuk akal!

Bagaimana mungkin harga gado2 yg biasa kami beli seharga 6ribu-8ribu dijual hingga 24 ribu! Belum lagi gorengan seharga 24 rebu (walau jumlahnya banyak, tapi tetep ndak masuk akal!)! Bahkan ketika Wify akhirnya memutuskan untuk memesan makanan ala Sunda, kami juga masih terbengong-bengong dengan harganya!

Aku sendiri akhirnya memesan ikan kerapu, dengan harga yg cukup jauh (baca: mahal) jika dibandingkan rumah makan (khusus seafood) Jimbaran atau bahkan Wiro Sableng. Harga kerapu, per ons, biasanya tidak lebih dari 8rebu, sementara di Kemiri mencapai 18rebu! Padahal dari sisi rasa, usai aku cicipi, biasa saja bahkan bisa dibilang cenderung HAMBAR!

Kami berdua akhirnya berpikir utk tidak jadi (seperti) orang susah, yg terlalu pusing dengan harga! Segera kami beli dan makan saja menu2 yg kami pesan ini.

Toh, kami catat bahwa harga makanan2 di sini TIDAK BERSAHABAT! Kami bahkan memperhatikan sedikitnya 3 keluarga yg batal makan di situ, karena kebetulan di dekat meja kami, kami perhatikan, ada 3 keluarga yg hanya mampir sebentar (dan setelah mereka mencek menu, dan harga tentunya, mereka batal makan di situ) sebelum akhirnya mereka pergi.

Hasil makan2 kami ini membuat kami mesti merogoh 2 lembar uang kertas I Gusti Ngurah Rai. Meski ada diskon 30%, kami tetap berpendapat bahwa harga dan rasa yg ditawarkan Kemiri ini tidak memadai!

Nampaknya ini akan menjadi kunjungan pertama dan terakhir ke situ!

Foto2 lain bisa dilihat di sini.

Moral story:
- menurut kami, Kemiri memasang harga terlalu tinggi utk masakan yg mereka jual
- tempat mewah belum tentu makanannya enak
- berdasar pengalaman, tempat makan yg biasa2 saja malah lebih menjanjikan