Mau curhat (ga mungkin) dikit plus bagi2 pengalaman tentunya.

Jadi, setelah penantian selama 3 tahun, alhamdulillah aku dan Wify (insya ALLOH) akan diberi kepercayaan (amanah) baru, yakni dengan dititipkannya seorang calon khalifah baru di muka bumi ini. Sekarang sudah menginjak bulan ke-3, lebih kurang 13 minggu dan pemeriksaan terakhir dilakukan Wify hari Senin 7 Desember 2009 lalu.

Aku hendak bercerita dari sisiku saja, karena Wify sudah bercerita cukup banyak tentang ikhtiar kami dari sudut pandangnya dia. (silakan baca di sini) Dengan demikian, yaaa harap maklum kalo ceritanya beda, tapi toh intinya sama.

Selama 1 tahun pertama pernikahan, terus terang kami tidak terlalu memikirkan akan cepat mendapat keturunan. BUKAN berarti kami SENGAJA untuk MENUNDA, tapi entah bagaimana kondisi kami memang tidak memungkinkan untuk segera mempunyai momongan. Jika memang hendak dicari kambing hitamnya, maka sama2 sibuk adalah alasan yg tepat.

Semula aku menganggap kesibukan kami sebagai suami istri sebagai hal yg wajar, sehingga saat Wify ingin kami segera mempunyai keturunan, aku menganggapnya sebagai hal yg agak berlebihan. Lha wong sama2 sibuk, jelas bakal cape 22nya dong!

Menginjak tahun kedua, barulah aku juga mulai berpikir mengenai keturunan. Mulailah kami berdua mencari informasi dan mulai berobat (jika dibutuhkan). Kami berdua akhirnya memeriksakan diri ke sebuah lab medis.

Kemudian Wify mencek ke sebuah rumah sakit di Bandung. Dari sana diperoleh informasi yg cukup mengejutkan, yakni Wify menderita endometriosis di ovarium kanannya. Ukurannya lumayan juga, cukup besar, di angka 3 cm, bahkan lebih. Dibutuhkan biaya operasi yg cukup besar, lebih dari Rp 15 juta untuk operasi. Wify sendiri tidak mau, ngeri dengan operasi katanya.

Tapi ternyata masih belum ada kemajuan yg berarti juga. Wify akhirnya mengajakku untuk periksa ke sebuah rumah sakit di daerah Menteng. Di sana Wify diperiksa dan ternyata divonis menderita penyakit 'super sehat'. Lha? Super sehat kok dibilang penyakit?

Jadi begini, kondisi Wify yg selama ini sehat ternyata karena dia punya antibodi yg tinggi. Bagi banyak orang, punya antibodi tinggi memang bagus, tapi untuk Wify justru kurang menguntungkan, karena ternyata antibodi yg tinggi ini justru MEMBUNUH SEMUA BENDA DARI LUAR, termasuk sperma.

Walhasil, kondisinya ini benar2 tidak menguntungkan. Bagaimana sperma bisa membuahi telor, jika di dalam perjalanan dia sudah dihadang oleh serbuan (mematikan) pasukan darah putih dan antibodi?

Dokter Indra menyarankan Wify menjalani pengobatan ASA. Yakni aku diambil darahnya, lalu darah putihnya disuntikkan ke Wify. Tujuannya agar antibodi Wify 'kenal' dg darahku, sehingga spermaku nanti tidak dibunuh jika hendak melakukan pembuahan. Sementara itu aku diberi obat-obatan untuk merangsang jumlah sperma dan kegesitannya.

Lumayan juga pengobatan yg dijalani Wify ini. Tidak hanya biaya, tapi juga jarak yg mesti kami tempuh. Kami memutuskan berobat ke daerah Pondok Kelapa (nyaris dekat Bekasi) karena di sana tarif pengobatannya relatif murah jika dibandingkan dengan klinik2 lain yg ada di Jakarta. Memang, ada pengorbanan waktu dan jarak yg mesti kami lalui. Tidak apa2, toh sekalian wisata kuliner juga toh? Hehehe...

Setelah olahraga dan pemberian obat, aku cek sperma lagi dan alhamdulillah kian membaik kondisi dan jumlahnya sperma yang berkualitas.

Sementara itu, pengobatan lain dijalani kami, terutama Wify. Dia banyak minum suplemen2. Dari berbagai MLM yg menawarkan produk kesehatan, cukup banyak yg dikonsumsi Wify. Dan masih belum nampak hasilnya.

Bersambung saja yak? Cape ngetiknya, hehehe...

catatan: foto bayi di atas bukan bayi kami,dicomot dari http://mediague.files.wordpress.com/

Moral story:
- sebelum menikah, memang tidak ada salahnya memeriksakan kesehatan calon suami istri
- antibodi tinggi tidak selalu menguntungkan
- demi pengobatan, jarak dan biaya kadang tidak menjadi kendala