Sebenarnya hal ini sudah sejak lama hendak aku posting, namun baru kali ini berkesempatan menggoreskan kegalauan dan kemarahanku ini.

Semua ini bermula dari gempa dahsyat yang melanda Padang dan Sumatera Barat beberapa hari lalu. Ribuan orang menjadi korban, langsung tidak langsung. Rumah dan bangunan yang rusak dan hancur, tidak terhitung. Bisa dikatakan kerusakan dahsyat meruyak di tengah kehidupan saudara kita di Sumatera Barat yang semula adem ayem.

Seperti biasa, awak media tidak mau ketinggalan dalam meliput. Diterjunkanlah banyak reporter ke lapangan, meninjau langsung lokasi dan kondisi korban, terutama yang bisa selamat dan lolos dari bencana dahsyat ini.

Namun, alih-alih menunjukkan empati dan ikut berduka cita, para reporter ini justru melontarkan banyak pertanyaan TIDAK BERMUTU dan TIDAK MENUNJUKKAN EMPATI MEREKA. Bagaimana tidak? Dalam melakukan tugas, mereka malah:
1. Menunjukkan senyum di wajah. Hei, mbak/mas...anda ini sedang MELIPUT BENCANA, ada kesedihan dan duka di sana, BUKAN MELIPUT HAJATAN KAWINAN!dzigh
2. Memberikan pertanyaan2 bodoh. "Bagaimana perasaan ibu/bapak karena bencana ini?" Aduh, mbak/mas, anda2 ndak punya hati nurani yak? Ndak pernah ngalami bencana/musibah yak? Mbok ya kalo nanya itu pake hati nurani....DAN OTAK!halah..

Bagiku, 2 'dosa' di atas sudah menunjukkan bahwa ADA YANG SALAH DENGAN (PROSES PEREKRUTAN) REPORTER TV di Indonesia! Anda masih ingat dengan proses perekrutan di Trans TV tempo hari kan? Aku pikir hal2 seperti itu yg menunjukkan (sedikit banyak) proses rekrut reporter di Indonesia terkesan asal2an. Hal ini juga dikomentari di plurkku.

Aku menjadi berburuk sangka, jangan2 kriteria lulus menjadi reporter 'cuma' WAJAH CANTIK SAJA?

Foto dari sini.

Moral story:
- jadi reporter mesti tahu situasi kondisi
- jika sedang melaporkan kesedihan/duka, terutama bencana, jangan senyum dong! anda mungkin cantik/ganteng, tapi ga ada manfaatnya senyum di saat seperti itu, malah bikin pengen nggebukin!
- nampaknya mesti ada standar proses perekrutan reporter yg 'baik' dan 'benar'
- foto Kania dan Metia tidak ada hubungannya dg reporter2 yg tidak berempati lho!