Seperti yang aku sempat tulis kemarin, pemilihan menteri di kabinet SBY (terutama kali ini) terasa begitu kental dengan aroma reality show-nya. Dan seperti halnya acara reality show, selalu saja ada pihak2 yg kalah (atau dikorbankan?).

Pada acara reality show kali ini, yg menjadi 'korban' adalah calon Menteri Kesehatan, Prof dr Dr Nila Juwita F Moeloek. Pada pengumuman menteri (yg sudah fix) oleh SBY, nama ibu ini tidak disebutkan, malah digantikan oleh orang lain, yang secara mendadak dipanggil ke Cikeas. Tentu saja, hal ini membuat ibu ini merasa masygul dan sedih.

Beberapa berita terkait yg sempat aku baca:
- Nila Juwita: Saya Jadi seperti Disepelekan...
- Alasan Tidak Terpilihnya Nila Dipertanyakan

Meskipun ada artikel 'bantahan' yakni Presiden Beberkan Kenapa Tidak Jadi Pilih Nila Moeloek dan Sebenarnya, SBY "Jatuh Hati" dengan Nila Moeloek Sejak 2004, toh saya sepakat dengan mayoritas komentator di kedua artikel itu, bahwa TIDAK SEHARUSNYA REALITY SHOW INI DITAYANGKAN! Bagi orang normal, mendapat pemberitaan dan menjadi sorotan yg bertubi-tubi, apalagi dalam tingkatan menjadi calon menteri, sudah terbayang beban berat yg dia pikul (kecuali jika koruptor ato penjahat2, yg sudah kehilanganya hati nurani). dzigh

Ah, sudahlah bu Nila, anda mungkin seharusnya bersyukur tidak terpilih menjadi Menteri Kesehatan. Aku yakin ALLOH SWT menyelamatkan anda dari bencana yg lebih besar lagi jika anda mendapat jabatan itu. Tetep sabar ya bu?!happy

Foto dari Kompas.

Moral story:
- reality show itu tidak selamanya mendidik/bagus
- seorang pemimpin negara hendak jangan mempermainkan perasaan orang, apalagi ini diliput begitu luas oleh media
- jika tidak jadi mendapat jabatan, tidak perlu susah. bisa jadi itu lebih baik, karena diselamatkan dari bencana yg lebih besar