Pertama-tama, aku ucapkan selamat lebaran 1430 H, maaf lahir dan batin. Maaf juga karena aku sudah ndak update blog selama beberapa waktu, sehingga mengecewakan para pembaca.*halah, lebay*

Nah, artikel terbaru usai lebaran ini adalah review film Get Married 2. Kami menonton film ini sore ini. Buset dah, kami mendapatkan bangku terdepan saking penuhnya para penonton film GM 2 ini! Tapi apa boleh buat, daripada mesti mengantri lagi sekian lama, kami pilih untuk nekad menonton.

Tepat jam 14.05WIB, kami masuk ke bioskop. Wah, mayoritas penonton adalah ABG! Pada akhirnya, aku merasa terganggu sekali dengan para ABG ini, soalnya seringkali ketawa di saat adegan yg seharusnya ndak lucu! Pengen banget nggebukin ABG2 ndak jelas ini!

Ok...ok...cukup sudah ngomel2nya. Mari kita bahas film GM 2 ini!

Film GM 2 ini merupakan lanjutan dari film Get Married pertama. Meski demikian, terdapat pergantian pemain utamanya. Jika di GM 1, tokoh Rendy diperankan oleh Richard Kevin, maka di GM 2, tokoh ini diperankan oleh Nino Fernandez. Tokoh2 utama lainnya masih tetap sama, Nirina Zubir, Aming, Ringgo, dan Desta.

Di film GM 2 ini dikisahkan pernikahan Rendy dan Mae tidak berjalan dengan mulus. Selama 4 tahun pernikahan, mereka masih belum dikaruniai anak. Penyebabnya si Rendy yg diceritakan sering rapat sehingga si Mae menjadi istri yg jablay (jarang dibelai). Hal ini membuat ortu Mae (Jaja Miharja&Meriam Bellina) gelisah karena selain mereka sudah mendambakan kehadiran cucu (dari anak satu2nya), mereka kesal dg omongan tetangga.

Akibatnya Mae pulang ke rumah ortunya. Ketika Rendy menyusul dan ingin bareng ama Mae, si Jaja memperbolehkan dengan syarat RENDY MESTI BISA MENGHAMILI MAE!ngakak guling2

Nah, mulai dari sini adegan demi adegan lucu bergulir. Beberapa adegan lucu nampaknya tidak cocok untuk dikonsumsi anak di bawah umur, terutama adegan (lucu) tentang Mae dan Rendy yang hendak berhubungan suami istri!halah.. Ada juga adegan-adegan slapstik, yang garing-garing gitu deh. Tapi itu semua lumayan tetutupi dengan cerita yang menarik, meski di beberapa bagian nampak sekali ceritanya menggantung dan kedodoran, jika tidak ingin disebut (terlalu) memaksa.

Mae sendiri mengancam cerai karena memergoki Rendy sedang berdekatan dengan seorang perempuan, bahkan dalam suasana yang cenderung ke arah selingkuh. Rendy sendiri berusaha menjelaskan namun ortu Mae sudah terlanjur hilang feeling.

Lantas, bagaimana cerita selanjutnya? Bisakah Mae hamil? Apakah pernikahan keduanya bisa diselamatkan?

Well, menonton sendiri aja yak? Nilai 7,5 aku berikan untuk film ini. Cukup menghibur.

Moral story:
- pernikahan beda 'kasta'/golongan bisa mengakibatkan keributan dalam rumah tangga
- dibutuhkan kebijakan dan kesabaran dalam rumah tangga
- Hanung cukup teliti dan detail dalam memfilmkan kehidupan masyarakat kecil (pinggiran)