Beberapa waktu lalu, aku pernah menulis keterkaitan antara nasionalisme dengan bendera. Sudah menjadi sebuah penilaian 'umum', bahwa memasang bendera merah putih merupakan salah satu cara menunjukkan nasionalisme. Sedikit banyak hal ini memang ada benarnya. Melihat sang merah putih berkibar, terlebih bagi para atlet maupun para peserta lomba sains yg berhasil memenangi sebuah lomba, akan terasa dan timbul semangat patriotik dan jiwa nasionalismenya.happycool

Nah, kali ini aku hendak menampilkan artikel yg serupa tapi tak sama. Masih nasionalisme juga, tapi kini 'dikaitkan' dengan film dan lagu kebangsaan.

Ada apa gerangan dg film dan lagu kebangsaan?

Menjelang Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2009, 3 hari lagi, ada 2 peristiwa yg 'menarik' untuk dicermati. Yang pertama, munculnya (kembali) film nasional dg tema perang di masa kemerdekaan RI. Film ini berjudul Merah Putih. Aku belum sempat nonton film ini, yg baru diluncurkan tgl 13 Agustus 2009 kemarin. Namun, beberapa cuplikan sudah aku lihat.

Errr...terus terang, buatku, film ini tidaklah cukup memperlihatkan nasionalisme. Alasannya barangkali simple. Banyak pihak asing yg terlibat dalam pembuatan film itu. Denger2 sih ada kru film dari Hollywood yg diikutsertakan dalam pembuatan film ini. Bahkan tidak main2, para kru film yg diajak itu mempunyai pengalaman di film2 box office lho!

Lho, bukannya sah2 saja melibatkan orang asing? Memang, sah2 saja...tapi hati kecilku kok menolak hal ini yak? Ciee...xixixi..xixixi... Film Nagabonar (1 dan 2) tidak melibatkan sineas asing, toh tetep bagus juga! Apalagi Nagabonar 2, mantap dah!

Kedua, para pemainnya. OMG...bintang2 blasteran diminta tampil dan menjadi tokoh dalam film perang kemerdekaan! JAMAN KEMERDEKAAN DULU, MANA ADA BLASTERAN2 YG IKUT BELA NEGARA?? KECUALI EMANG ORANG BULE YG HATINYA TERPAUT KE INDONESIA! Menyaksikan Darius menjadi pejuang kemerdekaan adalah sebuah lelucon satir dan cenderung sarkasme buatku.whew! Ok, Lukman Sardi masih cukup 'pribumi'.

Toh, selain itu melihat pakaian para pejuang kemerdekaan, kaos putih kinclong (emangnya jaman kemerdekaan sudah ada larutan pemutih yak? xixixi..xixixi...) kian membuat film kemerdekaan ini lebih menjurus ke film perjuangan-komedi. Upsss...gigit2 jari

Ok, cukup sudah perbincangan mengenai film. Yg jelas, aku MALAS NONTON. Tapi ITU BUKAN BERARTI AKU TIDAK NASIONALIS LHO!siyul2

Peristiwa kedua yg menarik adalah TIDAK DINYANYIKANNYA LAGU KEBANGSAAN pada saat pembukaan rapat paripurna DPR.

Nah, kalo menurutku, hal ini LEBIH TIDAK NASIONALIS daripada FILM MERAH PUTIH!

Adalah hal yg 'aneh' dan terlalu mengada-ada jika sampai lagu kebangsaan tidak dinyanyikan dalam acara se-penting rapat paripurna DPR. Alasan ada kekeliruan adalah alasan yg menurutku tidak pantas dikeluarkan oleh pimpinan DPR.

Melihat 2 peristiwa di atas, aku masih memandang positif film Merah Putih daripada peristiwa di rapat paripurna DPR. Setidaknya, Hasjim masih memiliki nilai kebangsaan, patriotik, dan nasionalisme yg dia wujudkan dalam bentuk film, walau dibuat dg bantuan orang asing. Sementara para anggota DPR? Silakan nilai sendiri, xixixi..

Mari kita nyanyikan lagu Indonesia Raya.


Gambar adegan film Merah Putih diambil dari sini.

Moral story:
- nasionalisme jangan dipandang sempit
- bentuk nasionalisme bisa diwujudkan dalam berbagai macam tampilan
- semoga anggota DPR Indonesia periode 2009-2014 lebih baik lagi kualitasnya