Sebenarnya aku tidak ingin menulis artikel ttg politik, terutama pilpres, di blog ini. Tapi apa daya, pilpres adalah bagian dari hidupku yg mesti aku lalui, jadi suka atau tidak yaaaa aku tulis deh.melet

Usai pemilihan anggota legislatif, sebenarnya aku berharap 'everything is gonna be ok' saat pilpres. Namun harapanku ini tidak terwujud. Penyebabnya macam-macam, namun yg aku ingat (dan bikin aku jengkel) adalah kasus2 berikut:

1. Sikap PKS yg MEMALUKAN! Terus terang, aku merasa menyesal memilih PKS di pemilu kali ini. Sikap para pengurus yg (menurutku) terlihat sekali haus akan kekuasaan, terlihat saat PKS yg semula akan menjadi oposisi gara2 tidak diikutsertakan SBY dalam memilih cawapres, tiba2 berubah hanya dalam hitungan jam, menjadi pendukung SBY!


2. Pernyataan Tifatul ttg jilbab. Ketika jurkam JK-Wiranto mengangkat isu jilbab sebagai 'tanda taat beragama', Tifatul menyatakan bahwa jilbab itu tidak lain hanyalah sebatas kain. Yaahhh...mengecewakan! Aku tidak tahu kenapa pimpinan PKS ini seolah-olah menganggap enteng masalah jilbab. Apa karena istri dari SBY dan Boediono tidak berjilbab sehingga menjadi 'panas'?

3. Pemblokiran iklan Mega-Prabowo.

4. Iklan dan doktrinisasi mengenai pemilihan presiden 1 putaran. Salah satu yg bikin aku mual adalah hasil survei ini. Terlalu gegabah dan dini dengan menyatakan bahwa pilpres cukup berlangsung 1 putaran dan SBY akan menjadi pemenang. Ok, dari hitung2an kasar, SBY akan didukung lebih dari 50% pemilih, jika merujuk dari hasil pemilihan anggota legislatif kemarin. Tapi ingat, BELUM TENTU mereka akan menurut pada partainya! Terlebih buatku yg kecewa dg sikap PKS! Lagipula ini lembaga survei apa ga belajar dari pengalaman pemilihan gubernur DKI? Kalo mereka ga tahu atau tidak becermin dari pemilihan gubernur DKI, menurutku mereka tidak pantas (mengaku) jadi tukang survey.siyul2

5. Pernyataan Andi Mallarangeng bahwa orang Bugis tidak layak menjadi presiden. Well, ini untuk kesekian kalinya orang2 partai Demokrat berlaku sombong dan asal bunyi dalam mengeluarkan pernyataan. Sebelumnya, ada pernyataan Ruhut yg berbau SARA. Herannya, tidak ada tindakan (oleh badan pengawas pemilu) terhadap pernyataan2 yg dikeluarkan oleh mereka. TAKUUUTT PAAAAKKK?? GA USAH JADI ANGGOTA PENGAWAS DEEEHHH... ATAU MAU NGELES BAHWA ANDA2 HANYA NGAWASI TAPI GA AMBIL TINDAKAN? Ah, aku lupa kalo kita ada di Indonesia.siyul2

Yg jelas, aku ga akan milih SBY, hehehe...

Moral story:
- Partai (yg ngaku) Islam malah bertindak tidak Islami
- Politik di Indonesia bikin miris hati
- Jika pernyataan2 yg berkonotasi 'kampanye hitam' muncul dari orang biasa, maka akan ditindaklanjuti (baca: polisi akan bertindak terhadap orang itu). tapi kalo pernyataan2 muncul dari orang2 'penting' (baca: kenalan atau pejabat) maka masyarakatlah yg bodoh dan mesti memaklumi pernyataan para pejabat itu.