Sebagai sebuah restoran yang berlokasi satu gedung dengan sebuah hotel ternama dari Amerika Serikat, Syailendra mempunyai reputasi yang patut diacungi jempol. Hal ini adalah hal yang wajar karena restoran ini akan sering dikunjungi oleh para tamu hotel, yang notabene orang-orang cukup penting.

Menemukan lokasi Syailendra tidaklah sulit. Bahkan bisa dikatakan, sangat mudah! Anda tinggal sebut nama Plaza Mutiara atau Hotel Marriott, maka di situlah anda akan temukan restoran Syailendra. Lokasinya yang di Mega Kuningan, memudahkan kita untuk mencapainya, meski kemacetan jalan cukup lumayan di saat makan siang dan jam pulang kantor.

Jika berjalan kaki, maka dari saat memasuki Plaza Mutiara, anda akan diperiksa. Harap maklum, hotel ini pernah menjadi korban ledakan bom yang menelan korban cukup banyak. Usai pemeriksaan, anda tinggal memasuki gedung di depannya, lalu belok kiri. Maka anda akan temukan restoran Syailendra ini.

Ada 2 jenis tawaran makan yang tersedia di restoran ini. Yang pertama adalah ala buffet. Jadi dengan membayar nominal tertentu, kita makan sepuasnya. Yang kedua adalah makan sesuai pesanan kita dari menu (jika tidak salah, istilahnya a la cart). Aku ambil yang kedua, karena kalo makan ala buffet, kayanya biasa saja menu2nya. Karena pada umumnya, menu yang disajikan di buffet adalah menu-menu yang dibuat/dimasak secara massal. Jadi, aku masih berpikiran soal rasa, menu buffet cenderung biasa saja.

So, aku diberi 2 jenis menu, yakni menu makanan dan menu minuman. Sayangnya, aku tidak sempat mendokumentasikan menu minuman. Jadi berikut ini adalah menu-menu yang bisa anda pilih untuk disantap.


Aku pilih minuman, entah aku lupa namanya. Kemudian, usai membolak-balik menu, akhirnya aku putuskan untuk memesan 2 porsi makanan. Yang pertama, masakan Thailand, Tom Kha Gai. Lalu untuk masakan Indonesia, aku memilih Sup Buntut, sebagaimana jawaban dari salah seorang staf Syailendra ketika aku bertanya menu spesial Syailendra.

Seraya menunggu pesanan datang, seperti biasa, aku melakukan foto2 di sekitar tempat aku duduk. Dari hasil pengamatan, mayoritas customer adalah orang kantoran, entah itu makan siang atau juga barangkali sedang lobby bisnis. Jika melihat ‘level’ Syailendra (terutama harga2nya), para orang kantoran yang makan siang di sini pastinya mempunyai gaji yang cukup besar.


Aku perhatikan, untuk penyusunan meja makan, Syailendra sudah mempunyai standar. Anda bisa lihat pada gambar, standar penyimpanan dan penyajian perlengkapan makan sudah ditata sedemikian rupa. Standar Eropa/Amerika, setahuku sih. *halah, sok tahu banget, xixixi..* Di sebelah kiri ada 2 garpu, garpu besar dan kecil. Garpu besar biasanya digunakan untuk makan (utama), sementara garpu kecil biasanya untuk makan salad ataupun makanan lain (bukan utama). Sementara di bagian depan disediakan sendok dan garpu. Sedangkan di sebelah kanan ada 2 pisau, pasangan dari garpu di sebelah kiri.

Seperti biasa, minuman akan selalu hadir lebih dahulu. Aku sruput minuman ini. Wah, segar sekali minuman ini!ngiler

Tak berapa lama kemudian, datang roti, sebanyak 3 buah dan 3 jenis, plus dengan 2 mentega kecil. Roti yang disajikan berupa roti jahe(?), roti biasa, dan sejenis roti unyil. Aku santap ketiganya, ndak terlalu lama, soalnya ukurannya kecil. Untuk roti jahe, aku tidak makan sampai habis. Rasanya agak aneh di lidahku.

Seorang staf Syailendra datang dan membereskan 2 pisau di kanan dan 2 garpu di kiri. Kemudian dia menambahkan sendok kecil (sendok sup, setahuku). Hmmm...berarti si Tom ini modelnya sup, sehingga disediakan sendok kecil.

Cukup lama juga menunggu kedatangan si Tom ini. Dan akhirnya munculnya bersamaan dengan sup buntut. Waahhh…tampilan keduanya benar-benar menggugah selera. Terlebih lagi setelah menunggu kedatangan keduanya sekian lama.ngiler

Hmmm…adalah pilihan yg sulit antara si Tom dan si Buntut, yang hendak disantap lebih dahulu. Namun, akhirnya aku memutuskan untuk melahap si Buntut dahulu. Alasannya, jika si Buntut sudah dingin, rasanya tidak akan enak, terlalu banyak lemak. Selain itu, si Tom juga terasa panas banget. Jadi aku biarkan dahulu si Tom, sambil nunggu dia agak2 dingin.

Sajian sup buntutnya oke banget. Kita mulai dari nasinya, yang sayangnya disimpan di mangkok, bukan di piring. Hal ini membuat aku kesulitan untuk menyimpan tulang buntut di sebelah nasi. Walhasil aku simpan di piring tempat melinjo. Di sana baru aku pisahkan daging dari tulangnya.

Selanjutnya, aku tambahkan kuah sup buntut, dan aammmm….daging buntut+tomat+nasi aku suapkan ke mulut. Waahhh…uenak buanget lho! Dagingnya sangat empuk dan tidak keselip di sela2 gigi. Kuahnya juga ok, pas banget lah!ngiler Dagingnya aku lihat cukup ok, baik ukurannya maupun daging yang tersedia. Sengaja aku keluarkan dari mangkok, karena aku kesulitan untuk mengabadikan daging2 tersebut yang sedang 'berendam' di dalam kuah sup buntut.

Sayangnya, kentangnya kurang matang, jadi agak keras. Tidak terlalu mengganggu sebenarnya, tapi harapanku sebenarnya kentangnya dimasak cukup matang sehingga bisa dikunyah dengan mudah.

Total daging buntut yang disediakan sebanyak 4 potongan. Hmmm...bisa dibilang tidak mengecewakan untuk harga yang cukup 'mencekik'. Terlebih lagi buntut yg disediakan CUKUP BANYAK DAGINGNYA.ngiler Jika di kaki lima atau di tempat lain, kadang jumlah buntutnya bisa mencapai 6 potong, tapi itu LEBIH BANYAK TULANGNYA.melet

Butuh waktu 15 menit untuk menghabiskan sup buntut ini. Selain menikmati tiap suap yang aku masukkan, juga agar si Tom ini bisa segera disantap.

Selesai makan sup buntut, diselingi dengan minum jus. Aahhh…sedaaapppp.ngiler

Ok, selanjutnya si Tom yg aku sosor. Hmmm…kuah kaldunya enak banget! Asem2 manis! Si Tom ini terdiri dari ayam, jamur, bawang merah dan bawang putih. Kaldunya entah dari campuran apa, tapi aku lihat lemaknya cukup banyak juga, seperti mentega yang mencair.ngiler

Cukup lama juga menyantap si Tom, terlebih karena menu sup buntut ini sebenarnya sudah membuat perutku terisi cukup banyak. Jadi, aku agak2 santai saja makan.

Total jenderal, aku butuhkan waktu hingga 1 jam untuk menyantap kedua menu ini. Selain tidak terlalu buru-buru, menunya cukup mahal sehingga perlu lebih dinikmati.

Biaya yang mesti dikeluarkan untuk semua menu ini, errr...cukup lumayan lah. Setidaknya jika dibandingkan dengan harga sup buntut pada umumnya, jelas berlipat-lipat, hihihi...

Moral story:
- makan di restoran berlokasi di hotel bintang lima, mesti berpakaian rapi. Ndak boleh makan pake sendal jepit, karena makan itu mesti pake tangan. Wakakka...gariing ah, hihihi...
- menu-menu yang disajikan cukup bervariasi, namun tidak banyak pilihan untuk ukuran restauran berbintang
- harga menu cukup mencekik, jadi makan di sini bukan solusi yang baik untuk mentraktir, hihihi...