Sea food atau makanan laut merupakan salah satu menu makanan yang menjadi favorit para pecinta kuliner. Tidak terkecuali aku, apalagi Wify yang nge-fans berat dengan namanya sea food. Namun, mendengar nama Wiro Sableng 212 sebagai tempat makan sea food, terus terang baru kali ini kami dengar.

Tapi, itulah kenyataannya. Kami dapati bahwa sebuah tempat makan di daerah Kelapa Gading mempunyai nama Wiro Sableng 212. Aku yakin anda pernah mendengar nama Wiro Sableng 212, sebuah tokoh rekaan karya Bastian Tito, yang pernah begitu terkenal di tahun 1980 akhir hingga 1990an.

Untuk mencapai tempat makan Wiro Sableng 212, tidaklah sulit. Yang penting anda tiba di Kelapa Gading. Kami mempunyai rute sebagai berikut untuk mencapai tempat makan Wiro Sableng ini. Dari Cempaka Putih kami mencapai Kelapa Gading dan tiba di Boulevard Barat. Dari jalan Boulevard Barat, kami tinggal susuri jalan tersebut hingga mencapai pertigaan, mengambil arah ke Bekasi. Maka anda akan langsung berada di jalan Boulevard Raya.

Dari situ, anda tidak perlu terlalu jauh menempuh jalan Boulevard Raya, karena tidak sampai 2 menit (dengan kendaraan bermotor tentunya) anda akan temui papan nama rumah makan Wiro Sableng 212 ini. Oya, aku tidak sepakat bahwa rumah makan Wiro Sableng 212 ini disebut warung, karena bentuk bangunannya lebih permanen dibandingkan dengan warung, yang rata-rata berbentuk tenda di pinggir jalan.

Dari luar, wuiiihh…sudah terlihat kesibukan memasak sea food. Asap yang memedihkan mata terlihat mengepul dengan tebalnya. Namun, asap ini menyebarkan aroma wangi sea food yang dimasak, sehingga kamipun bisa merasakan nikmatnya wangi sea food yang dimasak, heheh.

Masuk ke dalam rumah makan WS 212, kami dapati sebuah ruangan yang cukup luas. Dengan jumlah meja panjang sebanyak lebih kurang 10 meja panjang, yang terbagi menjadi 2 nomor. Dengan demikian ada 20 grup tamu yang bisa dilayani di sini. Dalam 1 meja terdapat 4 kursi. Total jenderal 80 tamu bisa dilayani.

Tidak menunggu lama, seorang staf WS 212 menghampiri kami, menyodorkan sebuah menu. Hmm…kami baca menu yang ada, akhirnya kami putuskan memesan 1 ekor ikan ayam-ayam (aneh, ikan kok namanya ayam ya? Heheh) dan 1 ekor ikan kue (yang ini tidak kalah anehnya). Sebenarnya kami pernah makan kedua jenis ikan ini, tapi melihat jenis ikan yang tersaji di menu, nampaknya 2 ikan ini yang ‘layak’ dicoba.

Kami tidak memesan sayur, dengan alasan sayur yang disajikan di rumah makan sea food biasanya tidak terlalu istimewa.

Sebenarnya kami ingin memesan kepiting, tapi keinginan itu kami batalkan karena satu dan lain hal.

Akhirnya setelah menunggu sekitar 20 menit, datang juga pesanan kami. Ternyata ikan yang disajikan ukurannya cukup besar! Kedua ikan yang disajikan ternyata kondisinya AGAK GOSONG, namun adanya jeruk nipis ternyata berguna untuk mengurangi rasa gosong yang melekat pada badan ikan.

Daging ikan kue (sebelah kiri) mempunyai bentuk yang lebih mirip dengan ikan kembung. Namun seratnya lebih halus. Sementara ikan ayam-ayam (sebelah kanan) mempunyai bentuk yang lebih menggiurkan. Hal ini dikarenakan adanya lapisan lemak yang nampak di permukaan.

Ternyata menghabiskan kedua ekor ikan ini membutuhkan waktu yang cukup lama, karena ukurannya yang (menurut saya) lebih besar dibandingkan dengan ikan bakar sejenis yang pernah kami makan. Hampir 1 jam untuk menyelesaikan santap seafood ini.

Saat kami membayar, wuiihh…ternyata tidak heran jika kami butuh waktu yang lama untuk menghabiskannya. Di bon yang kami terima, tertulis bahwa ikan kue yang kami makan mempunyai berat 600 gram (lebih dari 1/2kg), sementara ikan ayam-ayam lebih berat lagi, yakni seberat 800 gram! Total jenderal untuk 2 porsi ikan ini, kami habis Rp 96 ribu. Ditambah dengan 1 porsi nasi putih, 1 gelas kelapa jeruk dan 1 gelas jus belimbing, kami menghabiskan Rp 125 ribu rupiah. Sebuah harga yang sebanding dengan ukuran ikan yang kami santap.

Bagi yang ingin makan sea food di sini, mungkin harga yang mesti dikeluarkan bisa disesuaikan dengan besar ikan yang hendak disantap. Saran kami, jika hendak bersantap di sini, coba minta ukuran yang lebih kecil, sehingga biaya yang keluar tidak terlalu mahal. Perkiraan kami, ‘normalnya’ biaya yang dikeluarkan sekitar Rp 40 ribu – Rp 60 ribu tiap orangnya. Itu meliputi 1 porsi ikan bakar ukuran sedang, 1 porsi nasi putih, dan 1 gelas minuman.

Untuk rasa, hmmm….kami bisa katakan rasanya biasa saja. Namun kami cermati, faktor SAMBAL di WS 212 ini begitu istimewa, sehingga walau rasa ikan bakarnya biasa, tapi dengan adanya sambal ini, ikan bakarnya terasa cukup nikmat!

Kekurangan dari rumah makan WS 212 ini adalah TERLALU BANYAK LALAT bersliweran di dalam rumah makan! Akibatnya kami tidak bisa menikmati makanan dengan tenang, karena beberapa kali kami mesti mengibaskan tangan untuk mengusir lalat yang beterbangan.

Untuk kebersihan tempat makannya, kami rasa sudah cukup bersih untuk ukuran tempat makan sea food. Hanya saja di tempat memasaknya relatif cukup kotor, meski kami sempat lihat beberapa staf WS 212 selalu siap sedia membersihkan tempat masak yang berada di luar rumah makan.

WS 212 sendiri, menurut kami cocok untuk dijadikan makan keluarga, ataupun bersama teman. Kami dapati banyak keluarga yang datang untuk menikmati masakan di WS 212.

Waktu bukanya dari jam 11 pagi hingga 11 malam.



Moral story:
- sea food itu tidak kalah enak dibandingkan dengan makanan lainnya
- jangan sungkan bertanya ukuran ikan yang akan disajikan, agar (perut dan dompet) tidak kaget
- wiro sableng 212 saat pensiun jualan masakan sea food