Banyak orang tidak atau belum pernah mencoba makan daging bebek. Banyak alasan yang mereka kemukakan, dari bau amis (anyir) daging bebek, hingga daging bebek itu sendiri yang cukup alot dan sulit untuk dikunyah.

Nah, kedua asumsi itu tidak berlaku untuk bebek goreng pak Djoko. Di warung bebek goreng pak Djoko, kita akan dapati daging bebek yang enak, renyah, tidak berbau amis serta mudah untuk dikonsumsi.

Lokasi warung bebek goreng pak Djoko ini terletak di daerah Petogogan. Untuk mencapai lokasi ini, banyak sekali cara, namun berdasarkan pengalaman kami, tempat ini paling gampang dicari melalui jalan Barito. Dari jalan Barito, anda akan temukan sebuah bundaran, anda ikuti arah ke pasar Blok A. Lalu belok kiri pada belokan pertama, maka anda akan langsung tiba di jalan Petogogan.

Jika anda tersesat mencari jalan ini, tidak perlu khawatir. Banyak tukang ojek dan penjual minuman di sisi jalan yang akan dengan senang hati membantu anda menemukan jalan Petogogan.

Ok, katakanlah anda sudah tiba di jalan Petogogan. Yang anda lakukan sekarang adalah menelusuri jalan Petogogan hingga hampir ujung jalan. Anda akan temukan sebuah papan nama bertuliskan RM Djoko Poetro. Jika anda datang di pagi atau siang hari, anda tidak akan menemukan warung apapun di situ, karena warung bebek pak Djoko ini baru buka jam 17.30 WIB.

Jika anda datang sekitar jam 17.30 WIB, maka dengan mudah anda akan menemukan warung ini, karena adanya spanduk yang terpasang di depan warung.

Saat anda masuk, anda akan melihat stand berjualan yang, menurut kami, cukup bersih. Tidak saja bersih, bahkan kadang stand ini penuh sesak dengan orang yang memesan dan orang yang sedang melayani pesanan.

Tempat makannya sendiri juga bersih, sehingga kita akan bisa menikmati makanan dengan nyaman. Bahkan aku perhatikan, TIDAK ADA LALAT yang beterbangan! Wah, patut ditiru cara pengelolaan kebersihannya.

Pelayanannya pun sangat ok! Tidak sampai 5 menit kami duduk, 2 porsi nasi uduk sudah hadir di meja. DIikuti dengan pesanan minuman kami, berupa jeruk hangat dan teh botol. Dan tidak sampai 10 menit kemudian, datanglah pesanan (pertama) kami, yakni 1 bebek goreng (bagian dada), 1 ati ampela goreng, dan 1 mangkuk sayur asem.

Tanpa dikomando, kami mulai mencicipi masakan-masakan tersebut. Sayur asemnya enak, meski aku dan Wify sedikit berbeda pendapat mengenai tingkat enaknya sayur asam ini. Menurut aku, sayur asamnya sudah cukup mencukupi, karena rasa asam dan pedasnya cukup menyegarkan. Sementara Wify berpendapat bahwa pedasnya kurang. Ok, ok…ini masalah selera, tidak perlu diperdebatkan.

Untuk bebek gorengnya, terus terang kami kecewa berat. Memilih bagian dada TIDAK DIREKOMENDASIKAN, karena dagingnya sangat sedikit! Walhasil kami memesan lagi bebek goreng bagian paha bawah. Dan hhmmm…yummy dan mantap sekali deh! Penuh dengan daging, serta enak untuk dikonsumsi! Ati ampelanya sendiri biasa saja, menurut kami.

Dari sisi daging bebek, memang enak. Hanya saja, sayangnya, bumbunya kurang menyerap. Bahkan sambal yang mestinya menjadi penambah cita rasa, bagi kami berdua kurang ‘nendang’ (atau istilah di tivi, kurang “mak nyus”).

Lokasinya cocok untuk makan2, entah ada yang nraktir ulang tahun atau sekedar mampir. Kami perhatikan, tempat ini tidak saja dikunjungi oleh sekelompok orang (nampaknya mereka berteman akrab), tapi kami lihat juga ada beberapa keluarga (juga membawa anak mereka) untuk bersantap di warung pak Djoko ini.

Tingkat keramaian, hmmm..bisa dikatakan relatif. Namun, jika melihat jumlah kursi serta waktu kunjungan, kami melihat bahwa warung ini akan kian penuh menjelang jam makan malam. Kami datang sekitar jam dan baru meninggalkan lokasi sekitar jam 18.30. Saat kami datang, warung sudah cukup banyak dipenuhi, sekitar 70% bangku sudah terisi. Dan saat pulang, kondisinya lebih penuh. Perkiraan kami sekitar 80-85% bangku sudah terisi.

Masalah harga, hmmm…aku melihatnya setara dengan bebek goreng di tempat lain, yang rata-rata sekitar Rp 10 ribu – Rp 15 ribu/porsi. Di pak Djoko, 1 porsi bebek goreng dijual dengan harga Rp 12 ribu. Sementara ati ampela goreng Rp 3000, demikian juga dengan sayur asem yang dihargai Rp 3000.

Moral story:
- bebek goreng itu enak
- warung bebek goreng punya jadwal yg beda2, harap perhatikan itu!