Televisi. Siapa sih yg tidak kenal dan tidak pernah 'bersentuhan' dengan benda ini? Di banyak tempat, televisi menjadi barang yg dibenci sekaligus disayang. Alasannya macam-macam. Mulai dari benda yg menyebarkan hal2 yg negatif, hingga menjadi teman setia dan tidak pernah protes.

Kotak ajaib, demikian banyak orang menjuluki barang ini. Tapi artikel ini bukan bercerita tentang televisi, secara langsung maksudnya.

Jadi begini, cerita ini berawal dari awal bulan Desember 2008 ini. Yak, bulan dan tahun yg baru ditinggalkan bersama-sama. Satu waktu di hari itu, aku dan Wify sepakat untuk mencoba hidup tanpa menonton tv. Terlalu banyak melakukan filtering terhadap acara tv, membuat kami berdua serasa hidup menjadi terlalu monoton.

Belum lagi acara2 di tv seringkali membuat hidup kami malah lebih diatur tv daripada kami yg mengatur tv. Bagaimana tidak diatur? Jam segini ada acara A, lalu 1/2 jam berikutnya acara B. Itu baru di stasiun tv X. Belum di Y, Z, dst dst.

So, sejak 1 Desember 2008 kemarin, kami BERHENTI TOTAL menonton tv. Cukup sulit awalnya, terlebih karena seperti yg aku tulis di atas, hidup kita (sadar atau tidak) sudah diatur oleh tv, bahkan jam demi jam-nya. Tapi toh, akhirnya 1 minggu pertama berhasil kami lalui dengan sukses.

Tidak adanya sinetron2, baik acaranya maupun iklan2nya, yg selama ini mengganggu ketenangan hidup, mulai menyadarkan kami, betapa enaknya hidup tanpa TV. Belum lagi ga perlu pusing dg infotainment dan gosip2 yg melanda para artis. Kita aja digosipin udah bikin pusing, ga perlu nggosipin orang lah, wakkka...ngakak

Gejolak (halah, bahasanya) mulai muncul di hari ke-11. Mendapati ruang tengah kosong, meski kami berdua beraktivitas, mulai mengusik perasaan kami berdua. Menyetel radio, mendengarkan berita dan lagu dari kotak yg (tidak lagi) ajaib (lainnya) malah membuat kami seperti orang ndeso. Maksudnya, hidup di pedesaan, yg listrik belum menjangkau, sehingga setiap kegiatan mesti ditemani radio. Padahal, kami berkegiatan tidak kalah 'boros' menggunakan listrik. Wify nyetrika, aku ngeblog. Kalo mau dibilang back to nature, yaaa...ndak tepat juga. Apalagi disebut kembali ke peradaban pre-historik. Setidaknya, kami masih pake baju dan celana, jadi ndak seperti Pithecan-pithecan itu lah.ngakak

Toh, kami berhasil juga melalui 20 hari tanpa televisi.

Menginjak 10 hari terakhir, ketika puasa hendak selesai...eh, salah, maksudnya ketika bulan Desember sudah hendak habis, mulailah terjadi hal-hal yg tidak diinginkan:
1. Kalo makan di luar, selalu nyari tempat makan dan ruang duduk yg dekat televisi.ngakak
2. Browsing malah cari internet tv.
3. Kami mulai rada2 out of date untuk berita2. Internet sebenarnya solusi paling handal dan lebih ok. Tapi kalo si flash sedang jebot, yaaa...gimana ya, sama aja, out of date lah.

Akhirnya ya sudah...mulai 1 Januari 2009, kami berinteraksi lagi dengan televisi. Menonton acara2, namun dengan filter yg sudah lebih baik, setelah 'dibersihkan' selama sebulan.

Oya, anda INGIN TAHU, kenapa kami berdua BEGITU KUAT BISA TIDAK MENONTON TV? Simple saja, tv kami rusak per 1 Desember 2008 itu.ngakak Dan sekarang sih sudah beli tv dan dvd player baru, wakakak...ngakak

Moral setori: ga nonton tv itu butuh perjuangan berat, kecuali tv-nya emang matek!!ngakak